Rencana yang Batal Terlaksana

Maraknya penipuan melalui handphone yang sering terjadi akhir-akhir ini membuat saya membuat saya berimajinasi. Saya bembayangkan bagaimana jika suatu saat saya yang ditelpon para penipu itu. Maka rencana saya, saya ceramahi (baca : omeli) si penipu itu dan akan saya bilang padanya bahwa dia sedang melakukan perbuatan bodoh yang sebenarnya merugikan dirinya sendiri dan dia harus bertaubat. Begitulah rencana saya.

Seperti halnya waktu itu bapak kost teman ditelpon orang gila itu jam 2 dini hari yang mengabarkan bahwa anaknya kecelakaan. Karena si bapak itu orangnya santai, maka justru dengan santai beliau menceramahi si penelpon. Dan si penelpon justru minta maaf.

Lain halnya dengan teman kantor saya. Pagi-pagi ditelpon nomer tak dikenal sambil menangis meraung-raung, “Mama-mama tolong aku, aku dipenjara, aku habis nabrak orang!” Teman saya itu yang sedang bersama ketiga anaknya langsung menyadari bahwa yang menelponnya itu pasti orang gila dan langsung dia jawab, “Rasakan!” Kemudian ‘klik’ telpon dimatikan.

Dan beberapa hari yang lalu, ternyata imajinasi saya tentang hal ini terjadi. Saat ini kebetulan saya sedang berurusan setidaknya dengan 148 orang yang mana orang itu jam berapa pun bisa menghubungi saya. Dan karena saking banyaknya (menurut saya) kadang saya belum sempat menyimpan nomer mereka. Sering juga mereka menghubungi saya dengan nomor baru.

Pagi itu, saya baru selesai menemui beberapa petugas. Saat saya hendak meneruskan perjalanan, tiba-tiba ada nomer baru yang memanggil ke nomer Simpati saya. Dengan khusnudzon, saya piker dia salah seorang petugas saya.

“Halo, maaf ini dengan siapa?” sapa saya

Tidak ada jawaban dan saya hanya mendengar suara tidak jelas di dalam telepon. Saya ulang pertanyaan saya beberapa kali. Dan justru yang terakhir saya baru sadar kalau itu orang menangis. Haha. Tiba-tiba suara berubah.

“Halo selamat siang. Saya dari kantor kepolisian..” suara itu berganti dan tiba-tiba langsung melumpuhkan pertahanan saya. Suara menangis barusan memang agak mirip dengan suara ibu. Pikiran saya lalu teringat pada April 7 tahun silam. Saat kakak saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan tiba-tiba tetangganya datang memberitahukan ke rumah. Mendadak kaki saya lemas, hati saya seperti mengecil, dan saya langsung gemetar. Saya takut, jangan-jangan terjadi sesuatu lagi terhadap keluarga saya.

“Maaf ini dengan siapa saya bicara?” Lanjut sepersekian ratus detik kemudian. Pertanyaan ini langsung menyadarkan saya bahwa orang yang menelpon ini adalah orang gila. Namun ketakutan saya di awal belum sepenuhnya hilang. Kekagetan saya dan rasa dibohongi kemudian berubah menjadi emosi bagi saja. Ditambah keahlian saya adalah mengomel, jadilah saya sangat kasar bicara pada orang itu.

“Lha anda mau bicara dengan siapa?” Tanya saya sambil membentak dan nada tinggi.

“Iya ini dengan siapa saya bicara?” Orang gila itu bicara dengan nada juga tinggi.

Saya membentak lagi lebih kasar.

“ini saya dari kepolisian!” katanya lagi

“Dari kepolisian mana? Jawab!”

“Ibu punya anak, tidak?”

“Saya punya!” jawab saya kasar. Padahal bapaknya saja belum ketemu, ahaha

“Nama lengkap anak ibu siapa?”

“Lha di situ identitasnya siapa?”

“Iya udah bu ini diurus di kantor saja.”

“Iya! Kantor polisi mana? Saya ke sana sekarang! Jawab!!!” kasaar sekali saya bicara waktu itu.

Lalu ‘klik’ telpon dimatikan.

Saya masih gemetar setelahnya dan beberapa detik kemudian, saya baru ingat bahwa dulu saya punya rencana untuk menasihati orang bodoh dan gila itu jika dia menelpon saya. Yiah, ternyata rencana saya batal terlaksana. -__-

Ah negeriku yang sedang sibuk, makin banyak yang minta diurus dan disayang, makin tidak jelas. Haha. Orang-orang bodoh penipu macam itu hanya menjadi outlier saja, enaknya diapakan ya? Menambahi kerja pak polisi saja, sampai mungkin tak dikerjakan karena pekerjaan palisi juga sudah banyak. Tapi saya belum pernah dengar berita soal orang-orang bodoh itu yang ditangkap polis? Yup, karena saya juga jaraaaaaaaang sekali nonton tipi, haha!

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah. Bookmark the permalink.

3 Responses to Rencana yang Batal Terlaksana

  1. utie89 says:

    😆

  2. fralfath says:

    hohoho.. kirain tulisannya tentang apa cz judulnya “rencana yang batal terlaksana” haha
    btw, pernah kejadian serupa. Sebuah panggilan telepon berasal dari henpun ayah saya. Karena ayah menggunakan telpon untuk sms saja (tidak bisa bertelepon krn gangguan pendengaran), otomatis orang yg dikenal mengetahui bagaimana menghubungi ayah saya semestinya. Hingga akhirnya, sy lah yg menerima panggilan itu krn merasa itu adalah panggilan penting krn lewat telpon. Hingga ketika sy berujar “maaf, saya akan menyampaikan pesannya”. “Kalau begitu berikan telponnya pada bapak nya” kata si penelpon. wah ni orang berarti orang asing yang mekso dan nyolot rupanya. Hingga sampai akhirnya dia yg frustasi krn g bisa bicara langsung pada si empunya telpun. Wah benar2 mencurigakan dan bermaksud tertentu😀

  3. Pingback: Saya Kena Tipu! Anda Jangan Jadi Yang Berikutnya! | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s