(Tak) Sekedar Sedekah

“Misalnya ada pengemis yang minta sedekah dari kita. Eh, kita langsung mikir, “Halah, tuh pengemis pasti pura-pura miskin deh. Padahal, sebenarnya dia tajir tho?! Mobil mewahnya pasti ada lima, kayak dulu tuh, yang pernah ue baca di moran kebanggaan Jatim itu tuh.”

Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Lo batal sedekah kan? Tapi malah terjerumus dalam su’udzon. Batal deh dapat pahala. Malah resmi dapat dosa. Jadi lebih baik lo lurusin niat aja deh, Bismillah, saya bersedekah untuk meraih ridho Allah ta’ala. Masalah apakah si pengemis itu pura-pura ngegembel, atau apapun itu, bukan lagi urusan lo. Yang penting lo udah niat baik, memberikan sebagian harta yang lo sayangi”.

Itu adalah kutipan tulisan di sebuah majalah yang diterbitkan oleh sebuah lembaga amil zakat. Judul tulisan itu adalah “Tidak Ada Sedekah Yang Salah”.

Banyak sudah tulisan maupun ceramah yang membahas soal sedekah, mulai dari definisi, dasar, hingga praktiknya. Kisah-kisah tentang keajaiban sedekah pun tak kan habis untuk dibukukan.

Membaca tulisan di atas, saya merasa ada yang menjanggal. Khususnya dalam korelasi antara sedekah dengan pengemis. Yang penting lo udah niat baik, memberikan sebagian harta yang lo sayangi. Sepemahaman saya, masalahnya tidak selesai pada ‘niat baik bersedekah’. Karena niat baik jika diwujudkan dalam bentuk yang kurang tepat  tidak akan membawa manfaat. Bisa jadi malah menjadi mudharat. Contohnya ya dalam hal sedekah kepada peminta-minta itu.

Jika kita memang punya niat bersedekah, silahkan cari orang yang tepat untuk menerima sedekah. Dalam Al Qur’an pun jelas telah disebutkan kriterianya. Silahkan cek di QS At Taubah ayat 60. Ada banyak orang di sekitar kita yag demikian. Bisa jadi kita di sini sedang cukup tapi tak sampai jarak sepuluh rumah di dekat kita sedang terlilit hutang. Para pemulung yang rela berkotor-kotor, para pengangkut sampah,  para penyapu jalan, sebagian besar mereka  adalah  orang yang layak menerima zakat. Dan mereka jelas bukan seorang peminta-minta. Kakek tua renta tukang sol sepatu keliling dengan sepeda pastilah orang yang membutuhkan hingga di masa tuanya ia masih memeras keringat. Dan itu ada banyak di sekitar kita. Atau jika memang tak ada waktu untuk menemukan mereka yang pantas disedekahi, titipkan saja di lembaga amil zakat, InsyaAllah bisa dipercaya. Beres urusan.

Sekali lagi, niat baik jika diwujudkan dalam bentuk yang kurang tepat  tidak akan membawa manfaat. Karena urusannya tak sekedar berakhir pada niat itu tadi, melainkan pada efek atau rangkaian takdir lain yang membersamainya. Memberi sedekah cuma-cuma pada peminta-minta berakibat semakin membiasakan dia untuk malas jika sebenarnya dia mampu. Jika anak-anak, lebih fatal lagi. Kita turut menghancurkan generasi yang seharusnya menjadi harapan perbaikan kehidupan mendatang. Kalau memang kasian pada mereka, berdayakan mereka. Itu yang benar. Tapi kalau belum mampu, maka kita jangan semakin memperburuk keadaanya atas nama sedekah.

Lha bagaimana kalau si peminta-minta orang yang tua renta? Saya telah menulisnya di sini dan di sini.

Dan setahu saya, Allah itu tidak menyukai orang yang bekerja sebagai peminta-minta. Lalu kenapa kita malah mendukung orang yang melakukan hal  yang tidak disukai Allah? Bahkan di artikel yang sama disertakan sebuah hadits yang berbunyi, “Siapa yang meminta-minta padahal ia mampu maka sesungguhnya ia hanya memperbanyak untuk dirinya bara api jahanam.”(HR Abu Daud dan Ibnu Hibban). Nah lho?! Apa kita mau sedekah kita jadi bara api jahanam buat orang lain?

Well, itulah pemahaman saya dalam konteks sedekah kepada peminta-minta. Sedekah kita tak sekedar berakhir pada niat baik saja. Wallahu’alam. Saya tidak sedang merasa saya benar dan mendebat penulis artikel tersebut apalagi menyalahkan. Sungguh, jika demikian benar-benar saya telah melakukan perbuatan yang sangat dzalim. Di sini, saya hanya sedang berusaha saling mengingatkan dalam kesabaran dan menetapi kebenaran.

Cheers ^____^V
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to (Tak) Sekedar Sedekah

  1. Saya sependapat sekelai dengan mbak Dyah.
    Memang sedekah itu juga ada ilmunya.

  2. Akhir-akhir ini ramai berita di koran tentang terobosan walikota Bandung Ridwan Kamil yang akan mempekerjakan para pengemis dan anak jalanan sebagai penjaga kebersihan (penyapu jalanan) kota Bandung. Namun sayangnya justru para pengemis dan anak jalanan menolaknya dengan alasan gaji yang ditawarkan terlalu kecil yaitu sebesar Rp 700,000.- . Sementara mereka menghendaki gaji minimal sebesar 4 -10 juta/perbulan.

    Jelas saja karena penghasilan pengemis di jalanan jah lebih besar. Ngenes banget yo?

    • Sedekah harus jalan terus dong, tapi jangan di jalanan. Salurkan pada yang tepat.

      Coba tebak:

      Berita tentang penghasilan pengemis yang begitu banyaknya itu di blow up di media, apakah:
      (1) akan bikin orang-orang males ngasih sama pengemis, atau
      (2) malah pada berduyun-duyun jadi pengemis

      • Dyah Sujiati says:

        Haha. Jelas itu pak. Maksud saya jangan sedekah pada mereka.

        Ehm, tadinya, poin 2 itu tidak terpikir oleh saya. Tapi setelah ini, prediksi sy justru poin itu yang lebih tingi😦

  3. Pingback: Loe Punya Otak Kagak? [1] | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s