Penangkal 3D

Beberapa waktu yang lalu ketika musim tes CPNS, saya sempat mendengar secuil kisah yang cukup membuat saya ingin tertawa. Bukan lagi menjadi rahasia bahwa kebanyakan orang bercita-cita menjadi PNS. Entah dirinya sendiri atau anaknya atau menantunya. Alasannya klasik: gaji terjamin, pensiun tenang, kerja pun tak rekassa (berat), plus status sosial yang mendadak meningkat. Karenanya, pekerjaan menjadi PNS ini memiliki angka peminat yang selalu tinggi. Bahkan bagi warga negara Indonesia yang suka cara instan, menjadi PNS pun dilakukan dengan segala cara. Dan yang paling lucu adalah yang sebenarnya tidak berkompeten namun tetap memaksa untuk jadi PNS. Pokoknya jadi PNS, tak peduli cara masuknya itu benar atau tidak. Orang-orang macam inilah yang menjadi akar ‘keterpurukan citra PNS’.

Di desa tempat saya tinggal pun demikian. Status PNS adalah status paling OK menurut mereka. Sehingga pada masa tes CPNS macam kemarin, menjadi banyak gosip yang tersebar. Di antaranya adalah mengolok-olok si A yang tak kunjung diterima, menggunjing si B yang telah menghabiskan sekian puluh juta untuk bisa diterima, dan sebagainya. Seorang yang mengikuti tes itu mendadak bisa menjadi artis yang ramai dibicarakan di desa. Begitu pula dengan salah seorang teman saya yang juga mengikuti tes CPNS. Dia menjadi salah satu tokoh yang dibicarakan.

Suatu pagi ketika berbelanja, ibu saya bertemu dengan tetangga depan rumah kawan saya itu dan mereka membicarakan si kawan yang tak lulus tes CPNS. Kata si tetangga bahwa menjadi atau lulus tes CPNS itu modalnya ada 3D. Nah, si kawan saya itu katanya kurang 1D. Ibu saya pun bertanya, “Apa itu 3D?”

Jawab si tetangga, “Doa – Duit – Dukun!” dan kawan saya itu kurang di D yang kedua.

Ya salam! Bagaimana saya tidak ngakak mendengarnya? Betapa kontras masing-masing kata jika dipertemukan maknanya. Saya tidak bermaksud memperpanjang tulisan kali ini. Jadi singkat saja saya katakan bahwa pemikiran soal dukun itu bisa memperlancar atau bahkan menjadi faktor penentu keberhasilan, adalah pemikiran yang amat sangat teramat kuno dan primitif.

Ok, sekarang saya akan berganti pada tema yang lain. Dulu saya pernah mengikuti sebuah kegiatan selama 21 hari. Waktu itu sekamar  saya berisi tujuh orang. Dua sudah menikah dan sisanya belum. Salah satu dari 5 orang yang belum menikah itu ada yang teramat manis (dan itu bukan saya :mrgreen:) sehingga ada begitu banyak laki-laki yang naksir padanya. Saya  menyebut gadis itu sebagai gadis baku tembak. Sebab para lelaki itu berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya dan ingin ‘menembaknya’. Mereka mengirim coklat, makanan, bunga, boneka, dan lain sebagainya.

Lalu siapa yang paling diuntungkan dari kejadian baku tembak itu? Tentu saja kami kawan-kawan sekamar ikut kecipratan menikmati makanan yang dikirim. Apalagi coklat! Ahaha, oportunis!

Menyikapi makanan gratisan itu kami mempertimbangkan risiko yang bisa saja ada. Kami mengembalikan pada apa yang menjadi tujuan si pengirim itu. Jangan-jangan makanan yang dikirimkan telah diberi mantra agar si pemakan jadi cinta pada yang memberi. Oh, tidaaaaaakkkk! Maka dengan sokpintar, kami melangkahi setiap makanan yang hendak dimakan sebanyak tujuh kali. Untuk menangkal mantra yang mungkin ada sehingga tidak bisa tembus pada kami. Ahaha, how silly it was!

Dan kegiatan bodoh itu tak lebih dari kekonyolan dan keisengan kami semata. Sebab dalam hati kami yakin bahwa tidak ada yang bisa dilakukan oleh dukun kecuali  itu memang sudah menjadi kehendak Allah. Kami tahu, ada yang namanya dukun, santet, mantra, dan sebagainya. Dan bisa saja itu ditujukan pada kami. Namun, kami yakin bahwa itu tidak akan berefek apa pun pada kami kecuali Allah menghendaki demikian. Maka tak ada cara yang paling tepat untuk menangkal dukun, santet, dan kawan-kawan primitifnya itu kecuali dengan doa. Yakinlah bahwa Allah Maha Mengabulkan Doa.

Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu yang Mahatinggi, aku memohon perlindungan dari segala macam kejahatan makhluk-Mu

Dan sebagai penutup tulisan ini, saya sampaikan permohonan maaf lantaran judul dengan isi tulisan tidak memiliki hubungan yang semestinya.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Penangkal 3D

  1. mysukmana says:

    bukanya Doa sama Ikhtiar ya .he he he he..saya juga PNS mbak (Pegawai Negeri Swasta)😀

  2. niaaaaa says:

    Prajaaaaaaaaabbb…!!! Wkwkwk..

  3. Sebagian dalam masyarakat kita sudah koplak. Kasihan sekali ya.
    Dukun kok dijadikan andalan.
    Anehnya lagi rela keluar duit ratusan juta rupiah demi bisa masuk PNS.

  4. *ngakak*
    kegiatan 21 harinya memorable yaa.. termasuk ngelangkahin coklatnya. hehe
    btw sepertinya Si Gadis Baku Tembak insya Allah abis ini mau nikah lhoo🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s