Berawal

Waktu yang menurutku berlalu begitu cepat bagai air yang mengalir deras di selokan usai hujan lebat, telah mengantarkan manusia di seluruh dunia pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dan tak lama lagi bulan yang penuh hikmah ini akan berlalu. Kembali rasa sedih bercampur sesal memenuhi hatiku. Sedih lantaran sebentar lagi akan berpisah dan tak ada jaminan tahun depan bisa bersama lagi. Sementara sesal itu tak lebih karena terlalu banyak waktu yang berlalu sia-sia. Minimal tanpa do’a dan mengingat-Nya. Waktu yang hanya terisi dengan kesibukan-kesibukan palsu. Sesal seperti tahun lali yang sama sekali tak ingin kuulangi.

Namun kini aku jadi teringat sesuatu yang hampir selalu terjadi di ujung Ramadan hampir di seluruh masjid di Indonesia. Kupikir di setiap masjid seusai shalat ied, sepertinya selalu ada yang kehilangan sandal. Tanpa penelitian yang sesuai dengan jalur dan prosedur  sebelumnya, saya memperkirakan  rata-rata setiap di masjid ada Lima orang yang kehilangan alas kaki mereka. Dan kesimpulan sporadis yang tercipta sebagian besar orang adalah terdapat pencuri sejumlah orang yang kehilangan alas kaki.

Dan itulah adalah alasan saya menulis kali ini. Saya pikir ada hal yang tak terpikirkan oleh banyak orang. Yang mana hal itu akan saya coba untuk meluruskan kesimpulan sporadis yang tercipta tersebut.

Menurut saya, bisa jadi hilangnya banyak sandal di masjid seusai sholat ied adalah berawal dari kepikunan seorang saja. Dia yang asal memakai sandal milik orang lain. kemudian ia yang kehilangan mengambil sandal lain yang minimal sama baiknya dengan sandalnya yang hilang. Tentu, dia menyebabkan orang lainnya kehilangan. Dan begitu seterusnya. Hingga ada banyak orang yang kehilangan. Demikianlah, bisa jadi begitu banyak orang kehilangan sandal karena berawal dari kepikunan seorang saja.

Dan analog dengan keberuntunan sandal yang hilang, saya pikir ada banyak hal lain yang kita alami dalam kehidupan. Ketika diri ini berada di posisi yang kehilangan sandal yang entah urutan ke berapa, maka seharusnya ada solusi yang berawal dari diri sendiri. Tak sekedar mencari posisi aman dan membiarkan kekacauan terus berlanjut. Tak selayaknya meminta orang lain jika diri sendiri masih enggan memulai (kebaikan) padahal sebenarnya sangat bisa. Agar keberuntunan ketidakteraruran itu bisa diselesaikan.

*Beginilah tulisan yang tertulis oleh orang yang sedang meracau  balau😀
Cheers ^__^
Dyah S

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Others and tagged . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s