Tukang

Lahan kosong di depan rumah kakak saya kini sedang dibangun sebuah rumah. Saya menyebut semua orang yang bekerja di sana sebagai : tukang.

Kebanyakan tukang yang saya temui, mereka cenderung bersikap arogan. Misal ketika ada orang lewat, tiba-tiba saja mereka menggoda entah dengan siulan atau dengan pertanyaan yang tidak perlu. Nah, berbeda dengan kebanyakan tukang yang saya temui, tukang di depan rumah kakak saya sangatlah sopan. Mereka tidak seperti tukang kebanyakan itu. Bahkan hendak mengambil semen yang memang diletakkan di teras rumah kakak, mereka selalu mengucap permisi. Sungguh perilaku yang baik untuk dicontoh.

Yang menarik lagi adalah persahabatan antara tukang-tukang itu dengan keponakan kecil saya. Biasanya tukang-tukang yang menggoda anak kecil. Sedangkan yang ini justru keponakan saya yang terus mengajak mereka bicara. Haha. Dan tragedi yang terjadi di antara mereka adalah soal sandal keponakan saya. Sebelah sandal keponakan, ia dikubur di dalam pasir yang sudah siap pakai. Dan jadilah sandal itu bagian dari pondasi rumah yang dibangun itu! Ahaha!

Ada sebuah kejadian di suatu pagi antara saya dengan tukang-tukang itu. Ada seorang nenek dari RT sebelah yang pekerjaannya adalah meminta-minta sejak masih belia. Saat ini sebetulnya dia cukup istirahat di rumah sambil menunggu ajal menjemputnya dengan tenang. Tak perlu lagi keliling meminta-minta dari rumah ke rumah. Karena pada kenyataannya dia punya anak yang bisa merawatnya. Namun hanya hobi sejak muda itu, dia seolah tak rela kehilangan kesenangannya untuk meminta-minta. Nah, respon yang tepat terhadap orang seperti ini menurut saya adalah membujuknya agar mau istirahat dengan tenang di rumah. Tapi kalau tidak bisa, ya jangan mendukungnya untuk tetap meneruskan kegiatan ini. Dengan kata lain dia jangan diberi uang agar dia sendiri mau berhenti. Itulah bentuk sedekah yang tepat untuknya. Kasihan sudah tua masih saja jalan begitu. Padahal nanti saat beliau meninggal, uang itu tidak akan menemaninya.

Suatu pagi si nenek datang ke rumah kakak saya. Kebetulan hanya saya yang di rumah. Kebetulan lagi, si nenek sudah begitu sulit mendengar. Jadi ketika bicara dengannya harus dengan volume tinggi seolah sedang bicara dengan orang yang terpisah sejauh satu kilometer. *lebay*

Saat itu saya menjawab si nenek, “tiyange mboten ten griyo. Tiyange merdamel.” (orangnya tidak di rumah, orangnya bekerja). Dan itu berarti bahwa tidak ada uang untuknya.

Saya pun menjawab itu dengan volume tinggi dan nada yang halus -menurut saya-. Sehingga seluruh tukang di depan rumah mendengarnya dan mereka semua mendadak menghentikan kegiatan guna melihat saya bersuara. Eaaaa? *feel looks like Missil

image

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Tukang

  1. jampang says:

    yey…. cerita missil lagi di sini

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s