Tak Perlu Alasan

Saya tahu sudah  ada banyak orang yang  menulis tentang jilbab baik di blog, majalah, maupun media lainnya. Dan saya sendiri juga sudah pernah menuliskan soal jilbab di sini dan di sini.

Dalam hal berjilbab, yang mana jilbab dinilai sebagai perbuatan independent tanpa disangkut-pautkan dengan hal lain, hanya masalah menutup aurat saja. Menurut saya pribadi, lebih baik  tidak berjilbab namun berpakaian sopan dari pada yang berjilbab namun menggunakan pakaian yang ketat. Bukankah kalau berjilbbab namun pakaian ketat itu sama dengan hanya kepalanya saja yang tertutup?:mrgreen:

Ok, bukan itu poin yang sebenarnya ingin saya tulis, hehe. Dari sekian banyak tulisan tentang bagaimana orang yang berjilbab dan juga tentang teman-teman saya yang kemudian memutuskan berjilbab, mereka semua punya kisah yang cukup mengesankan. Mereka punya alasan yang kuat kenapa memutuskan berjilbab. Mereka mempunyai kisah yang terkenang  soal jilbabnya. Mereka bahkan punya momen yang merupakan ‘titik balik’ demi jilbab. Mulai dari kisah yang sederhana sampai yang bisa membuat bulu kuduk merinding. Waw, Subhanallah. Dan semoga mereka semua istiqomah.

Itu bagi mereka yang memutuskan berjilbab setelah dewasa. Bagi mereka yang memang sudah dibiasakan berjilbab sejak kecil oleh orang tuanya, tentu mereka punya kisah tersendiri. Mereka bahkan mungkin punya kepuasan/kebanggaan tersendiri  karena sudah sejak lama menutup auratnya dengan benar.

Lalu saya, saya termasuk orang memutuskan berjilbab setelah dewasa. Tapi sayangnya, saya tak punya kisah yang menarik soal perjalanan jilbab saya. Saya tak punya moment yang menjadi alasan kenapa saya berjilbab. Saya berjilbab saat naik kelas III SMA. Itu pun sebatas ke sekolah saja. Bahkan olah raga saya lepas jilbab. Awal kuliah pun demikian, jilbab saat ke kampus saja.

Seingat saya, tak ada orang yang ribut menyuruh saya berjilbab. Baik dari keluarga maupun teman. [Atau mungkin saya yang bebal barang kali?]. Pun tidak ada orang yang mengucapkan sesuatu yang membuat hati saya tergetar atau saya juga tidak membaca tulisan yang membuat saya mau berjilbab.

Saya berjilbab begitu saja. Tanpa alasan. Dan tak perlu alasan. Saya menjalaninya begitu saja. Pun saya juga tidak merasa karena melihat apa sehingga saya berjilbab.

Maka melalui tulisan ini, saya hanya ingin berbagi. Mungkin di lain tempat sana ada saudara-saudaraku yang belum menggenakan jilbab dan bingung mencari alasan dan moment untuk berjilbab. Karena mungkin tidak semua orang berhak  punya kisah indah dengan jilbabnya. Atau mungkin, pakai saja jilbabmu. Lalu nanti akan datang kisah-kisah indah membersamainya.

Sebab berjilbab sudah menjadi kewajiban kita selaku perempuan. Sebagaimana Allah sampaikan dalam QS Al Ahzab 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sebagaimana kewajiban sholat bagi seorang mukmin, jika ia tidak sholat maka ia berdosa. Dan berjilbab adalah kewajiban bagi mukminah. Dan sekali lagi, bahwa berjilbab dan menutup aurat adalah ibadah independent. Tak tersangkut-paut dengan ibadah yang lain.

Maksud saya, terkadang kita sering mendengar buat apa berjilbab kalau hatinya busuk, kalau kelakuannya buruk, kalau masih pelit, kalau ini,kalau itu. Padahal soal hati busuk, kelakuan buruk, pelit, ini-itu, adalah hal yang berbeda dengan urusan jilbab. Saat berjilbab, minimal melakukan kewajiban berjilbab jikapun hatinya masih busuk atau kelakuaannya masih buruk. Atau sering juga saya dengar, mending jilbabi dulu hatinya. Lhah!? Gimana caranya tuh jilbabin hati?

Okey, sekian saja tulisan saya. Intinya, saya merupakan orang yang tak punya alasan khusus kenapa saya berjilbab.:mrgreen: Semoga  Allah menjaga saya untuk tetap berjilbab dan menutup aurat dengan benar. Amin.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Tak Perlu Alasan

  1. Kalo saya dulu berjilbab, karena kebanyakan temen perempuan di kampus berjilbab.
    Jadi awalnya…. ikut-ikutan! Hehehehe…

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s