Bertepatan

Ketika saya sedang tidak memikirkan sesuatu atau ketika saya menikmati pemandangan di perjalanan, terkadang  muncul hal-hal lain yang mendadak jadi saya pikirkan. [?] Misalkan tiba-tiba saya berfikir begini : Ada oraang-orang tertentu yang selalu bertemu saya ketika suasana hati saya sedang baik, ucapan saya sedang lembut, tingkah laku sedang sopan, pemikiran saya sedang lemayan cepat nyambung, dan lain-lain. Dan orang itu pun jarang-jarang bertemu saya sehingga orang tersebut berkesimpulan bahwa saya adalah orang benar-benar baik dan menyenangkan. Lalu ada sebagian orang yang sering berinteraksi dengan saya dalam sebuah komunitas yang mana saat berinteraksi dengan mereka, saya akan dikenal baik pula oleh orang-orang tersebut. Tapi ternyata, ada satu atau dua orang yang bernasib kurang baik saat bertemu saya beberapa kali. Yaitu saat kondisi hati saya sedang tak baik, emosi saya tak menentu, dan hal lainnya. Atau parah lagi justru pada saat kepekaan saya sangat rendah. Yach, jadilah mereka bertepatan mendapati kepribadian buruk saya. Hehehe. [Penting tidak memikirkan hal itu?  ]

Memang, saya pun mengalami jika kondisinya di balik. Ada seseorang, sebutlah dalam komunitas kami, nampak sebagai orang yang menyenangkan, pintar, cerdas, berwibawa, perhatian, agak misterius mungkin. Awal ketika kami berkenalan, dia yang  lebih ‘agresif’ mendekati saya. Sampai suatu saat ketika dia datang ke kota saya dan dia bilang akan mampir. Senang sekali saya mendengarnya. Saya sudah berusaha maksimal menyambutnya, namun ternyata dia batal mampir. Mengecewakan memang. Tapi yang lebih mengecewakan lagi adalah alasan dia kenapa tak datang. Yaitu karena dilarang oleh keluarganya. Karena takut pertemuan kami adalah pertemuan yang berbahaya karena kami belum pernah bertemu sebelumnya. Takut kena penipuan semacam kasus-kasus lantaran Facebook yang sering diberitakan! Ya salam!

Ya, setiap orang memang berhak dengan pemikiran dan kehati-hatian. Tapi selama ini kami sudah sering berbicara lewat telepon, identitas saya pun jelas.  Bahkan ibu saya yang tak lulus SD pun mentertawakan kekonyolannya. Nampak sangat tidak cerdas, kata ibu. Hehe

Pernah lagi, saya meminta nomer telpon yang satu operator. Dia salah memberikan nomer. Sehingga berkali-kali saya telpon tidak bisa terhubung. Dan baru ketahuan beberapa menit kemudian setelah dia meminta saya mengirim nomer tersebut? Hah! Ternyata dia salah ketik. Tapi dia tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan dia tidak merasakan kesahalannya yang membuat orang gondrong menelpon berulang-ulang. 

Atau kalau sms-an atau chatting dengannya terkadang dibiarkan menjamur. Tapi kalau saat dia yang mengajak online, wallah maksa sekali.

Begitulah, orang yang secara umum dikenal baik, cerdas, menyenangkan, dan sejenisnya tetap memiliki kekurangan. Dan bertepatan saya lah yang sering ketiban kekurangannya. Hehe. Apakah ini karena imajinasi saya itu?:mrgreen:

Lalu karena itu, saya berusaha untuk lebih objektif menilai orang. Tidak sporadis membuat kesimpulan. Meski hal itu memang sulit.

Cheers ^_^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s