Baru Kenal

Hari Rabu kemarin saya kembali melakukan perjalanan dari Batu-Malang menuju Babat. Saya harus naik bus jurusan Jombang lalu oper bus jurusan Babat. Dan tulisan saya kali ini akan setipe serta tidak lebih dari penguatan ke-soktoy-an saya sebelumnya.:mrgreen:

Jam 9 lewat saya berangkat dari terminal batu dan dalam keadaan belum sarapan. Padahal, seharusnya sebelum perjalanan jauh kita dalam keadaan sehat dan perut terisi. Sehingga tidak masuk angin. Dan tak dapat dihindari, pada akhirnya saya mabok!

Seharusnya, dalam kondisi seperti itu, saya segera memasukkan karbohidrat dalam perut saya. Namun apa daya, sepanjang Batu-Babat, tak ada penjual makanan berat.

Kalau saja di tempat oper bus di Jombang itu ada penjual bakso atau mi ayam atau lainnya, saya lebih memilih untuk mampir ke tempat tersebut lebih dahulu. Namun faktanya, di sana hanya ada penjual minuman semata. Maka begitu saya turun bus pertama dan kebetulan langsung ada bus jurusan Babat, saya langsung lari dan masuk bus tersebut.

Awalnya saya duduk di sebuah bangku lalu ada seorang ibu menggendong bayi dan persilakan ibu itu duduk di samping saya. Lantaran bus berhenti, saya bermaksud membeli minuman ion di luar karena tak ada penjual minuman yang naik.

Ketika saya hendak kembali ke bangku awal, ternyata suami ibu tadi meminta saya pindah ke bangku depan. Dan akhirnya saya duduk dengan Mbak Oi. Inilah inti awal dari prolog saya yang begitu panjang. Haha.

Sebagaimana layaknya orang yang baru kenal, kami saling tanya tujuan dan asal-usul kami masing. Perbincangan di antara kami mengalir seperti udara. Sahut-menyahut tak kehabisan kata. Sampai akhirnya datang kondektur menarik ongkos.

Saya serahkan selembar dua puluh ribu untuk ongkos dua orang (saya dan mbak Oi). Ternyata kondektur protes dan minta tambahan 4 ribu. Mbak Oi hendak menambah kekurangan ongkos, tapi buru-buru langsung saya hentikan. Saya mencegat (?) tangannya saat hendak memberikan uang. Adegan itu semacam adegan so sweet di drama-drama romantis. *hallagh

“Nggak mas. Kemarin Jumat saya bayar 10 ribu kok satu orang.” kata saya kekeuh pada mas kondektur.

“Nggak mbk. 12 ribu.”

“Nggak.”

“Ya sudah, tambah dua ribu saja.”

“Nggak.” saya tetep kekeuh. Dan mbak Oi bergantian memandang kami.

“Ya sudah, turun Ploso saja kalau begitu.” kata si kondektur sambil memberi saya uang kembalian 15 ribu. Ini maksudnya adalah kami akan diturunkan secara paksa di Ploso.

Saya tak mau menerima uang itu tapi oleh mas kondektur diletakkan di atas tas saya. Saya masih kekeuh, jika nanti kami dipaksa turun, kami akan turun. Daripada saya harus menambah 4 ribu atau 2 ribu. Karena bukan masalah 2 ribu-nya, akan tetapi, ini adalah pelanggaran tarif. Tadi pun saya sudah bilang pada kondektur bahwa saya akan melaporkan pada dishub. Jadi saya tetap bersikeras tak mau menambah uang karena setahu saya tarifnya adalah 10 ribu. Lha wong baru  lima hari yang lalu saya bayar segitu, mana mungkin sekarang sudah naik?

Dan apakah anda tahu apa yang terjadi selanjutnya? Saya pun tak menyangka akan terpikirkan ide ini. Saya dan mbak Oi justru memutuskan untuk benar-benar turun di Ploso guna makan siang! Ahaha! Cerdas sekali, bukan?

Sebab mbak Oi akan menuju Lasem. Dia tak mungkin mampir untuk makan seorang diri. Jika kami meneruskan perjalanan sampai tujuan masing-masing, insyaallah kami kuat. Tapi? Bisa jadi kami akan sakit setelahnya lantaran telat makan. Bisa masuk angin pula. Inilah cara Allah menjaga kesehatan kami. Terutama (mungkin) bagi Mbak Oi yang dalam beberapa hari ke depan harus melaksanakan tugas penting dalam hidupnya dan dia harus sehat.

Lalu dalam perjalanan dari Ploso ke Babat ternyata saya naik bus yang sama dengan yang saya naiki hari Jumat sebelumnya itu. Saya menyerahkan 18 ribu untuk ongkos berdua. Ternyata kurang 2 ribu -lagi-.:-/
Saya pun menawar, “Dari Jombang 10ribu kok Pak?”

“Nggak dik, dari Jombang 12 ribu.” jawab pak kondektur.

Lha? Kemarin kan saya bayar 10 ribu di kondektur yang sama!

Inilah rangkaian takdir itu. Bisa jadi kemarin waktu itu pak kondektur khilaf sehingga saya gagal paham soal tarif dan tetap kukuh pendirian. Bahkan bisa jadi kebertemuan (?) saya dengan bis waktu itu setelah melalui beberapa kerumitan sebelumnya, adalah bagian dari rangkaian takdir ini pula. Seperti itulah nampaknya  rangkaian takdir bekerja. Siapa yang tahu?

Pun bisa jadi ini adalah cara Allah memberi kesehatan kepada kami yang merupakan bagian dari doa-doa kami. Inilah cara Allah mengatur kehidupan hamba-hamba-Nya melalui rangkaian proses dan takdir yang telah Ia susun sedemikian rapi dan rincinya. Sekali lagi saya tulis bahwa doa adalah senjata utama menuju ‘takdir yang terbaik’. Dan perlu saya tulis pula, bahwa hampir dalam setiap perjalanan saya ada cerita menariknya masing-masing. Termasuk kali ini, antara saya dan Mbak Oi yang baru saja kenal.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Baru Kenal

  1. 🙂 kurang dua ribu, neng..
    hihi.. ceritanya tegang begitu.
    manusia memang sering khilaf, mbak..
    tapi ada hikmahnya juga dari kejadian itu mbak bisa belajar tentang ‘tepo seliro’. salam buat mbak oi kalau ketemuan lagi, ya, mbak..

  2. Pingback: Tulisan Sampah | Dyah Sujiati's Site

  3. Pingback: Bahagia itu Sederhana | Life Fire

  4. Avel says:

    Ribet ammmat..😕

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s