Harus Segera!

Hei kenapa kamu kalau nonton dangdut
Sukanya bilang ( Buka sitik Joss)
Apa karena pakai rok mini jadi alesan

Sukanya…abang ini Lihat-lihat bodiku yang seksi
Senangnya….abang ini Intip-intip ku pakai rok mini

Siapa yang tak tahu kalimat-kalimat itu? Saya pikir, hampir setiap orang di Indonesia  yang punya telinga yang berfungsi normal pernah mendengarnya. Bahkan bocah ingusan yang belum fasih menyebut huruf ‘r’ sudah banyak yang bisa menirukan lagu itu. Tentu dengan perubahan bunyi ‘r’ menjadi ‘l’. *Abaikan!

Belakangan ini, saya dengar orang-orang sedang ramai membicarakan soal video bocah SMP yang ‘mencoba’ memperagakan adegan suami-istri. Mendadak orang-orang jadi serba pintar, mereka mengemukakan pendapatnya masing-masing dari sudut pandang masing-masing pula. Ada yang menyalahkan orang tua, ada yang menyalahkan pihak sekolah, ada yang menyalahkan si anak, ada juga yang menyalahkan polisi. Yang terdengar cukup humoris menurut saya, adalah mereka yang berkomentar dan ikut menyebar video tersebut melalui jejaring sosial mereka dengan dalih sebagai edukasi. Ya salam, bagaimana terfikir ide seperti itu?

Bagaimanapun, kasus bagaimana video itu bisa terjadi dan menyebar sekian cepat melebihi penyebaran endemik virus, jelas menganggu kestabilan ekosistem kehidupan. Menganggu ketenangan dan tentu saja meresahkan. Tidakkah begitu wahai para orang tua yang memiliki anak gadis? Maka sebagai manusia yang berakal, akan ada dua pertanyaan mendasar yang pasti diajukan. Apa penyebab terjadinya hal itu dan siapakah yang bertanggung jawab atas semua ini? Dan kedua pertanyaan itu hanya bermuara pada satu hal : solusi!

Baiklah, biar saya sederhanakan saja meski sebetulnya ada banyak faktor penyebab tragedi itu terjadi. Di antaranya adalah menjamurnya pornoaksi dan pornografi mengalahkan jumlah sel dalam jamur. (?) Begitu mudah ditemui gambar maupun video berbau porno. Apalagi di jaman serba internet macam sekarang. Kemudahan yang disalah-fungsikan oleh mereka yang kurang cerdas dalam memanfaatkan kemudahan.

Salah satu bentuk pornoaksi maupun pornografi  yang amat sangat mudah ditemukan adalah pagelaran musik dangdut beserta penyanyi-penyanyinya. Tidak lupa juga kata-katanya. Lagu di atas sebagai contoh. Pornoaksi dan pornografi lewat dangdut bertaburan di mana-mana. Di bus, di pasar, di acara pernikahan, bahkan dalam acara resmi halal-bihalal! Oh tidak! Lagu-lagu dangdut diputar hampir di setiap hajatan. Di rumah masing-masing orang.

Kita bicara fakta, bagaimana para penyanyi dangdut itu mengenakan pakaian. Bagaimana mereka menampilkan gerakan-gerakan badan. Mereka perempuan dan makin menonjolkan bagian tubuhnya yang memang sudah menonjol. Meski tidak sampai pada perbuatan hubungan seksual yang dipertontonkan, tetap saja tingkah laku dan pakaian merka, memancing libido kaum pria (tak peduli berapa pun usianya). Kalau anda (laki-laki) bilang tidak, berarti anda perlu periksa. Ya ampun, atau mungkin mereka lupa bahwa kita sekarang tak lagi hidup di jaman purba. Di mana manusia  masih hidup dengan cara yang primitif baik dalam berpakaian maupun berinteraksi. Manusia primitif yang memang tingkat kecerdasannya masih rendah. Sehingga kalau pun ada manusia modern yang terlempar ke masa itu lalu memberi tahu mereka, pastilah kecerdasan mereka tak akan mumpuni.

Tontonan pornoaksi dan pornografi yang dibawakan melalui dangdut itu, yang bertebaran di mana-mana, tentu saja diakses dengan mudah oleh anak-anak. Mereka akan meniru apa yang mereka lihat. Terutama yang perempuan, yang akan meniru gerak-gerik dan pakaian yang dikenakan si penyanyi. Lalu laki-laki yang melihatnya, baik anak-anak namun dewasa, akan terangsang libidonya. Maka jangan heran, kalau kemudian dia (anak perempuan) dicabuli oleh yang melihat. Sementara laki-laki yang terangsang libidonya lantaran melihat bodi seksi di depan mata, akan mengalami perang batin. Dan jika pada akhirnya tak mampu menahan hasrat, siapa yang akan jadi korban? Anak-anak! Tapi kemudian kalau mereka bilang ‘suka sama suka’, ya berarti mereka kembali lagi ke jaman purba yang primitif.

Ada seseorang yang bersikukuh bahwa pornografi dan pornoaksi  itu tidak berpengaruh apa-apa pada anak-anak. Biarkan saja mereka menonton hal-hal seperti itu yang katanya merupakan bagian dari pendidikan seks. Padahal dia sendiri bilang kalau kematangan kelamin harus seiring sejalan dengan kematangan emosi. Nah, justru di situlah poinnya. Untuk pendidikan seks, ada tempatnya sendiri dan disesuaikan dengan usia serta perkembangan emosi anak. Itulah tugas orang tua dan guru. Bukan dengan asal lihat orang primatif salah kostum di panggung. Bukan pula dengan liar anak-anak itu menonton di alat elektronik (apa pun).

Sebetulnya juga sudah ada UU Antipornoaksi dan Pornografi. Tapi entah kenapa, UU tersebut belum sepenuhnya diterapkan sampai sekarang.[Sama sih, dengan UU yang lain]. Masih ada yang ngotot kalau UU itu katanya mendeskreditkan perempuan. Aduh, saya heran! Wong saya sebagai perempuan malah senang dan merasa terlindungi dengan adanya UU itu!

Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab? Biar keponakan kecil saya yang bilang bahwa ini adalah tanggung jawab kita semua. Baik anda yang punya anak, adik, keponakan, tetangga perempuan atau pun yang tidak sama sekali. Kita punya tugas dan tanggung jawab sesuai dengan posisi kita masing-masing di mana pun kita berada untuk mencegah dan menghentikan pornoaksi maupun pornografi. Kalau di negara kita belum ada institusi atau Undang-Undang untuk menghentikan pornoaksi dan atau pornografi, kita bisa memulai dari diri sendiri. Anda mengadakan hajatan? Pakailah lagu bermutu. Atau hentikan memutar lagu dangdut yang porno itu sesegera mungkin. Dengarkan saja musik-musik yang bermutu.  Itu salah satu contoh tindakan konkrit yang bisa dilakukan dan mudah.

Maka yang harus segera dilakukan adalah sedikit saja perubahan sikap dan pola pikir. Mudah saja, setiap orang pasti menginginkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak diliputi kegundahan dan keresahan akibat ketidakstabilan ekosistem kehidupan. Dan itu adalah hak setiap orang. Itu pasti. Maka mari kita menikmati kedamaian dan kebahagiaan hidup dengan cara yang cerdas, tidak lagi menggunakan cara-cara yang kuno dan primitif. Atau jika masih ada yang berteriak kekanak-kanakan, “ini hak saya!”, helloww orang lain  juga punya hak kaleeee! Dan orang yang cerdas tahu bagaimana memenuhi hak dirinya dan orang lain dalam setiap waktu yang ia gunakan. Ayo segera hidup bahagia yang cerdas!

Related post : Analogi Rasa

Cheers ^__^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Harus Segera!

  1. Kondisi masyarakat memang sakit, ucapan tidak bermanfaat malah dijadikan lagu. Dipromosikan terus setiap hari sekian jam, dari pagi sampe malam.
    Sampai ada joke…
    Apa hikmah Ramadhan mu tahun ini?
    Khatam Buka Sitik Jos!
    … Hebat!

    Dari goyang ngebor, goyang gergaji, goyang patah-patah, goyang kayang, …entah apalagi ya…., kemudian goyang itik, tadi pagi di tivi muncul yg namanya … goyang kimcil. Ada lagunya lagi… padahal arti kimcil itu adalah berbau pornografi. Eh, malah mulai dinyanyiin anak-anak.

    Duh, makin sakit aja masyarakat kita.

  2. jampang says:

    saya baru baca lirik di atas. ketinggalan info banget😀

    dangdut sekarang sudah bergeser daripada dangdut yang dulu saya dengar

  3. felis catus says:

    Setuju Dyah, mulai dari diri kita sendiri. Mulai dari hal-hal yang terlihat kecil (seperti memilih musik yang didengar, memilih acara TV yang dilihat, dsb) tetapi sebenarnya efeknya besar. Sejauh ini, konon mengapa begitu banyak hal-hal berbau seksual bertaburan di ruang publik karena katanya adalah karena tingginya permintaan publik. Kalau kita sebagai bagian dari publik tidak “membeli” ataupun tidak “menggunakan” produk tersebut, mudah-mudahan akhirnya akan hilang.

  4. lazione budy says:

    Prihatin sama lirik lagu-lagu sekarang yang payah, parah dan vulgar. Harusnya para musisi memeprtanggung jawabkan hasil karya mereka, bukan asal laku dan tenar. Prihatin..

  5. alfath says:

    tulisan ini menarik. semenarik pertanyaan yg beruntutan muncul dalam benak saya. saya akui iman saya terlalu lemah untuk sekedar menegur mayoritas tetangga yg masih asik panggil penyanyi dangdut bertubuh bohai di tempat tinggal saya. mungkin bagi saya, cukup matikan tv acara sejenis, atau tak berlama2 berkondangan ke tempat yg mengandung acara serupa. satu yang sangat sulit, merubah selera massa tidaklah mudah. bahkan ketika mengamati konser musik yg overload di suatu kota dan ditayangkan di televisi, komentar saya cuma satu, “begitu mudahnya membunuh sekian massa generasi muda di acara konser dengan meledakkan bom di tempat saat itu juga, akan tetapi itu tidak terjadi. yg ada bukan segera mati, tapi yg ada mati iman ketika raga masih bernyawa.” btw, tulisan ini memang menarik sekali, terlebih tersebar untuk mereka yg masih doyan hiburan sejenis.

  6. Pingback: Analogi Rasa | Dyah Sujiati's Blog

  7. Pingback: Kalau Kasihan | Dyah Sujiati's Blog

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s