Tegas Saat Diberi Kembalian Permen

Menerima kembalian uang dari minimarket berupa permen, bagi sebagian orang adalah hal biasa. Namun bagi sebagian yang lain tentu keberatan. Dan saya termasuk orang yang sangat keberatan menerima permen sebagai kembalian.

Belakangan ini, saya sudah selalu berani mengembalikan kembalian itu. Dari pada saya keberatan dan mengomel di belakang, itu tidak ada artinya. Kecuali jika memang tak ada kembalian dan si penjual menyatakan secara langsung, saya bisa memaklumi.

Menurut imajinasi liar saya, kembalian permen itu bisa jadi hanya permainan pemilik toko (atau kasir penjaga toko) untuk mendapat tambahan penghasilan. Jika  benar demikian, maka rejeki yang tercampur dengan permen itu akan menjadi tidak berkah baginya. Dan selanjutnya ketidakberkahan ini akan masuk ke perut juga membersamai kehidupannya. Itulah yang namanya rejeki tidak barokah yang akan menjauhkannya dari Pemberinya. Bukan masalah betapa kecilnya uang bawaan permen itu, karena nila setitik saja bisa merusak susu sebelanga. Begitu pula dengan sedikit rejeki yang tak barokah tadi. Jika nila telah bercampur dengan susu, bagaimana memisahkannya?

Lalu kita sebagai pembeli yang menerima permen sebagai kembalian, tidak akan terhenti masalah hanya pada ‘saya mau’ atau tidak saja.  Kita juga punya keterkaitan. Maka seharusnya sebagai pembeli, kita harus tegas menolak jika diberi kembalian permen sementara di situ jelas ada uang sebagai kembalian. Dengan itu, kita turut juga menjaga soal keberkahan tadi. Ini adalah hal yang sangat sederhana yang membawa efek cukup kompleks. Inilah yang dinamakan ‘think globlally and act locally to be a truelly moeslem’!

Tegaslah! Jadilah pembeli cerdas!

Cheers ^__^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tegas Saat Diberi Kembalian Permen

  1. Mba Dyah, bener banget, jadi pembeli harus tegas.. Saya tidak bisa terima kalau mereka bilang tidak ada uang receh. Lha wong asa penukaran uang sudah banyak, tinggal manajemen penukaran uang recehnya saja yang benahi.

    Selain itu sekarang ada trend “disumbangkan” pula. Sewaktu belanja di minimarket. Kadang kalau kembaliannya dibawah Rp 500,00 suka ditanya “Mau disumbangkankan Mba?” Saya mah oke2 aja, karena di minimarket X memang dlm struck tertulis sumbangan untuk PMI (kalau ga salah). Tapi ad bbrp minimarket yg nilai sumbangannya tdk dicantumkan dlm dalam struck akhirnya saya tanya dan penjaganya bilang memang tidak ditulis, Nah terus disumbangkannya kemana? Kata mereka ke yang lebih membutuhkan. Lah siapa itu yang lebih membutuhkan? Laporan nominal yang disumbangkan berapa? Apa iya dikumpulin di celengan terus dibagi2 ke jalan? Semua pencatatan keuangan kan harus jelas.

    Akhirnya kalau ditanya mau disumbangkan atau tidak? Ya saya tanya kejelasan siapa penerima & masuk ke struck apa enggak. Kalau klemar klemer jawabnya, ya maafkan saia.. Bukannya pelit atau su’udzon ya tapi., menghindarkan mereka dari hal2 yang mengkhawatirkan saya..

    Haduh maaf ya Mba jadi curcol..

    • Dyah Sujiati says:

      Hahaha. Bener banget mbak.
      Malah saya dapat info dari teman bahwa sumbangan itu ternyata untuk membangun gereja di sebuah desa, yang jelas jelas di situ warganya adalah muslim.
      Krn itu kalau sy disuruh “nyumbang” yang begituan, maka saya pastikan dulu disumbangkan ke mana.

  2. Pingback: Ribet Sih, Tapiiii Tipis! | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s