Tiga Kemungkinan

Pada sebuah postingan yang sekarang sudah saya hapus (?), rasanya saya terlalu jahat dan semena-mena membuat kesimpulan. Ketika saya memikirkan kembali apa yang telah saya perbuat, saya memperoleh satu kesimpulan. Bahwa ternyata diri saya lah yang belum bisa menguasai emosi yang muncul. Komulatif  antara ketakutan, kekagetan, keputusasaan (lantaran hati saya ingin raga bergerak namun nyatanya saya tak mampu), dan kebiasaan buruk saya pada akhirnya memunculkan tindakan : ngomel. Berarti di sanalah letak kekurangan yang harus saya perbaiki. Semoga saya bisa dan tidak perlu waktu lama! Amin.

Waktu itu terjadi kecelakaan di depan mata saya. Seorang bapak ditabrak oleh truk di belakangnya. Saya cuma nangis dan malah ngomeli orang di samping saya itu tadi. Lantaran orang di samping saya hanya diam tak tergerak. Saya sendiri ‘macet’ tak mampu menggerakan raga saya untuk menolong si bapak walau hati saya ingin sekali segera menolongnya.

Saya terlalu gegabah menilai lelaki di samping saya bahwa dia memiliki critical accident yang kurang baik sehingga dia tidak segera bergerak menolong si bapak. Secara dia seorang lelaki, menurut saya. Padahal, bisa jadi ada tiga kemungkinan yang terjadi dalam diri laki-laki itu.

1. Dia sendiri shok melihat kecelakaan di depan mata. Sehingga dia sendiri tak mampu segera bergerak. Tak hanya perempuan, laki-laki pun bisa mengalami shok macam itu. Orang Jawa menyebutnya : tinggingen.
2. Lelaki itu memang kurang cerdas dan tanggap menghadapi situasi macam itu sehingga dia tak tahu harus berbuat apa.
3. Lelaki itu memang merasa tidak peduli jadi memang tak ada yang perlu dia lakukan. Toh nanti akan ada yang nolong.

Tiga kemungkinan di atas, hanya salah satu yang terjadi pada diri lelaki itu. Dan saya tidak tahu. Jadi saya memang terlampau sewenang-wenang dengan menjustifikasi dia pada posisi yang ketiga.

Ok, tidak perlu membicarakan tentang kesewenang-wenangan saya. Karena itu memang hal yang salah dan harus segera saya perbaiki. Yang ingin saya tulis selanjutnya adalah tentang tiga kemungkinan itu. Kemungkinan pertama adalah hal yang sangat manusiawi. Semua orang bisa mengalaminya. Dan tidak ada salahnya sama sekali.

Sementara kemungkinan kedua, adalah terkait dengan kebiasaan yang biasa dia lakukan. Kebiasaan yang tidak perlu dibiasakan. Kata lain, dari kebiasaan yang perlu diubah. Kebiasaan kurang tanggap dan kurang cekatan adalah kebiasaan yang tidak membawa manfaat. Tanggap dan cekatan adalah kebiasaan yang bisa dilatih. Percayalah, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin asal mau belajar.

Melatih ketanggapan dan kecekatanan dapat dilakukan melalui banyak cara. Tak harus ikut beladiri atau semacamnya. Juga tak harus bertemu dengan kecelakaan, baru belajar. Sehari-hari kita sering dipertemukan dengan kejadian-kejadian mendadak yang butuh respon cepat. Nah, manfaatkan saja momen-momen itu.

Lalu kemungkinan yang ketiga inilah yang benar-benar harus segera dirubah. Secepatnya. Jangan sampai kita menjadi terlalu egois dan merasa kepentingan kita adalah yang sepenting-pentingnya untuk kita lakukan. Sedikit waktu yang kita luangkan untuk menolong seseorang di dekat kita yang membutuhkan bantuan, akan mendapat ganti untung yang jauh lebih banyak.

Dimulai dari mana? Dari hati kita yang bisa lebih lembut untuk menaruh sedikit empati pada orang lain. Dan setiap kebaikan kita sekecil apa pun pasti akan kita peroleh balasannya berlipat-lipat kali lebih banyak. Dari yang tidak peduli menjadi peduli adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan dilatih. Yakin saja bahwa kepedulian kita dalam bentuk apapun akan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita sendiri.

Perlu dicatat, di sini saya tidak sedang membicarakan lelaki di samping saya waktu itu. Tapi tentang tiga kemungkinan yang mungkin terjadi dengan subjek diri kita masing-masing. Tiga kemungkinan terkait dengan critical accident yang saya maksud. Get my point? Baiklah, kalau tidak, mari kita lupakan saja.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Tiga Kemungkinan

  1. lazione budy says:

    Hehe…, saya kalau lihat kecelakaan akan mencoba jadi orang pertama yang akan berlari membantu. Semacam timbal balik karena saya dulu pernah jatuh dari motor dan ada orang baik yang menolong saya, walau sekedar membantu meminggirkan kendaraan.

    With great power comes great responsibily. Heleh, lupakan…
    😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s