Menulis Itu?

Blog merupakan wadah tempat seseorang menuangkan apa yang ia pikirkan, apa yang ia rasakan, juga apa yang usai terjadi padanya dalam bentuk tulisan. Jadi yang namanya blog tidak bisa dipisahkan dari yang namanya tulisan.  Tulisan sebetulnya merupakan salah cara orang berkomunikasi pada orang lain. Sebab melalui tulisan itu, seseorang menyampaikan informasi kepada orang lain. Sedang blog merupakan salah satu media untuk menyampaikan tulisan yang dimaksud.

Di sisi lain, soal menulis adalah hak dan seni masing-masing orang. Setiap orang memiliki gaya dan cara tersendiri dalam menulis. Dan terkadang, korelasi antara blog dan tulisan, bisa jadi memunculkan ‘euforia menulis’. Pokoknya nulis.

Sementara sebagai salah satu cara berkomunikasi, menulis setidaknya harus memenuhi standar minimal kemanusiaan. Menulis tidak sekedar untuk melegakan hati tapi juga berharap menjadi sesuatu yang bermanfaat. Apalagi untuk dipublikasikan melalui blog. Yang mana tulisan itu akan dibaca oleh orang lain. Pembaca bisa saja dari orang non-bloger. Maka jangan sampai orang yang membaca itu tidak mengerti apa yang disampaikan. Atau malah jadi gagal paham.

Maafkan saya, barangkali saat ini terlalu sotoy. Tapi sungguh, semua ini hanya karena saya ingin berbagi tanpa bermaksud menggurui sedikit pun. Dan dengan rendah hati, izinkan saya menuliskan poin-poin batas standar minimal kemanusiaan dalam menulis. Setidaknya ini berdasarkan pelajaran Bahasa Indonesia yang saya terima waktu SMP. Penjelasan lengkap masing-masing poin bisa dicek di buku bahasa Indonesia untuk siswa SMP. [bongkar-bongkar kardus nyari buku]

1. Menggunakan tanda baca yang jelas.
2. Menggunakan huruf besar dan kecil sesuai tempatnya.
3. Susunan kalimat yang sesuai standar SPOK.
4. Tidak menggunakan kalimat yang bermakna ganda.
5. Alur tulisan yang terstruktur dan logis.
6. Tulisan fokus pada satu tema.

Ketika kita menulis sesuatu yang rancu, akan berakibat pada kesalahan penerimaan informasi. Kalau untuk tulisan berjenis curhat, mungkin masih ada toleransi. Meski tetap berisiko. Apalagi kalau sudah membahas hal yang cukup ‘berat’. Sebagai contoh, misal akan menulis tentang peran orang tua dalam mengantisipasi dampak pornografi yang tersebar bebas melalui internet. Ya di sana tuliskan saja soal : dampak buruk apa saja yang mungkin terjadi, cara-cara penyebarannya, dan langkah-langkah untuk mengantisipasinya. Perlulah sedikit diberi gambaran tentang apa itu pornografi di awal tulisan. Sedikit saja. Kalau misal memberi contoh kasus, jangan sampai contoh itu malah jadi fokus dan mengaburkan tujuan utama penulisan.

Atau misal lagi begini. Kalau memang ingin menulis soal anak berusia tujuh tahun yang (maaf) penisnya sudah bisa berdiri karena melihat iklan handbody lantaran banyak bermain game online di internet, maka yang harus ada di tulisan tersebut adalah hubungan antara ketiganya. Jangan tiba-tiba melompat pada kesimpulan tanpa memberitahukan korelasi di antara ketiga hal itu. Agar pembaca tidak bingung.

Pun ketika menulis hal-hal yang ringan atau sekedar curhat, tetaplah mengikuti standar minimal kemanusiaan penulisan. Tidak sekedar menuruti euforia ‘pokoknya nulis’. Apalagi jika ingin tulisan itu bermanfaat bagi pembaca. Agar orang yang membaca tulisan itu menangkap informasi dan mengerti apa yang kita sampaikan sesuai dengan apa yang kita maksudkan. Jangan sampai terjadi miskomunikasi.

‘Kemauan mau menulis’ adalah hal sangat perlu diapresiasi dan disyukuri. Karena bagaimana pun, tidak semua orang mau. Dan hal itu seharusnya menjadi penyemangat bagi diri untuk terus belajar guna meningkatkan kualitas tulisan kita.

Jadi, tanpa mengabaikan gaya dan seni masing-masing orang, menulis itu memiliki standar minimal kemanusiaan yang harus dipenuhi. (Sekali lagi) agar tidak terjadi miskomunikasi.

*NTMS (Note to my self)

Related post : Belajar

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Pengetahuan Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Menulis Itu?

  1. j4uharry says:

    Eyaaah tulsian saya loncat sana loncat sini ahahah ……

  2. Kalau mbk dyah menulis blog berstandar SPM, kalau An menulis blog suka” aja,mbk. Terserah anggapan orang tulisan An it asyik atau enak dibaca. Hal yang penting dan disyukuri a/ saya sudah mau menulis. It saja. Karena menulis blog bagi saya tidak dibatasi aturan baku seperti menulis artikel ilmiah. Kec.kalau blognya berisi hal” ilmiah😀

    • Dyah Sujiati says:

      Kalau untuk tulisan santai dan gj, yang jadi PSM (penulisan standar minimal ) adalah tanda baca dan susunan kalimat yang tidak membingungkan😉

      • Boleh aja,sih,mbk. Dalam membuat SPM dalam menulis blog. Tapi perlu diingat, setiap orang punya SPM masing” dengan gaya menulis yang berbeda. Jangan s/d kita mencela tulisan orang lain karena tidak memenuhi SPM (standar penulisan minimal) milik kita. Have enjoy writing!

      • Dyah Sujiati says:

        Kan sudah saya tulis di situ bahwa setiap orang punya gaya dan seni masing-masing. Saya hanya menekankan pada soal tanda baca dan susunan kalimat agar tidak miskomunikasi antara penulis dengan membaca.

        Atau, apakah ada kata/tulisan saya yang mencela?

        Mari kita melestarikan budaya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kasihan tuh temen-temen kita yang belajar bahasa atau tetua kita susah- susah yang telah merumuskan EYD. Kasihan juga guru-guru bahasa Indonesia kita. Happy bloging, happy writing, and happy learning!😀

      • Yup, benar, Mbak. Boleh aja, sih, dalam membuat SPM (Standar Penulisan Minimal) seperti itu🙂 Tapi sebaiknya kita tak boleh mencela apabila menemukan tulisan blog orang lain yang tak sesuai dengan SPM yang kita punya. Cukup memberikan masukan dengan santun, tanpa perlu menggurui🙂 Have just fun with writing blog…

      • Dyah Sujiati says:

        Nah, tulisan ini saya maksudkan untuk berbagi ilmu dalam menulis. Bukan semata-mata saya yang membuat aturan. Siapalah saya ini? Hanya gadis biasa yang sedang mengisi waktu dalam perjalanan pulang.

        Apakah dalam tulisan ini ada yang saya cela? Tidak, kan?😉

      • Dyah Sujiati says:

        Kalau memberi masukan ke orang lain soal gaya tulisan (bukan isi), saya belum pernah. Dan postingan ini semata-mata hanya untuk berbagi sedikit ilmu tentang menulis, itu saja. Buat sangu😉

    • Dyah Sujiati says:

      Tanpa mengabaikan gaya dan seni masing-masing orang dalam menulis atau memaknai menulis, tetap ada cara yang baik agar pesan yang disampaikan lewat tulisan itu sampai ke pembaca. Jadi bukan terletak pada asik atau tidaknya (karena itu berdasar selera masing-masing orang) sebuah tulisan. Tapi pada makna yang agar bisa ditangkap.

  3. lho.. komentku kok muncul double-double, yaa.. hehe.. afwan, mbak.. lost connection…

  4. Setuju!
    Jangan sampai setelah roh kita meninggalkan jasad, trus menyesali terhadap apa yang dituliskan ke publik.

  5. Pingback: Belajar | Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s