B 89xx QJ

Suatu hari saya terpaksa menginap di kost salah seorang teman saya. Dia sekamar dengan 3 orang yang lain. Saat saya datang, dua temannya sedang mudik sementara yang 1 sedang keluar dan akan tiba nanti. Seorang itu datang ketika saya sudah tidur dan ketika saya pergi dia belum bangun. Jadi kami tak saling tahu. Tapi, gadis itu tidurnya di sebelah saya di satu tempat tidur. Dan ternyata kini, saya dan dia dipertemukan oleh Allah untuk sebuah urusan yang pada akhirnya dia masuk dalam daftar ‘adik’ saya. Begitu pun sebaliknya.

Kedua, selama ini saya sering sekali saat di jalan berpapasan dengan Suzuki Karimun dengan plat bernomor B 89xx QJ. Padahal sebagai orang yang hidup di jalanan, saya bertemu dengan ratusan kendaraan setiap hari dan saya TIDAK bisa mengingat setiap kendaraan yang saya temui. Tapi setiap saya berpapasan dengan mobil tersebut, saya jelas-jelas merasakan perpapasanan (?) itu. Nah ternyata, beberapa hari yang lalu dalam sebuah acara, saya dipertemukan dengan pengemudinya dan tinggal sekamar selama 3 hari 2 malam.

Ketiga. Kemarin saya baru saja dari Batu-Malang. Saat pulang saya melewati jalur Jombang. Lewat jalur tersebut harus dengan kondisi badan yang sehat. Sebab selain jalan yang meliuk-liuk, armada bis yang bertrayek amat sangat memprihatinkan. Kondisi bangkunya licin dan sangat tidak nyaman plus suara bus gedumbrangan bikin gigi seperti mau rompol. Saran saya, sebaiknya jangan menggunakan pakaian yang berbahan sifon atau lainnya yang licin. Dan kalau perlu memakai korset agar susunan organ dalam perut tetap pada posisi semula.

Setelah naik bus dari Batu jurusan Jombang yang sukses membuat telapak tangan saya biru dan kepala saya benjol beberapa serta lengan saya memar *lebay! Tapi beneran kok :-P*. Dari Jombang tersebut saya musti naik bus lagi jurusan Babat. Lama perjalanan sekitar 1,5 jam dan kondisi armada yang hampir sama dengan trayek sebelumnya. Hanya saja, jalur ini (Babat-Jombang) ada trayek bus Widji yang menyediakan sekitar 5 armada baru yang cukup nyaman. Nah, kalau bisa saya mau naik bus Widji saja.

Saya pun bertanya pada makelar di sana. Info yang saya dapat : 5 menit lagi masuk ‘Primus’ yang tak jauh beda dengan yang saya naiki sebelumnya dan 15 lagi akan masuk Widji yang bagus. Jelas, saya memutuskan untuk naik menunggu 15 menit. Ok.

15 menit kemudian ada info terbaru. Si Widji yang kunanti ternyata sedang perawatan di bengkel. Dan akan ada Widji yang bagus sekitar 3 jam kemudian. Ya ampun! Terpaksa saya naik si ‘Primus’ yang tak nyaman. Padahal tadi sudah melewatkan ‘Primus’ yang pertama.😥

Di dalam bus, saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu. Beliau menaruh tas kecil (kalau tidak saya sebut sebagai dompet besar) di pangkuannya yang akan sangat mudah untuk diambil orang sambil lewat.

Melihat hal itu, saya langsung mengatakan pada si ibu, “Bu, maaf tas njenengan jangan diletakkan di situ. Nanti kalau ada orang turun bisa diambil dan njenengan tidak terasa.”

Ibu itu mengiyakan lalu memindah posisi tas kecilnya menjadi cukup aman.

Dan mendadak, imajinasi saya jadi liar. Haha. Tetiba saya terpikir, mungkin sebenarnya alasan utama saya tadi tidak naik Primus yang pertama, lalu menanti Widji yang yang ternyata malah tak datang, kemudian pada akhirnya saya naik Primus yang juga gedumbrangan. Kesemua itu tak lain bisa jadi adalah merupakan cara Allah menyelamatkan ibu sebelah saya dari pencopetan yang mungkin akan terjadi. Allah menyelamatkannya lewat perkataan saya barusan. Dan itu bisa jadi adalah pengabulan doa permohonan selamat yang sehari-hari dipanjatkan si ibu. Terlihat agak rumit dan panjang memang pengimajinasian saya. Haha. Karena memang begitulah rangkaian takdir bekerja. *soktoy* Bukankah memang kita bisa lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain (dengan takdir pula)? Dan doa adalah senjata utama untuk menuju ‘takdir yang terbaik’.

Lalu apakah ada kaitan antara ketiga hal di atas dengan judulnya atau dengan di antara ketiganya itu sendiri? Hal pertama dan kedua mungkin se-analog, sementara yang ketiga adalah independen. Jadi saya tidak menemukan korelasi yang baik sehingga tidak bisa membuat judul yang tepat. Begitulah.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to B 89xx QJ

  1. Pingback: Baru Kenal | Dyah Sujiati's Blog

  2. Pingback: Tulisan Sampah | Dyah Sujiati's Site

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s