Betapa

Fenomena nenek tua atau ibu hamil atau ibu menggendong bayi yang berdiri di bis sementara banyak lelaki muda sehat wal afiat duduk manis  adalah hal yang sangat biaya. Fenomena orang-orang kaya berumah gedong bermobil  SUV yang membuang sampah di jalan juga hal yang sangat biasa. Fenomena anak-anak di bawah umur yang ugal-ugalan berkendara di jalan raya pun hal yang sangat biasa.

Kemarin saya pergi ke rumah saudara saya naik bus malam patas. Ketika sampai di Ngawi bus berhenti untuk istirahat. Saya duduk di bangku nomer dua di belakang supir.

Ketika bus berjalan, sebagian besar penumpang memang mendeglakkan [atau apa istilahnya] kursi ke belakang. Dan jika kursi tetap pada posisi seperti itu, tentu saja akan menghalangi orang di belakangnya untuk berdiri dan ikut keluar.

Begitu juga dengan orang yang duduk di bangku depan saya. Dia meninggalkan bangku dalam posisi demikian sehingga saya dan orang di sebelah saya terjepit dan tak bisa keluar.  @_#

Refleks saya berteriak, “Pak! Tolong donk kursinya dikembalikan dulu!”

Orang tersebut hanya menengok dan berekspresi masa bodoh. Lha?

Kebetulan saya duduk di bangku nomer 2 dari depan. Orang-orang yang mau keluar bus jelas mengetahui posisi kami yang terjepit dan juga melihat saya masih heran. Namun tak ada seorang pun yang berinisiatif menolong kami. -_-‘

Oh betapa…

Terlepas dari berbagai macam masalah di negara kita baik di sektor ekonomi yang tidak merata, sektor moral yang sering menjadi bahasan, sektor kinerja dan tanggung jawab orang-orang yang mempunyai posisi/jabatan, dan segala yang aneh-aneh dan timpang yang menjadi bahasan. Terlepas dari penjajahan pemikiran dan kekayaan negara kita. Terlepas dari masalah-masalah yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyelesaikannya. Betapa, kita selaku individu juga masih berada pada taraf yang sangat memprihatinkan. Sebagaimana seringnya kita lihat fenomena-fenomena seperti yang saya tulis di awal.

Betapa, hal-hal sederhana seperti itu bukan lagi dalam tanggung jawab pemerintah atau pun orang lain. Tapi berawal dari hal-hal kecil itulah yang akan menjadi cerminan bagiamana kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Oh mungkin betapa berlebihan-nya saya kali ini. Semoga tidak.

Cheers ^__^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Betapa

  1. lazione budy says:

    minimal dari diri sendiri dulu. Yah betapa…

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s