Jumpa

Tak kusangka, kabar meninggalnya pak dhe yang baru saja kuterima dari ayah dalam perjalananku ke sini, sukses memunculkan kepribadian introvertku. Meski aku sudah ‘siap’, tapi tetap saja kehilangan itu tidak menyenangkan. Tapi tetap saja hidup kadang menjadi kejam, tak memberi sedikit ruang waktu untukku bersama diriku. Tuntutan kehidupan tak memberiku ruang untuk bersendu galau. Saatnya bergegas dan aku melanjutkan tugas.

Hari ini aku harus menghadiri pertemuan untuk 4 hari ke depan dan itu berarti aku tidak bisa melihat jasad pak dhe ku sebelum beliau dimakamkan. Ketidakenakan hatiku makin bertambah sebab di pertemuan ini aku harus bertemu dengan salah seorang kawan yang memang hobi membuat aku merasa tak enak hati. Biar kuberitahu, namanya Airin.

Ketidak-enak-hatian yang dibuat Airin padaku sebetulnya bukanlah hal yang besar yang membahayakan nyawaku. Hanya saja itu cukup untuk membalik keadaan antara kami. Contohnya begini : dia yang selalu bilang kangen padaku, cerita ini itu padaku. Tapi nanti dia akan mengatakan bahwa akulah yang selalu merindukannya dan cerita macam-macam padanya. Atau lagi begini : suatu saat kami pernah pergi bersama untuk perjalanan yang cukup panjang. Kami tentu saja berbincang-bincang di perjalanan itu. Tapi dia mengatakan pada kawan-kawan di sana bahwa tadi di perjalanan Airin tak bisa tidur lantaran aku ngomong melulu. Biasa saja sebetulnya, tapi cukup jadi alasan untuk membuat rasa tak nyaman. Setidaknya itu bagiku.

Pun dengan hari ini. Bukan tanpa alasan atau sekedar generalisasi atas kebiasaan Airin yang membuatku malas berjumpa dengannya. Beberapa hari yang lalu, Airin memintaku untuk tinggal di kamar yang sama. Dan aku pun mengiyakan. Tak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Namun ternyata dia sekamar dengan yang lain. Aku merasa khawatir, Airin akan mengira aku kecewa tak sekamar dengannya. Padahal itu sama sekali tidak benar. Dan rasa khawatir itulah yang mengganggu hatiku. Pikiran dan imajinasi kadang bisa menjadi sesuatu yang menakutkan diri sendiri.😥

Acara pembukaan akan dimulai pukul 14.00 WIB. Tepat saat aku keluar kamar, Airin juga keluar dari kamarnya. Ternyata kamar kami bersebelahan. Aku kemudian menujunya dan menyalaminya. Dia pergi ke ruang pembukaan dengan teman sekamarnya, begitu juga denganku. Dan di dalam ruangan pun, kami duduk terpisah. Hanya sejenak seusai acara, aku mendekatinya dan kami berbincang beberapa patah kata. Kebersamaan semacam ini menghadirkan rasa yang tak enak di hatiku. Apalagi datang bersama dengan kepergian pak dhe ku.

Dan seolah rombongan, rasa tidak enak  hati bentuk lain juga datang. Di saat acara pembukaan yang cukup khidmat, datanglah beberapa orang yang terlambat. Dan tahu kah siapa itu yang datang? Satu di antara mereka adalah Byun. Seorang yang pernah terlibat affair denganku beberapa bulan yang lalu. Dan kami harus berjumpa di saat seperti ini? Bahkan untuk empat hari ke depan? Tidak ada cara terbaik untuk mengakhiri ke-affair-an kecuali menghindari perjumpaan dan komunikasi dalam bentuk apa pun. Tidakkah hatiku merasa semakin tak enak?

Aku hanya bisa diam dan melihat bintang dari balkon kamarku. Aku tetap butuh waktu untuk menata hati ini. Dan aku sama sekali tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selama empat hari ke depan. Aku pun memutuskan untuk meminimalkan acara keluar kamar dan keluar kelas. Aku masih bersyukur karena aku tidak sekelas dengan Byun maupun Airin. Hanya mereka berdua yang satu kelas.

Esok pagi ketika sarapan, di luar dugaanku tiba-tiba Byun datang menghampiri. Untunglah aku sudah selesai makan dan teman sekamarku juga segera selesai. Sehingga aku bisa meninggalkan Byun dengan cepat.

Maka sejak pertemuan pagi itu, aku selalu “berhati-hati” setiap kali hendak makan. Aku memastikan apakah ada Byun dan di manakah ia sehingga aku harus mencari posisi yang ‘aman’. Sayangnya, apa yang kita hindari justru malah muncul. Mengerikan.

Hendak makan malam aku celingak-celinguk mencari Byun. Aku tak melihatnya. Lalu aku pun langsung bergabung dengan barisan yang antri makan. Orang terakhir di barisan itu adalah rekan sekantorku dan dia tidak menyadari bahwa aku di belakangnya. Maka aku menyapanya dengan kalimat, “Ngantri sembako!”
Dia dan orang di depannya menengok mendengar suaraku. Dan ternyata orang yang di depannya itu adalah Byun!😥

Di kesempatan makan malam esok hari, aku juga memastikan keberadaan Byun. Aku kembali tak melihatnya. Dengan tenang aku ikut mengantre. Karena antrian nasi di depanku terlalu padat sementara di bagian lauk-pauk sudah longgar, aku pun menuju lauk-pauk. Usai mengambil lauk aku hendak kembali untuk mengambil nasi. Dan ternyata ada Byun -lagi-!😥

Keputusanku untuk meminimalkan keluar kamar dan kelas karena Byun, mungkin membuat Airin bertanya-tanya. Airin mengirimiku pesan : Cy, kita sehotel malah ketemunya cuma seperti kemarin, blablabla.

Dan kubalas : ke kamarku saja, nanti kita ketemu.

Hari ketiga, tepat seusai aku makan siang, aku melihat Airin menuju ruang makan. Maka aku memutuskan untuk segera meninggalkan ruang makan sebelum Byun tiba. Sayang, Airin melihatku kemudian dia berteriak memanggil namaku yang hanya kubalas dengan ‘Hai’ sambil tersenyum tipis yang dibuat-buat macam artis yang kepergok paparazi.

“Cy. Kakiku sakit blablabla.” kata Airin padaku dan aku masih dengan senyum aneh yang kupaksa. “Kamu nggak kasihan padaku?” lanjutnya.

Dan kujawab ‘tidak’ dengan ekspresi yang sama.

“Ih kamu tega deh Cy!” terusnya.

“Baru tahu ya?” jawabku asal sambil terburu-buru takut tiba-tiba ada Byun. Bahkan bisa jadi mungkin Byun sudah melihatku dan aku tak tahu. Entahlah, itu hanya kekhawatiran yang berlebihan.

Entahlah, sepertinya Airin akan berkesimpulan bahwa aku kecewa padanya karena tak jadi sekamar. Dan mungkin dia akan mengatakan seperti itu pada orang-orang bahwa aku menghindar karena kecewa padanya. Entahlah, itu hanya imajinasiku. Bahkan affair antara aku dan Byun pun, bisa jadi hanya perasaanku semata. Entahlah. Yang benar hanya karena di tempat ini kami bertiga berjumpa.

*bukancerpenbukancurcolcumanyampah
*maafkan ‘aku’ Airin, jika suatu saat Tuhan kita mempertemukanmu dengan tulisan ini. Kau gadis yang baik dan hanya perlu sedikit belajar.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen and tagged . Bookmark the permalink.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s