Cocoba

Mari saya ceritakan tentang pengalaman saya di bidang keamanan dan kebahagian (?). Dalam hal ini adalah pengalaman dan cerita terkait copet. Karena itu tulisan ini saya beri judul ‘cocoba’ yang merupakan akronim dari copet-copet-bahagia. Judul ini memang terilhami dari kata ‘jojoba’. *gakpenting

Ada beberapa yang ingin saya tulis. Baik yang sebagai tokoh utama itu adalah saya atau teman saya atau lainnya. Begini ceritanya.

1. Dulu waktu saya dalam perjalanan pulang dari Purwokerto naik bus. Seperti biasa, saya selalu tidur dalam bus. Tiba-tiba saya dibangunkan dan harus oper bus. Kondisi kesadaran saya belum pulih sepenuhnya ketika menaiki bus tujuan oper. Tiba-tiba saya merasa orang yang di samping saya kok usreg di dekat tas saya. Saya merasa terganggu. Dan seperti biasa, saya yang hobi ngomel langsung mengomeli orang tersebut. Akhirnya orang itu turun.

Beberapa menit kemudian setelah saya duduk dengan tenang, saya baru menyadari bahwa tadi pastilah seorang copet yang hendak mencopet saya! Jiaah telmi!

2. Waktu itu saya sedang akan naik bus dari terminal Bunder. Kedua hp saya ada di bagian tas paling depan. Dan ketika naik saya menggendongnya di punggung. Jadi amat sangat mudah untuk dicopet. Benar memang, kejahatan itu ada bukan semata-mata karena niat jahat, tapi kesempatan itu ada. Yeah, kedua hp saya pada akhirnya pindah tangan. Lalu apakah saya sedih dan meratapi hilangnya kedua hp itu? Tentu, saya sedih dan merasa sayang sekali kehilangan nomer-nomer hp teman-teman. Sekitar 500 kontak aktif saya raib dan sekitar 300 ‘sms  cinta’ dari kawan-kawan ludes.

Tapi, apakah kesedihan itu berefek lebih pada saya? Tidak sama sekali. Saya justru merasa kasihan pada si pencopet. Kenapa? Karena kedua hp saya jika dijual, saya taksir nilainya tak lebih dari IDR 50.000 ! Ahaha!

3. Kalau ini pelaku tercopet (?) adalah ibu dari teman saya. Suatu hari beliau ke pasar naik angkot. Saat dia menoleh, ternyata ada sebuah tangan yang masuk di tas beliau! Dan tak bisa keluar! Ahaha! Copet yang bodoh. Tatapan mereka bertemu lalu ibu itu bertanya, “Lho mas, kenapa tanganmu di situ?” si copet masih diam karena kaget dan malu.

“Ya sudah. Cepet dikeluarkan. Tapi jangan mengambil apa-apa ya?” lanjut ibu.

Si copet pasrah.:mrgreen:

4. Kalau yang ini agak heroik dan mendebarkan. (?)
Waktu itu saya mau ke Bungurasih. Kondisi bus agak penuh. Beberapa orang berdiri. Tiba di Loak, beberapa penumpang akan turun. Hal ini dimanfaatkan oleh penumpang yang berdiri agar segera dapat tempat duduk.

Posisi saya waktu itu di bangku paling depan. Sekitar 5 detik bus akan berhenti, tiba-tiba ada cewek yang berteriak, “Tolong! Tolong! Hp saya hilang! Saya dicopet!”

Saya langsung refleks berteriak pada orang di pintu, “Pak tutup pintunya! Jangan boleh ada yang keluar! Ada yang kecopetan!”

Orang-orang jadi bingung dan pak kernet pun dilema. Dan saya kembali berteriak yang sama.

Entah wangsit dari mana, saya lalu meminta nomer hp si mbak untuk ditelpon. Belum selesai saya menelpon, tiba-tiba ada orang yang berteriak dan nada agak ngomel, “Mbak ini lho ada hp jatuh! Belum-belum udah ngomel aja!”

Ketemulah hp si mbak. Dan dia pun balik berteriak, “Bapak copetnya! Dari tadi ndorong-dorong saya!”

Yah, begitulah. Banyak trik yang mereka lakukan. Hati-hatilah!

5. Kalau yang ini murni gokil. Waktu itu di terminal Bunder. Begitu saya naik bis, seorang ibu yang di sebelah saya memberi tahu saya. “Mbak, perhatikan dua orang di kursi di bawah.” pintanya.

Saya menoleh ke belakang melihat dua orang laki-laki yang duduk di luar.

“Mereka berdua itu copet, mbak.” lanjut si ibu.

Saya langsung menengok tajam. Karena? Saya tadi duduk di sebelah mereka bahkan saya yang meminta mereka agak sedikit bergeser agar saya bisa duduk! Yihi!

Salam cocoba!

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Cocoba

  1. nats says:

    hati2 bu!

  2. Ini edisi copet – copet apes🙂

  3. alfath says:

    kenapa judulnya cocoba, padahal copetnya g bahagia?

  4. Pingback: Sulit Kuungkapkan | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s