Sudut Pandang dan Perasaan

Pada suatu hari di suatu tempat yang tak jauh dari pusat kota namun tempat itu di tepi jalan raya. Tempat itu adalah sebuah warung yang menjual menu utama gado-gado. Tempat yang sangat biasa. Hanya tersedia sebuah bangku panjang untuk duduk empat orang bersamaan. Tempatnya pun tak terlalu bersih apalagi untuk dikatakan menarik, agak jauh panggang dari api. Sehingga harga gado-gado yang dijual juga amat terjangkau.

Dua orang muda-mudi sejoli (sejoli?) seukuran anak SMA sedang duduk di bangku warung itu sambil menikmati gado-gado yang mereka beli. Singkat cerita, mereka mengaku sebagai pasangan kekasih. Olala, jadi mereka sedang kencan.

Mereka makan sambil saling curhat dibumbui dengan gombal. Bagi mereka, seolah dunia milik berdua saja. Mereka merasa seolah seperti sedang main film. Atau minimal merasa sudah seperti yang ada di film. Film-film romantis tak bermutu yang sangat sering tayang di televisi telah sukses mempersuasi mereka. Sehingga menurut sudut pandang dan perasaan mereka saat itu adalah bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang wow.

Mereka terus mengobrol lalu berlanjut pada adegan penyandaran kepala wanita ke pundak. Lalu saling berpegangan tangan. Lalu pelukan! Menurut sudut pandang dan perasaan mereka, inilah indahnya dunia. Inilah cara menikmati hidup. Apalagi acara pelukan itu di tempat umum. Dilihat banyak orang, membuat mereka berfikir itu kelihatan keren. Seperti di tipi. Begitu logika mereka menerka.

Lalu di saat mereka berpelukan, datanglah seorang perempuan normal dan melihat apa yang mereka lakukan. Dia bisa mengerti bagaimana logika kedua sejoli itu berjalan sehingga berbuat demikian. Tapi yang tak habis pikir, sebuah logika yang berjalan atas sesama perempuan. Kenapa si perempuan itu mau-maunya dipeluk di tempat murah seperti ini? Kok tak modal gitu. Murah sekali.

Ya memang setiap orang punya sudut pandang dan perasaan masing-masing dalam melihat dan menyikapi sesuatu. Tergantung apa yang menjadi kebiasaannya dan sejauh apa logikanya bisa berkolaborasi dengan kecerdasan. Dan dengan berat hati, terpaksa perempuan normal tadi mengatakan bahwa logika kedua sejoli itu sama-sama sedikit kesleo. Pun sama halnya dengan undefine numb sejoli-sejoli yang bejibun itu. Dan adalah tugas bersama bagi yang masih waras dan normal untuk memijat logika-logika yang kesleo itu agar kembali pada kondisi yang semestinya.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sudut Pandang dan Perasaan

  1. Belum nikah aja udah ngelakuin perbuatan yang gak berkah, itu sama dengan menantang Allah. Jangan salahkan Allah kalau tidak mengabulkan do’a sejoli itu yang pengen hidup samara, kecuali mereka segera tobat.
    contoh kasus:
    Artis A dan artis B, dua-duanya terlihat sempurna dari segi fisik, rupawan, skor 9. Saat baru jadian (pacaran) kemesraannya di-ekspose di acara infotainment.
    Beberapa tahun kemudian di acara infotainment yang sama mereka saling caci maki, atau adu pengacara untuk berebut hak asuh.
    Itu contoh yang ter-ekspose agar menjadi pelajaran. Sayangnya sedikit sekali yang mau mengambil pelajaran, justru malah kena sihir televisi, bacaan, atau teman pergaulannya.

  2. j4uharry says:

    Saya paling sebel kalau ada yg mesraan sambil berkendara (motor), biasanya saya klasooon panjang | trus salip mepet deh

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s