Sun Go Kong

Diskusi dengan seorang teman mengingatkan saya pada serial Sun Go Kong yang dulu menjadi film favorit saya. Dan seandainya serial itu diputar kembali pada jam yang memungkinkan saya untuk menonton, saya pasti tidak bosan dan akan nonton lagi. Haha!

Kalau tidak salah ingat, serial itu menceritakan perjalanan Biksu Tong dan Sun Go Kong dan kawan-kawan mereka guna memperoleh kitab suci. Sayang sekali, saya tak tahu endingnya seperti apa. Bagaimanakah rupa kitab suci yang mereka cari itu. Namun saya tak perlu menduga-duga, karena bagaimana pun itu hanya sebuah film.

Dari film itu, menurut saya, ada kesamaan pesan yang diberikan sebagaimana yang ditampilkan pada film-film yang berlatar tokoh seorang biksu dan atau shaolin. Yaitu tentang kerja keras, perjuangan, dan rasa sakit. Rasa sakit, poin itu yang pasti membersamai kerja keras dan perjuangan. Saya jadi ingat, bahwa selain perjalanan mencari kitab suci, perjalanan Sun Go Kong dan kawan-kawan adalah perjalanan kehidupan masing-masing demi mencapai tujuan masing-masing pula. Perjalanan Sun Go Kong adalah proses belajar dan pembelajaran baginya agar menjadi manusia yang lebih baik dan tidak liar. Dan pelajaran itu dia lalui dengan penuh rasa sakit. Saya jadi ingat juga ketika Go Kong melakukan kesalahan lalu Biksu Tong harus tega membacakan mantra yang membuat kepala Go Kong menjadi peyot-peyot. Kasihan sekali Go Kong yang tampan merasakan kesakitan.

Begitu juga dengan film-film shaolin, pasti menunjukkan bahwa mereka bekerja keras untuk menjadi pendekar shaolin. Dan itulah pesan moral yang selalu saya kagumi dari film-film sejenis. Karena sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari kita juga berhadapan dengan hal yang serupa.

Misalkan ketika dulu masih sekolah. Ada perjuangan dan kerja keras untuk menerima ilmu. Ada rasa sakit yang melintas di hati ketika menemukan tantangan dan kesulitan. Pun, setelah terjun ke sekolah kehidupan. Bahwa sepanjang hayat adalah proses belajar, maka selama itulah ada perjuangan mendapat ilmu dan akan ada saat rasa sakit itu membersamai. Saya juga ingat, seorang teman pernah mengatakan pada saya bahwa ada saatnya ilmu itu disampaikan dan diterima dengan rasa sakit. Moga-moga yang diterima ilmunya, bukan sakitnya.

Saya jadi ingin menonton kembali serial Sun Go Kong.💡❓😯:mrgreen:

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Sun Go Kong

  1. jampang says:

    bbrp hari yang lalu saya nonton film asal muasal bertemunya pertemuan biksu tong, sun go kong, ti pat kai, dan satu lagi.
    judulnya…. lupa… ada kata journey to the west concuerror demon apa yah….

  2. Yup, mbk. Bersakit” dahulu, bersenang” kemudian. Hidup memang penuh pelajaran. Saling menasehati dalam kebaikan, dan berlapang dada dalam menerima masukan😀 jazk buat tulisannya!

  3. lazione budy says:

    Hehe.., Perjalanan ke barat yang panjaaaang sekali. Pernah di-reboot dengan pemain-pemain baru tapi ga sebagus yg dulu. Film ini emang bagus.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s