Asal -,-!

Setiap pagi, di lingkungan tempat tinggal saya ada sebuah mushola yang selalu mengeraskan suara radio bersiaran ‘pengajian’ dari sebuah pesantren. Pesantren itu cukup terkenal dan memiliki kyai yang cukup kondang. Banyak orang suka dan cukup ‘patuh’ pada pak Kyai. Pengajian yang diputar adalah merupakan kajian rutin di pesantren tersebut. Sepertinya membahas kitab-kitab tertentu.

Beberapa hari yang lalu (Rabu 16/10) radio siaran seperti biasa. Saya mendengarnya sambil menyapu rumah. Kebetulan yang terdengar oleh telinga saya adalah ketika pak Kyai memberi wejangan soal menggunakan hak pilih dalam pemilu. Bahwa kita harus memilih pemimpin yang baik yang akan membawa kebaikan di masa yang akan datang jika dia terpilih. Indikatornya adalah jika caleg tersebut memberi bantuan untuk pondok, maka pilihlah dia.

Ok. Mungkin benar apa yang dikatakan pak Kyai. Mungkin akan menjadi sesuatu yang amat sangat teramat sulit untuk memastikan kelayakan seseorang menjadi wakil rakyat. Segala pencitraan yang ditampilkan benar-benar harus diseleksi. Bahkan yang trackrecord-nya sudah baik saja, berpeluang melenceng saat jadi wakil rakyat kelak. Namun dengan penuh rasa hormat, saya sampaikan bahwa indikator yang digunakan oleh pak Kyai di atas adalah sesuatu yang sangat ‘asal’ dan tanpa pemikiran yang matang.

Bagaimana mungkin kita hanya akan memilih seseorang karena dia memberi bantuan pada kita tanpa memikirkan apa yang ia akan lakukan? Tidakkah itu menunjukkan betapa murah harga kepentingan umum ditukar dengan kepentingan kita semata?Bagaimana mungkin orang yang punya empati bisa menerima bantuan sementara bantuan itu tak lepas dari keringat orang lain? Apakah hanya karena kita yang dibantu, lantas kita memilihnya, sementara kelak dia akan menjual aset negara? Ya salam! Saya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya. Sebab tak bisa dipungkiri bahwa bantuan itu adalah pengikatan untuk sebuah dukungan terhadap apapun yang dilakukan.

Maka singkat harapan saya, kita bisa menjadi pemilih yang cerdas. Pemilih yang bisa memikirkan konsekuensi atas pilihannya. Bukan sekedar pemilih yang asal mematuhi apa kata pak Kyai apalagi hanya sekedar berdasar pada bantuan yang diiming-imingkan.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Asal -,-!

  1. Harapan kita memang semoga makin banyak pemilih yang cerdas.
    Tantangannya adalah para pemilih itu berada dalam lautan informasi yang menyesatkan, informasi yang melenakan (tayangan hiburan, infotainment, dll), dan minimnya akses informasi (sehingga gak tahu apa-apa disebalik itu).

  2. haha.. akhirnya di-sharing juga tulisan tentang itu, sist.. siip, deh.. semoga para santri yang mendapat wejangan tersebut memilih dari hati nurani, bukan karena dorongan kyai🙂

  3. lazione budy says:

    ga semua yg kiai bilang harus kita ikuti, apalagi tentang politik.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s