Sebuah Senyum

[flashfiction]

Bus berguncang hebat lantaran menghantam polisi tidur yang jelas jelas ada di setiap pintu pembayaran tol. Aku seketika telontar dan terbangun. Meski sepanjang jalan aku lelap, namun aku yakin bahwa bus yang kutumpangi ini melaju dengan kecepatan tinggi di jalan tol.

Aku melihat pemandangan di sekeliling. Tidak seperti yang biasa kulalui. Mungkin ini efek tepaksa terbangun? Tapi kurasa tidak. Aku tidak sedang terkejut tak sadar diri. Ini memang lain.

Kutengok orang di sebelahku, lalu ku tanya, “Pak, bapak turun mana?”

“Semarang, dik.”

Whattt? Mataku terbelalak. Cepat-cepat kulihat karcis di genggaman tanganku dan kubentangkan. Benar. Bus ini akan berakhir di Semarang. Jadi? Aku salah naik bus, kawan!

Ya ya, sekarang aku ingat. Tadi memang mataku sangat mengantuk. Sejak semalam aku memang belum tidur lantaran aku harus mempersiapkan nama-nama yang akan berangkat ke Attambua bulan depan. Dan karena kesibukan yang padat bulan-bulan ini lah, sore ini juga aku menyempatkan diri menengok ibuku di kampung lantaran besok ada waktu sejenak.

Dan aku ingat. Karena mataku yang mengantuk itu aku tak memperhatikan tulisan ‘Semarang’ di kaca depan bus. Bahkan teriakan kernet, “(se)Marang-(se)Marang-(se)Marang” menjadi “Malang-Malang-Malang”. Baiklah, tidak ada pilihan lain kecuali aku harus turun dari bus ini dan kembali ke terminal Bungurasih. Tapi tentu tidak sekarang di jalan tol. Aku akan turun setelah bus keluar tol.

Aku menghubungi beberapa kawanku dan hanya seorang yang membalas,
“Turun saja di Pojok Mbunder. Nanti setelah itu tanya orang yang di sana ya. Hehehee!”

Argh si alan anak ini!

“Pojok-pojok-pojok! Mbunder-mbunder-mbunder!” teriak kernet di pintu.

Ya, dari pada aku tersesat semakin jauh. Aku akan turun.

Kulihat sekeliling. Tak ada manusia di pertigaan tanpa bangunan di sekelilingnya. Ku lihat kantor instansi pemerintah yang telah tutup di seberang. Kutengok ke kanan. Ruas jalan yang luas dan kiri-kanannya tambak, tak ada perumahan penduduk yang nampak. Sepeda motor memenuhi barisan sebelum zebra cross di lampu bangjo. Aku kembali menengok ke kiri. Rumah penduduk nampak berjarak 100 meter di sana.

Aku berjalan menyusuri jalan raya yang lebar nan lenggang. Matahari telah tenggelam beberapa saat yang lalu. Empat-lima rumah yang kulewati menutup pintu mereka. Aku menemukan sebuah kursi panjang milik sebuah warung kopi yang nampaknya tak buka malam ini.

Aku duduk dan kembali memantengi handphoneku. Aku kembali mencoba menghubungi kawan-kawanku.

Seseorang tiba-tiba melintas di depanku. Langkahnya panjang-panjang dan cepat. Aku mendongak dan tahu ternyata dia seorang perempuan. Kulihat tangan kanannya memegang sebuah buku sementara tangan kirinya dia masukkan ke dalam saku jaketnya. Aku melihatnya berjalan menjauh. Enam meter kemudian dia balik kanan. Aku pura pura mengamati hpku lagi.

Aku sempat melihat wajahnya di keremangan lampu separator jalan dan pendaran lampu lampu kendaraan. Tatapannya lurus ke depan. Melintas di depanku lagi seolah menundukkan kepalanya. Dan aku diam. Hey, bukankah aku bisa bertanya padanya?

Langkahnya cepat dan kini dia telah tiba di warung makan kaki lima yang berjarak lima meter di sebelah kiriku. Tak lama dia keluar. Aku melihatnya menggulung buku yang digenggamnya lalu memasukkan ke saku jaket. Dia lalu nampak menelpon orang dan menjepit handphone di antara telinga dan jilbabnya.

Apa perlu aku menghampirinya sebelum dia masuk rumah?

Ternyata dia justru memegang motor dan memasukkannya ke rumah sambil bertelpon ria. Jika ku perhatikan pakaiannya, dia hanya memakai rok panjang, jaket yang tak ditutup resletingnya, dan jilbab yang dimasukkan dalam jaket. Jilbab itu menjulur panjang ke bawah. Kuduga baju dalam jaketnya hanya sebuah tengtop. Tapi dia malah berkaos kaki. Gadis yang aneh.

Tak lama, dia keluar lagi. Dia duduk di kursi malas dekat pintu. Kaki kirinya naik di atas lutut kanannya, nangkring istilahnya. Menyingkap sedikit rok yang dia kenakan dan memperlihatkan celana leging yang berwarna senada. Ya, memang seharusnya leging itu pakaian dalam. Tapi banyak orang kulihat lupa memakai luarannya.

Melihat gadis itu dengan pakaian lengkap dengan tingkahnya, membuatku seperti sedang menonton drama monolog dengan pemeran tunggal yang berkarakter unik. Ahh tau apa aku soal drama? Hanya saja gadis itu kini bisa menjadi hiburan bagiku. Senyum yang terkembang dan tawa yang tergelak olehnya dengan orang di seberang telpon membuatnya nampak menarik diperhatikan.

“Mbak sudah.” teriak penjual makanan.

Gadis itu menutup telponnya dan beranjak. Dia masuk kembali ke dalam warung. Dan tak lama dia keluar. Dia mendongak dan tepat melihatku yang menatap ke arahnya. Senyumnya terkembang dan ditujukan untukku.

Sebuah senyum formalitas sekilas yang tiba tiba menyayat kulitku, menusuk ke dalam jantungku, lalu menghancurkan hatiku. Seketika, badanku terasa meriang dan jantungku berdebar. Sebuah senyum formalitas sederhana yang ternyata menghentikan ruang waktu dan mengubah duniaku serta menyelesaikan takdir penantianku.

—-

Senyumnya malam itu, 2 tahun yang lalu, telah menjadi senyum yang paling kurindukan sepanjang sisa hidupku. Meski hingga kini, setiap hari dia memberikan senyuman itu padaku.

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen and tagged , . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s