Pupuk

Jika saya menulis, sejujurnya saya juga berharap tulisan saya akan bermanfaat bagi yang berkesempatan membaca. Lalu., meski sedikit, akan membawa dampak kebaikan bagi kehidupan. Tak sekedar untuk melegakan hati saya semata. Dan kali ini saya menulis pun berharap demikian. Tapi kalau terpaksa, ya mau bagaimana lagi. Haha.

Saya sadar, sebagai warga negara yang tinggal di negaranya sendiri saya memiliki kewajiban menaati konstitusi yang berlaku. Pun karena saya juga mencintai negara ini, saya sangat menginginkan kebaikan membersamai kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya juga punya hak dan kewajiban untuk memilih wakil rakyat yang diselenggarakan ketika ada pemilu. Sehingga dalam hal ini, saya mempunyai kewajiban untuk memilih pemimpin yang tepat yang akan membawa kebaikan melalui pemilu.

Di sisi lain, belakangan ini saya mengetahui bahwa negara saya yang kaya raya ini sesungguhnya sedang dijajah sedemikian lembut oleh asing. Di samping juga ketakutan pengidap islamphobia terhadap negara yang besar penduduk muslimnya ini. Lalu kombinasi tersebut melahirkan berbagai program yang ditujukan untuk menjauhkan muslim dari agamanya dan dengan tetap mengeruk kekayaan negeri ini. Program-program tersebut tampil sangat menarik dan nampak sangat humanis. Tapi sesungguhnya tak lain adalah merupakan sesuatu yang sangat tak beradab.

Program tersebut ada banyak macamnya. Salah satunya adalah feminisme. Anda pernah dengar? Tentu saja pernah, bukan? Ya. Sebuah istilah yang terus-menerus digaungkan. Yang katanya untuk meningkatkan derajat perempuan, untuk kesetaraan perempuan, abcdefghzzzt. Namun aslinya apa? Tak lebih justru merendahkan perempuan itu sendiri. Perempuan disuruh membuka perhiasannya yang bisa jadi sebenarnya karena mereka suka menikmati tubuh wanita. Cuih!

Kembali soal pilkada atau pemilu. Saya mendengar kuota perempuan untuk menjadi anggota legislatif sebanyak 30%. Dan dalam hal ini, saya curiga bahwa hal tersebut merupakan bagian dari program yang saya sebut diawal atas mana feminisme. Kenapa saya mengatakan demikian? Mana buktinya? Baiklah, karena ini murni kecurigaan saya, maka izinkan saya menganalisa (?) kejanggalan-kejanggalan yang timbul di hati saya.

Sebagai makhluk hidup yang teramat malas untuk ribet, saya memilih mengikuti aturan yang yang dibuatkan oleh Yang Memberi saya kehidupan. Pasti tepat. Segala sesuatu Ia ciptakan sesuai porsi dan posisinya untuk menjadi manfaat yang semaksimal mungkin. Karena itu Dia ciptakan laki-laki dan perempuan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing bersama hak dan kewajiban masing-masing juga. Nah, perempuan itu tugas dan fungsinya bukanlah sebagai pemimpin. Dia adalah adalah pengendali. *Lho?

Jadi maksud saya, perempuan itu berfungsi sebagai tempat bersandar laki-laki. Tempatnya mendengarkan dan menguatkan. Tempatnya ide dan solusi. Pernah dengar peribahasa ‘dibalik lelaki hebat ada perempuan yang superhebat’. Nah, di situlah letaknya.

Kedua. Ketika perempuan jadi pemimpin. Pasti dia ada di depan. Ketika memimpin rapat misal. Saya pikir, lelaki normal yang di belakangnya ada lah satu atau dua orang yang melihat perempuan itu tadi dari sisi lain. Mengerti maksud saya, kan?

Ketiga. Ketika dia telah disibukkan oleh urusan yang ia pimpin, dia bisa kualahan melaksanakan tugas utamanya ‘di rumah’. Saat suaminya hendak curhat, bisa jadi dia sendiri sudah lelah. Ketika anaknya ingin dimanja, bisa jadi dia sedang jenuh. Mungkin nanti urusan makan, tidur, rumah segalanya diambil alih oleh pembantu. [Bisa-bisa kunci rumah lama-lama jadi milik pembantu? Oh itu tidak mungkin. Itu terlalu liar. Haha]. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan keberkeluargaan dia? Anaknya bagaimana suaminya jadi apa. Eh terbalik.:mrgreen:

Bagaimana kalau memang tak ada lelaki yang  tak pantas jadi pemimpin? Ah, pernyataan ini sungguh-sungguh melukai harga diri lelaki menurut saya. Pasti ada. Kita saja yang sudah terlanjur ter-frame sehingga ‘terpaksa’ memilih perempuan. Padahal tidak sebegitunya juga. Sekali lagi, pasti ada yang lebih tepat untuk memimpin di antara semua lelaki yang diremehkan itu dibandingkan dengan perempuan yang menurut kita lebih pantas itu tadi.

Lalu bagaimana dengan para pemimpin/wakil rakyat perempuan yang ternyata sukses sebagai istri dan ibu? Nah, itu adalah hal yang nampak sejauh oleh mata melihat di sini dan saat ini. Bagaimana kalau kita berfikir sedikit lebih terbuka dan luas?

Maksud saya begini. Seperti pupuk anorganik dan pestisida, ketika dia digunakan sesuai dosis, dia akan menyuburkan tanah lalu nampak menyehatkan tanaman lalu tanaman akan memberikan hasil yang melimpah. Nah apalagi kalau hasilnya dijual. Jelas tak membawa pengaruh buruk apa pun bagi diri sendiri kelihatannya.  Namun memang karena kebanyakan manusia itu kurang sabar dan sukanya yang instan sehingga panjang pikirannya pun sepanjang instan (?), maka maunya ‘yang penting sekarang’. Sehingga soal pupuk tadi, tak terpikirkan bagaimana efeknya 10 tahun ke depan. Bagaimana nasib tanah dan tanaman. Tanah bisa kehilangan kesuburan alaminya. Tanaman bisa-bisa mengalami mutasi gen. Bahkan bisa jadi buah atau tanaman (sayur) menjadi tak sehat untuk dikonsumsi saat ini juga. Bahkan jauh sektor, pupuk bisa menjadi komoditas politik.

Ketika seorang perempuan menjadi pemimpin/wakil rakyat dan kemudian dia tetap menjadi istri dan ibu yang sempurna bagi suami dan anak-anaknya, bisa jadi analog dengan pupuk dan pestisida itu tadi. Sebab hidup ini adalah rangkaian takdir dan sistem yang saling terkait, begitulah kata Bang Andrea Hirata. Get my point? Ya sudah, kalau tidak juga tak masalah.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Pupuk

  1. Sungguh pengingat yang baik.

    Islam tidak melarang seseorang bisa duduk di parlemen, asal ia bisa tetap melaksanakan kodratnya sebagai ibu di dalam keluarga, bersikap dan berperilaku adil; baik dalam melayani suaminya, dan baik dalam membesarkan buah hatinya sehingga kelak melahirkan generasi penerus yang unggul dan berkualitas. Ketika perempuan rusak, maka rusaklah bangsa, karena dalam pandangan Islam, perempuan adalah sekolah bagi generasi baru.

    Adanya kuota 30% perempuan di parlemen (target komnas perempuan) adalah sesuatu yang dipaksakan. Absurd. Betapa kita lihat berapa banyak perempuan wakil rakyat yang ingkar terhadap suaminya, masuk bui karena korupsi, terlibat skandal seks, dll. Adanya perempuan di parlemen tidak perlu ditarget dalam bentuk prosentase, tapi hadirkanlah mereka yang benar-benar bisa komitmen untuk adil dan mampu menjaga amanah. Ini bisa dilihat dari track-record-nya dalam memimpin organisasi, bukan mengambil figur artis yang tidak lebih kepada pencitraan semata, terpesona oleh peran protagonis atau lagu-lagunya yang merdu dan hits atau kecantikannya.

    • *koreksi*
      “Islam tidak melarang seseorang …” … kurang kata, maksudnya “Islam tidak melarang seorang perempuan …”

      • Dyah Sujiati says:

        Iya pak. Islam tidak melarang karena sangking toleran dan humanis- nya. Cuman kalau kembali pada takdir, kodrat, tugas, fungsi, dan posisi perempuan, ya itu tadi, menjadi analog dg pupuk, menurut saya.

        Absurd memang pak. Kalau soal merupakan bagian dari ‘program’ dengan dalih feminisme atau bukan, ini kan sebatas analisa abal2 saya saja, hehe

  2. lazione budy says:

    Kalau perempuan jadi pemimpin pas lagi ‘dapet’ lalu ada keputusan penting yang harus diambil. Bahaya!
    😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s