Local Trip Ed 3

Cuaca di tempat saya tinggal amat sangat terasa panas menyengat. Kondisi saya waktu itu adalah tugas yang selalu selesai tepat saat matahari di atas kepala. Sementara posisi saya amat sulit dijelaskan sehingga tak ada pilihan lain kecuali menghabiskan waktu untuk hal yang menarik dan bermanfaat. Mencoba hal-hal yang menantang dan menyenangkan. Apalagi kalau bukan mbolang alias keluyuran!

Waktu itu hari Selasa. Kemarin Senin saya baru saja melewati perempatan yang arah utaranya bertuliskan ‘Duduksampean’ maka hari itu saya dan Erva memutuskan untuk memastikan kebenaran petunjuk arah tersebut. [Kurang kerjaan banget gak sih? Haha]

Ternyata benar saudara-saudara! Tak sampai 10 menit kami bisa sampai perempatan Duduksampean. Dan satu-satunya jalan untuk kembali ke Gresik adalah melalui jalan negara yang teramat ramai dengan truk besar yang bagi saya itu terasa menakutkan. Dengan alibi tersebut, saya meminta Erva bagaimana kalau kita mencoba jalur lain. Menurut diagnosis geometri (?), saya yakin bahwa perempatan Duduksampean pastilah menembus salah satu di kecamatan Manyar. Dan dengan keyakinan itu, maka berangkatlah kami.

Sekitar 100 meter dari perempatan, ternyata jalan bercabang. Kami berfikir dengan pengandaian masing-masing. Kedua jalan itu sama-sama besar dan tingkat keramaiannya pun sama. Maka kami memilih arah yang baik, arah kanan. [Maksudnya apa coba?]

Hampir dua kilo kami berjalan namun tak ada kampung. Akan tetapi, di tepi jalan bersambung tiang listrik yang mana itu berarti pasti ada kehidupan di sana.

Akhirnya kami melihat kubah masjid dan betapa senangnya hati kami melihat ada kehidupan di sana. Lalu kami masuk dan mengitari desa tersebut untuk menemukan jalan tembus yang kami yakini.

Ketika kami sampai di sebuah perbaikan jembatan, seorang bapak bertanya hendak ke mana kami. Dan pertanyaan itu adalah pertanyaan paling tabu bagi kami berdua. Bagaimana tidak? Tujuan kami adalah keluyuran, mencoba jalan, menjawab rasa penasaran, dan tentu saja  menikmati tantangan. Dan itu sungguh keterlaluan jika dilakukan di siang bolong yang panas apalagi oleh perempuan. Jika mereka tahu tujuan kami untuk melintang tambak, itu nampak sangat berbahaya. *lebay

Bapak itu mengatakan bahwa jalan yang akan kami lalui kalau kami nekat adalah jalan di pematang tambak yang sempit dan sangat berisiko tersasar. Namun kami tak gendar mendengarnya. Justru kami senang karena itu berarti memang ada jalan untuk tembus kecamatan Manyar. Dan dengan tataran khawatir yang berlebihan, si bapak mengatakan, “Ya sudah, silahkan saja!” seolah dia dengan yakin bahwa kami pasti akan menyerah dan kembali.

Kami melihat tanda panah mengarah ‘Betoyoguci’ yang memang merupakan desa di kecamatan Manyar. Kami berbunga-bunga bercampur berdebar-debar mengikuti jalan kecil di pinggir sungai. This will be a great experience and we will find the way. How difficult it will, this we call a challenge! Yihi!

Jalan yang kami lalui setelah menyebrang jembatan adalah jalan yang sudah dibeton. Kami merasa sangat berterimakasih pada orang-orang yang telah memberi kemudahan tak terhingga bagi orang yang melintas. Dan kami merasa menang lalu berkali-kali mengatakan bahwa bapak yang tadi kami temui telah keliru. [?].

Lama-lama jalan beton habis. Jadilah jalan tanah yang tetap aman dilalui. Tapi lama-lama jalan itu makin sulit apalagi setelah sampai pada jalan beton yang rusak. Susah sekali. Kami hampir putus apa dan galau. Apakah kami melanjutkan perjalanan atau kembali ke desa tadi. Maju susah tapi mundur pun tanggung.

Akhirnya kami memutuskan untuk maju. Dan menurut sugesti kami, justru inilah tantangan yang seharusnya kami taklukkan. Inilah yang kami cari. Haha.

Kami meneruskan perjalanan setelah sempat berhenti sejenak melepas lelah. Sekalian juga menikmati indahnya gelombang air tambak dan sejuknya angin yang melintas. Lalu kami lanjutkan perjalanan. Ada sebagian ruas jalan yang sangat buruk sehingga kami harus menuntun. Haha.

Hal yang sungguh membuat saya salut adalah para petani tambak yang bisa mengangkut berton-ton ikan ke daratan saat panen. Sungguh keren apa yang mereka lakukan. Mereka pasti orang yang tangguh dan kuat. Sungguh tak adil kala Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang pemalas kalau melihat yang seperti ini. Entahlah, tak perlu saat ini kita membahasnya.:mrgreen:

Dan ketika kami telah sampai daratan di Betoyoguci, ada kebahagian yang menyeruak di hati. Perasaan menang tiba-tiba hadir. Seolah pendaki yang telah berhasil mencapai puncak gunung. *halah

Dan rasa itu membuat kami ketagihan. Esoknya, Rabu, kami melintang lagi melalui percabangan yang ke arah kiri dari perempatan Duduksampean. Awalnya, kami kira jalur itu berhenti di desa Kramat. Kami pun duduk santai di dekat pemakaman. Sampai ternyata ada dua orang yang melintas. Dan kami mendadak jadi yakin bahwa jalur ini pasti tembus desa lain di sana.

Tak lama setelah itu ada lagi seorang bapak yang melintas. Dengan gaya khas preman, saya memberhentikan bapak tersebut dan meminta kepastian dia akan ke mana. Haha. Dan betul jalan itu bersambung.

Kami langsung meluncur. Rute kali ini lebih manusiawi. Tak ada ruas jalan yang mengharuskan  kami menuntun motor. Jalan ini ternyata tembus di desa Tanggungan kecamatan Glagah, Lamongan.

Kami kembali bahagia begitu kami masuk ke desa. Dan betapa kagetnya ibu-ibu yang sedang berkumpul di ujung kampung melihat kemunculan kami dari hutan tambak (?). Hahaha.

Yang sangat menyenangkan adalah ketika di tengah hamparan tambak yang seolah jauh dari apa pun, kami melihat kubah masjid menjulang tinggi dan megah. Tak peduli bagaimana di dalamnya. Namun kegagahan masjid yang tampak dari kejauhan mencerminkan religiustas (?) penduduknya. Dan ini jelas memiliki nilai sejarah tersendiri di masa yang akan datang.

Inilah perjalanan. Inilah tantangan. Dan betapa menyenangkan ketika rasa ingin tahu itu akhirnya terjawab. Sekali lagi, ini adalah ngetrip lokal.

image

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in My Journey and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Local Trip Ed 3

  1. Mana foto masjidnya dari kejauhan?

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s