Pukul Pukul Hancur

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari selaku warga negara Indonesia, saya lebih sering mendapati keadaan di mana saya harus memilih bersabar daripada bersyukur. Hampir di setiap sektor di setiap levelnya. Sebagai pemilik bangsa yang kaya raya dan berusia senja namun masih saja sibuk dalam urusan remeh temeh.

Saya tak sanggup menuliskan satu per satu karena hal itu terlampau banyak. Saya hanya mau menulis soal jembatan yang tentu saja meminta saya untuk bersabar sebagai warga negara. Dan ini pun hanya tentang dua jembatan yang saya lewati.

Jembatan Domas yang hampir putus bahkan pinggirannya telah longsor. Jembatan itu kini hanya bisa dilalui satu kendaraan. Dan ia sekarang dijaga oleh beberapa laki-laki untuk mengatur lalu lintas. Jembatan itu dulu pernah seperti diperbaiki namun hanya sebatas itu tanpa nilai perbaikan yang berarti. Buktinya, jembatan tak kembali pada keadaan semula. Dan alat-alat berat yang biasanya nampak saat ada proyek sipil, sekarang pun sudah tak nampak. Sudah lama tak ada. Menurut hemat saya, acara perbaikan sepertinya telah usai dan berakhir seperti ini.

Lalu jembatan Iker-Iker Geger yang kini sedang diperbaiki. Seingat saya, sebelum jembatan itu dihancurkan kondisinya baik baik saja. Tak ada yang longsor di sekelilingnya. Masih baik dan aman untuk dilalui dua kendaraan.

Seingat saya, jembatan itu dikeruk keruk sehingga putus lalu diganti dengan semacam beton. Dan siang tadi saya melihat beton tersebut dipukul-pukul untuk hancur.

Saya benar-benar tak mengerti prosedur penggantian jembatan. Tapi melihat proses yang berjalan, sepertinya jembatan itu sengaja dihancurkan lalu diperbaiki yang mana proses memperbaikinya pun nampak menghancur-hancurkan lagi. Yang tidak saya mengerti kenapa tidak memperbaiki sepenuhnya jembatan Domas yang jelas-jelas telah longsor dari pada harus memukul-mukul jembatan yang masih baik? Entahlah.

Dan yang sangat menyedihkan adalah imbas dari perbaikan jembatan yang tak rusak itu adalah fenomena lain yang muncul karenanya.

Di sana, ada banyak lelaki muda sehat wal afiat mendadak menjadi pengemis yang tak tanggung-tanggung. Mereka membawa timba besar dan meminta setiap orang yang lewat untuk mengisinya. Oh Tuhan! Bangsa macam apa ini? Yang rakyatnya bangga dan berduyun-duyun menjadi pengemis?

Dan jangan tanya pada saya atas apa yang bisa saya lakukan. Karena dengan sangat menyesal saya hanya bersabar dan komentar. Entah dari mana dan oleh siapa yang harus memperbaiki keadaan semacam itu. Nampaknya, pendidikan moral mental dan akhlak untuk memanusiakan manusia di negara ini yang harus segera diperbaiki. Agar manusia yang ada bisa bersyukur karena telah tinggal di negeri ini. Ya Allah, ampunilah saya…

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s