Bahasa Inggris

Lantaran saya adalah orang yang sangat malas menonton televisi, maka jadilah saya amat minim info terkini yang sedang terjadi. Itu tuh yang sudah lama diramaikan di televisi dan kalau saya menulisnya sekarang, akan seperti nasi yang sudah basi. Apalagi kalau bukan soal Inggris ala Mas Vicky. Pun saya sama sekali tidak berminat membahasnya di sini. Sebab saya sama sekali tidak tertarik. Yang jelas yang saya tahu adalah bahwa hal itu menjadi berita dan dibicarakan banyak orang. Di satu sisi dia dicaci tapi di sisi lain malah diikuti. Orang-orang memang suka jadi humoris.

Well, no matter about it, *nah lo! Ikut-ikutan juga nih jangan-jangan?!:mrgreen: * saya hanya peduli pada diri saya sendiri. *egubrak*
Maksud saya begini, maksud saya menulis ini sebenarnya karena saya ingin menulis tentang hal yang pernah terjadi pada diri saya sendiri. Lalu kenapa saya membuat pembukaan sepanjang itu seolah akan menulis sesuatu yang bermutu? Maka saya jawab, ini hanya sedikit seni agar tulisan menjadi panjang dan indah. *silly

Ok, saya lanjut saja. Dulu waktu saya lulus SD, saya sama sekali belum bisa bahasa Inggris. Yang saya tahu hanya : yes, no, i, you, i love you! Itu saja. Sehingga saat masuk SMP dan ada yang namanya pelajaran bahasa Inggris, menjadi pelajaran yang amat sangat saya tak suka sebab saya adalah anak yang paling bodoh di kelas. Saya seperti sebuah anomali di antara teman-teman. Rasanya saya bukan bagian dari penduduk bumi lantaran tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Bandingkan dengan anak-anak sekarang yang baru kelas 3 SD sudah mahir berbahasa Inggris. Sungguh kemajuan yang tajam di dunia pendidikan!

Pengalaman yang paling berkesan dalam hal ini adalah ketika ulangan. Guru bahasa Ingris waktu itu bernama Mr. Pang selalu membuat soal ulangan yang berjenis ‘kanan-kiri’. Artinya soal yang diberikan pada siswa pastilah berbeda dengan kawan sebelah kiri maupun kanannya. Nah karena saya belum bisa memahami bahasa Inggris pada waktu itu, sementara kawan yang ada di belakang saya nampak tidak menyenangkan, jadi tidak ada pilihan lain. Kecuali jawaban saya sama persis dengan kawan sebangku saya yang jelas-jelas soal kami berbeda.😀 Oh betapa…

Nb : Adegan implisit dalam pengalaman bodoh saya di atas merupakan implikasi dari sistem pendidikan di negara kita yang belum bisa memanusiakan manusia. Sekolah untuk mencari nilai, bukan untuk mencari ilmu. Next time, semoga bisa diperbaiki.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s