Pantas

Pada zaman dahulu di sebuah negeri yang dikenal sebagai Bla Bla Bla hiduplah seorang lelaki/wanita yang bernama Blu Blu Blu. Negeri Bla Bla Bla dikenal sebagai negeri yang sejahtera dan rakyatnya hidup dengan aman dan damai. Negeri Bla Bla Bla dipimpin oleh raja yang adil dan bijaksana.

Kurang lebih seperti itu paragraf pembuka yang mengawali sebagian besar cerita atau dongeng untuk anak-anak yang pernah saya baca. Selalu, ada implikasi (jika maka) yakni negeri yang sejahtera dipimpin oleh pemimpin yang adil dan bijaksana. Saya jadi ingat pada komentar Mbak Fajar di tulisan saya beberapa waktu yang lalu.

emm.. jadi inget ada yang pernah bilang kepemimpinan itu mencerminkan siapa yang dipimpin..
bisa jadi kita sebagai rakyat belum ‘pantas’ punya pemimpin yang sanggup menyelesaikan hal2 ntu..
saatnya kita juga memperbaiki diri & berbenah agar pantas dipimpin yang berkualitas..

Sepertinya memang kita sendiri yang belum pantas mendapat pemimpin yang adil, kita sendiri yang memang belum pantas dipimpin oleh pemimpin yang bijak, pun sepertinya kita sendiri pula yang belum layak mendapat pemimpin yang penyayang.

Kita lebih suka mengolok-olok dan menghujat para pemimpin daripada mendoakan yang baik untuk mereka. Kita sendiri pula yang pusing mencari kesalahan tanpa menawarkan solusi.

Dari hal yang kecil sampai hal yang besar, dari level terendah sampai level tertinggi, dan dari setiap sektor sepertinya selalu ‘ada hal’ yang terasa janggal yang berarti ada ketidajujuran di sana. Penjual makanan, semisal. Mulai dari penjual pentol yang hanya menjual 2 panci pentol sampai industri produsen makanan yang besar. Penjual pentol tidak menggunakan bahan yang berkualitas bahkan ada yang tega mencampur dengan daging yang sudah tidak layak dimakan. Penjual gorengan di tepi jalan raya ada yang tega mencampurkan plastik pada minyak gorengnya agar gorengan  menjadi renyah.

Tidak asing di telinga kita berita soal korupsi di berbagai instansi pemerintahan yang membawa nama-nama pimpinan instansi yang bersangkutan. Sering pula  aset negara kita yang terjual pada asing yang ujung-ujungnya merupakan kongkalikong orang Indonesia sendiri. Tidak kah kita bertanya dan bercermin pada diri sendiri? Karena ternyata kita yang di ‘level bawah’ juga sering terlibat dengan hal itu. Ah, saya tak pantas menyebutnya karena diri saya sendiri pun harus banyak ditata.

Pun, sebagian mental kita masih bisa dinamakan mental miskin. Kita lebih senang diberi dari pada berusaha. Lebih senang jalan pintas daripada jalan yang benar. Banyak pula orang yang sebenarnya mampu bekerja tapi memilih menjadi pengemis. Banyak orang yang senang disebut sebagai orang miskin demi mendapat BLSM atau Jamkesmas atau sejenisnya. Maka pantaskah, orang yang miskin mental mendapat pemimpin yang bermental kaya?

Dan yang menurut saya sangat menggelikan adalah mereka yang mengaku peciinta bola. Faktanya, kala melihat pertandingan sebagian banyak mereka adalah penonton ilegal tanpa karcis. Memilih masuk stadion dengan memanjat tembok. Katanya suka? Lalu kenapa tidak mau bayar karcis? Kenapa tidak memberi balasan terima kasih dengan menjadi penonton yang sportif? Bisa jadi karena ini, Indonesia belum pantas jadi pemenang.

Juga dalam membayar pajak, kita masih sangat miskin. Betapa beratnya kita mengeluarkan uang untuk membayar pajak setahun sekali saja. Kalihatan miskin-nya bukan? Banyaknya berita di televisi soal penyalahgunaan pajak, menjadi alasan penguat malas kita membayar pajak. Padahal soal penyalahgunaan, itu adalah urusan yang menyalahgunakan. Kewajiban kita sebagai warga negara untuk membayar pajak tetap tidak ada perubahan. Karena warga negara yang benar adalah yang taat membayar pajak.

Bahkan, dari hal yang paling kecil. Soal sampah. Kita bahkan belum bisa membuang sampah pada tempatnya. Begitu mudah kita melempar sampah tak pada tempatnya. Begitu banyak saya temui orang yang membuang sampah rumah tangga mereka di jalan raya (kalau di sungai sudah biasa), melemparnya sembarangan. Padahal dia mampu membeli mobil Terios. Astaga! Membuang sampah mati saja tak bisa, bagaimana bisa membuang sampah masyarakat?

Kita sering mengomentari orang lain ini–itu dan menuntut orang lain agar begitu-begitu, tapi kita tidak berusaha menuntut diri sendiri untuk bisa disiplin dan jujur. Maka, tidak ada pilihan selain memulai dari sendiri. Memantaskan diri agar kita pantas untuk mendapat pemimpin yang adil dan negeri kita akan sejahtera. #NTmS

[repost]

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pantas

  1. Thank you. Note to myself too.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s