Mungkin Saja

Seingat saya, semenjak saya semester akhir kuliah saya tak lagi memberi uang tanda belas kasihan pada pengemis. Baik itu di kereta, di bus, di terminal, di pasar, di jalan, atau yang datang ke rumah. Karena sejak saya mengetahui bahwa yang miskin memang mental mereka.

Sampai suatu hari saya coklit PPLS dan melihat sendiri ternyata ada kampung yang  isinya nenek-nenek janda yang  memang tidak ada yang mengurus sehingga mau tak mau dia harus meminta. Bahkan ada yang sudah tak mampu berjalan sehingga si nenek mengesot sampai ke pasar.😥

Saya pernah menulis soal peminta-minta di sini dan sini.

Dan kesimpulan saya sementara ini pada saat ini adalah :

  1. Saya cukup mengatakan ‘tidak’ (tanpa maaf) jika pengemis itu masih muda dan terlihat sehat wal afiat.
  2. Saya akan ajak makan atau saya beri makanan jika pengemis itu adalah nenek-nenek atau kakek kakek yang tua renta. Jika ia menerima berarti dia memang butuh untu makan. Tapi jika dia menolak apalagi mengomel berarti memang sudah menjadi pekerjaanya sejak muda.
  3. A. Jika pengemis itu anak-anak dan keadaannya memungkinkan, saya akan duduk di sampingnya dan sedikit men-training dan memotivasinya agar dia mau berubah. Soal dia nantinya berubah atau tidak, itu sudah urusan dia dan Dia. Saya hanya berusaha ‘menggunakan lisan’ ini mengubah keadaan. Karena sejauh ini saya belum bisa ‘menggunakan tangan’. Mungkin saja pertemuannya dengan saya Allah memberinya semangat, hehehe

B. Saya akan kembali pada poin 1 jika pengemisnya anak-anak sementara kondisinya tidak memungkinkan.

Beberapa hari yang lalu saat saya ditraktir buka puasa oleh seorang teman, tiba-tiba anak peminta yang mendekati meja makan kami. Saya sudah katakan ‘tidak’ padanya karena kondisinya sedang di rumah makan. Tapi si anak malah keras kepala, dia menceramahi saya soal suruh shodaqoh! Lhah? Saya ya jadi tak bisa diam. Dan terjadilah percakapan di antara kami.

Saya : Tadi kamu bilang apa?
Anak itu : Shodaqoh mbak, lagi puasaan.

Saya tanya soal keluarganya dia bilang ayahnya sudah meninggal dan tinggal dengan neneknya. Saya tanya ibunya bekerja sebagai apa, dia jawab ibunya pemulung sampah. Lalu saya katakan padanya bahwa lebih dia membantu ibunya memulung dan orang akan lebih suka padanya dari pada dia jadi pengemis. Apa jawabnya? Dia bilang bahwa ibunya punya selingkuhan dan tidak mau mengurusnya. Gubrakkk!

Lalu saya tanya apakah dia pernah bekerja. Dia bilang pernah bekerja di warung tapi dikeluarkan karena waktu itu masih kecil. Lalu saya bilang bahwa dia sekarang kan sudah besar jadi bisa melamar lagi. Dan taukah jawabnya? Katanya neneknya melarangnya bekerja lagi karena bekerja itu sengsara! Nagaaaa!

Lalu saya tanya soal sekolah. Dia bilang bahwa dulu pernah sekolah sampai kelas 1 SMP lalu keluar. Saya tidak bertanya lagi soal itu. Saya  lanjut tanya padanya apakah dia selamanya jadi pengemis atau ingin berubah. Jika dia ingin berubah silahkan besok temui saya di bundaran GKB jam 1 siang. Saya akan tunggu sampai jam 1.15. Dia punya waktu semalam untuk berfikir.

Hmmm, orang-orang di rumah makan itu menatap saya menceramahi si anak. Mungkin saja, dalam pikiran mereka buat apa saya ribut-ribut mengobrol dengan anak itu? Kasih saja dia uang 500 perak juga pergi. Tapi bagi saya bukan itu, mungkin saja dia mau berubah walau kemungkinannya kecil.

Dan mendadak saya baru ingat bahwa besok jam 1 saya masih dinas luar! :-O Akhirnya saya pontang-panting mencari si anak lagi dan mengganti jam pertemuan menjadi jam 5 pm dan saya akan tunggu dia sampai jam 5.15 pm.  Syukurlah kami bertemu. Dan saya sampaikan perubahan jadwal. Dua orang temannya yang tadinya tidak tahu percakapan kami, mereka tanya dan saya jawab. Tapi taukah? Mereka berdua tidak mendengarkan penjelasan saya malah mengejek saya dengan ekspresi wajah menghinakan. Tapi saya abaikan.

Setelah saya sampaikan perubahan jadwal itu saya pergi. Mungkin saja dia mau berubah. Dan mungkin saja, setelah saya meninggalkannya dia justru tertawa mentertawai saya seperti kedua rekannya tadi. #su’udhon:mrgreen:

Dan setelah itu barulah saya sadar, betapa saya harus bertanggung jawab jika si anak trully wanna be better. Saya pontang-panting lagi mencarikan tempat yang sekiranya bisa menampung dia. Ada tempat laundry yang membutuhkan pegawai. Saya menemui pengurusnya malam itu juga. Tapi beliau tentu keberatan menerima orang yang tidak jelas.

Baiklah, saya mencari alternatif lain. Saya mencari info dinas sosial dan info yang saya dapat pun tidak jelas. Huwaaa!  Apakah saya harus melarikan diri? Bagaimana jika dia benar-benar mau berubah? Pasti dia akan kecewa.

Esoknya, saya mendapat no hp salah seorang staf  dinas sosial. Saya menelponnya dan akhirnya saya diberi no hp kepala dinas sosial yang mungkin bisa membuat kebijakan khusus. Saya pun menghubungi pak kadin sosial tersebut dan menceritakan kekonyolan saya. Pak kadin sosial ini beliau respek dan baik, namun sayangnya dinsos tidak memiliki tempat penampungan. Lalu olehnya saya diberi no hp kepala satpol PP. Saya kembali menelpon pak kepala satpol PP. Tapi yang mengangkat adalah asistennya. Saya kembali menjelaskan tentang kejadian itu dan solusinya adalah jika si anak benar-benar datang akan saya antar ke satpol PP. Namun jika sebaliknya, ya sudah selesai urusan.

Jam 4.59 pm saya bersama teman telah tiba di lokasi perjanjian. Kami mencari tempat yang tinggi dan menjadi semacam pengintai. Haha. Kami tunggu sampai jam 5.20 ternyata si anak tak datang. Dan sesuai kesepakatan saya dengan asisten kepalla satpol PP, jika si anak tak datang saya akan mengkonfirmasi kepala satpol PP melalui sms. Namun sms saya tak dibalas oleh pak kepala satpol PP, sekedar menjawab ‘ya’ atau ‘tq’ agar hati saya lega. Hehe. Mungkin saja, menurut pak kepala satpol PP saya ini orang yang konyol kurang kerjaan sehingga mau-maunya merempong-rempong seperti ini.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Mungkin Saja

  1. weits, mbak Dyah perhatian sekali ma anak kecilnya itu, yah……………..btw, sekarang gimana kbar anak it?
    *emang agak miris sih, kalo liat ‘pengemis’ jadi profesi andalan –> melatih mental kemalasan; tapi ada yang bilang, soal keikhlasan dalam memberi tak memandang apakah sasaran pemberian kita it salah/ benar. Siip, yang penting kita tahu aja sesuai kondisi, mbak. Mengenai keikhlasan, hanya Allah yang Maha Tahu

  2. lazione budy says:

    Saya juga ga akan memberi uang kepada pengemis /pengamen. Yang miskin emang mental mereka. Cara instan yg mereka tempuh.
    Harusnya ada PP atau Kepmen atau aturan resmi dari pemerintah yg melarangnya. Dan dijalankan secara konsisten.

    Indonesia, ya ini lah Indonesia.

  3. Pingback: (Tak) Sekedar Sedekah | Dyah Sujiati's Blog

  4. Pingback: Bukan Review | Dyah Sujiati's Site

  5. Pingback: Loe Punya Otak Kagak? [1] | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s