Analogi Rasa

Seorang sahabat mengirimkan scan halaman dari sebuah buku yang sedang beliau baca. Judul buku itu adalah : Mengebor Kemunafikan : Inul, Seks, dan Kekuasaan. Buku yang ditulis oleh FX Rudi Gunawan, diterbitkan oleh Gramedia, dan diberi pengantar oleh Ulil Abshor Abdalla. Buku yang secara umum mendukung dangdut-dangdut koplo dan menyatakan soal seni sebagai kebebasan berekspresi. Yang kata sih itu dimaknai dalam makna yang teramat sempit.

Ada pernyataan seorang tokoh pegiat feminisme di sana yang menggelitik jari saya untuk menulis pada kesempatan ini. Berikut petikannya,

Cara berekspresi Inul tidak ada hubungannya dengan pemerkosaan. Kenaikan tindak pemerkosaan dan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan disebabkan oleh ketidakmampuan sistem hukum Indonesia memberikan perlindungan hukum kepada perempuan.

image

image

Okelah, setiap orang berhak untuk berfikir dan berpendapat. Dan itu memang hak-nya berkata demikian. Hanya saja, sebagai manusia, hidup tidak sekedar pada urusan individu. Pemikiran dan perkataan manusia membawa konsekuensi masing-masing. Di  situlah fungsi akal yang hanya ada pada manusia dan membedakannya dengan makhluk lain.

Sebelumnya, mari kita sejenak kita bermain logika matematika yang diajarkan di bangku SMP dan SMA. Ada yang namanya implikasi atau jika x maka y. Dengan x dan y adalah variabel yang kita gunakan. Pun dalam kenyataan, kita sering mendengar yang namanya hukum sebab akibat. Jadi biar mudah, saya tarik saja sebuah konklusi yaitu setiap sesuatu yang terjadi pasti ada penyebabnya. Dan jika konklusi kita negasikan akan menjadi : setiap sesuatu akan mengakibatkan sesuatu yang lain. Begitu seterusnya.

Biar mudah, biar saya tuliskan analoginya. Saya menyebut ini sebagai analogi rasa. Contoh begini : seseorang yang melihat bintang, sungai, gunung, pemandangan akan menghadirkan ketenangan dalam jiwa dan hatinya. Selanjutnya rasa tenang itu akan membuat pikiran lebih segar. Pikiran yang segar akan berpengaruh pada sikap yang muncul dari orang tersebut, dia bisa lebih tenang dan menjadi orang yang menyenangkan. Dan lebih dari itu, pikiran yang segar akan membuat produktivitas dan kinerjanya lebih baik. Misalkan lagi, seseorang yang melihat sampah bertebaran. Itu akan menyebabkan rasa jijik. Rasa jijik itu kemudian mempengaruhi jiwanya sehingga ia tak mau atau tak bisa makan untuk sementara waktu.

Maka apa reaksi yang muncul dengan melihat dangdut pantura yang pakaian, gerakan, serta kata-katanya yang erotis? Manusia normal akan terangsang libidonya dan itu membutuhkan tempat penyaluran. Ya kalau bisa mengendalikan atau ada tempat untuk menyalurkan? Kalau tidak bagaimana? Anda yang cerdas bisa menjawabnya sendiri. Mereka akan memaksa mencari tempat untuk menyalurkan. Sehingga maraklah kasus-kasus perkosaan dan sebagian korbannya adalah anak-anak. Apalagi didukung jika si perempuan meniru gaya berpakaian para penyanyi heboh itu? Ya seperti kucing melihat ikan.

Begitu juga dalam pemikiran seseorang. Dari analogi rasa di atas dan konklusi sebelumnya, dengan menyesal saya katakan bahwa logika dan pemikiran orang yang menyatakan bahwa dangdut erotis bukan menjadi penyebab tingginya kasus kekerasan seksual terutama pada anak-anak, adalah logika dan pemikiran yang keseleo.

Jika tetap bersikukuh bahwa dangdut-dangdut pantura yang erotis itu tidak menyebabkan seorang yang melihatnya ‘bereaksi’, itu berarti tidak menghargai kemanusiaan manusia. Karena sudah menjadi proses yang alami dalam sistem saraf manusia normal untuk ‘bereaksi’ lantaran mendapat impuls semacam itu. Apakah anda mau dikatakan sebagai manusia tidak normal?

Saya dan anda tidak perlu mengambil pusing dari apa yang dipikirkan dan dilontarkan oleh pengusung-pengusung paham lama yang notabene sampai sekarang tak kunjung mencapai ‘puncak’nya. Saya dan anda hanya perlu menggunakan sedikit logika untuk menyikapi pemikiran-pemikiran yang tidak menguntungkan itu. Dengan cara apa? Mudah. Jika dalam kesempatan kali ini kita membicarakan soal dangdut yang menampilkan gerakan, pakaian, dan lirik yang amat ‘seru dan saru’ maka kita bisa hentikan pemutarannya. Berhenti mendengarnya. Berhenti menontonnya. Berhenti membelinya. Berhenti mengkonsumsinya. Mulai dari diri sendiri dan keluarga. Jika kebetulan anda pada ‘posisi mampu’, ajaklah masyarakat di sekitar anda untuk melakukan hal yang sama.

Think globally and act locally to be good person for better Indonesia! Salam cinta Indonesia! *eaaaa?

Related post : Harus Segera!

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

9 Responses to Analogi Rasa

  1. Bahaya pemikiran liberalisme yang salah satunya membela sensualitas atas nama kebebasan ber-ekspresi.
    Di Youtube ada video anak kecil (seumuran kelas 2 SD) yang goyang sangat erotis meniru apa yang pernah mereka lihat. Dan orangtuanya bangga. Padahal bahaya menanti, teman seusianya atau kakak kelasnya atau orang di lingkungannya sedang “kelaparan”, siap memangsa dirinya..

  2. jampang says:

    oneng vs missil😀

  3. felis catus says:

    Memang menjaga agar kebebasan seorang individu menerapkan hak-haknya agar tidak melanggar kebebasan hak individu yang lain itu sulit.

    Mesti belajar kompromi dan mau menghormati keputusan bersama. Di Indonesia, yang saya amati ini yang kurang yah. Proses buat mufakat apa batasnya, tidak jalan. Beda dengan di Belanda. Walau misalnya hasil mufakatnya tidak selalu sesuai dengan keinginan kelompok tertentu, hasil mufakatnya dihormati.

    • Dyah Sujiati says:

      Ya dan mereka berteriak-teriak minta hak dengan dalih kebebasan, karena orang-orang itu maunya hak dirinya saja. Lupa kalau orang lain juga punya hak yang harus dipenuhi.
      Di Indonesia itu kebebasannya masih dimaknai dalam kebablasan.

  4. lazione budy says:

    anda >> Anda

    Well, saya memang ga suka dangdut zaman sekarang selain pakaiannya yg minim, goyang yg hiks liriknya juga acakadut. Payah parah pasrah dah..

  5. Pingback: Harus Segera! | Dyah Sujiati's Blog

  6. Pingback: Kalau Kasihan | Dyah Sujiati's Blog

  7. j4uharry says:

    Hati, Mata, Telinga sudah dirusak dengan media. Mungkin ini salah satu penyebab Matinya hati, Butanya mata, dan tulinya telinga sebenarnya

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s