Kalau Kasihan

Lantaran ulah bocah SMP yang kehabisan permainan, sehingga mereka memainkan permainan dewasa yang tidak cocok untuk usia mereka, sempat membuat geger dan ramai suasana. Dan ternyata itu ‘hanya’ sebuah kasus yang  muncul di permukaan. Kalau mau sedikit meluangkan waktu dan membuka mata, ternyata kasus serupa ada bejibun! Baik itu tertulis di media online, media cetak, maupun yang disiarkan oleh media elektronik. Bahkan ada indikasi untuk yang tak terberitakan, tak kalah jumlahnya. Ya Tuhan!😯

Dan rasanya kurang menyenangkan jika kita kemudian hanya sebatas membicarakan dan ikut panik tanpa ikut menawarkan sebuah solusi. Saya selaku rakyat biasa, menawarkan sebuah solusi yang sudah tulis pada tulisan sebelumnya [klik]. Intinya yaitu memulai segala sesuatu dari diri sendiri. Karena notabene, kata Mbak Felis Catus,

Sejauh ini, konon mengapa begitu banyak hal-hal berbau seksual bertaburan di ruang publik karena katanya adalah karena tingginya permintaan publik. Kalau kita sebagai bagian dari publik tidak “membeli” ataupun tidak “menggunakan” produk tersebut, mudah-mudahan akhirnya akan hilang.

Dari tadi saya nulis tentang apa sih sebetulnya? Baiklah, biar saya perjelas. Yaitu soal tindak asusila yang menyerang anak-anak. Yang salah satu penyebabnya adalah maraknya pornoaksi melalui pagelaran dangdut erotis  baik melalui tampilan  pakaian, gerakan,  maupun kata-katanya. Jika Anda belum ngeh korelasinya, silahkan baca postingan [klik] saya yang ini .

Lalu kenapa saya memilih dangdut? Karena ianya yang paling mudah kita temukan dan ada banyak di sekitar kita. Tak usah dulu kita protes pada penyanyi luar negeri yang juga tak jauh dari kata erotis. Mereka itu jauh. Lebih baik dimulai dari yang dekat-dekat saja.

Okelah, saya paham bahwa segala sesuatu itu melalui proses. Termasuk merubah selera. Mengubah cara pandang menjadi sedikit lebih cerdas, memang tak semudah membalik gorengan tahu di wajan. Butuh kesungguhan dan tekad yang kuat. Bahkan mungkin bisa jadi ada sedikit pemberontakan atau penolakan yang muncul. Ironisnya (atau humoris ya?) itu berdalih pada alasan kemanusiaan. Yaitu kasihan.

Mungkin di antara kita ada yang berpikir begini : bagaimana jika berada pada posisi si penyanyi yang ‘terpaksa’ menyanyikan kata-kata kurang mutu, ‘terpaksa’ mengenakan pakaian kurang bahan, atau ‘terpaksa’ menarikan gerakan kurang pantas? Tidakkah itu menyakitkan? Bagaimana jika mereka ‘tidak sengaja’ terperangkap pada kondisi demikian? Tidakkah mereka juga ingin memakai pakaian necis yang mengundang hormat? Bukan pakaian mini yang mengundang pandangan rendah mata yang melihat?

Baiklah, saya memang tidak tahu bagaimana perasaannya. Akan tetapi sebagai orang normal, akan berfikir untuk keluar dari ranah itu jika memang merasa ‘sakit’ atau ‘terpaksa’. Jika memang itu sakit, tentulah dia tidak akan ‘mengajak’ orang lain bersamanya. Atau paling tidak, dia tidak ingin menimbulkan ‘kerusakan’ selanjutnya. Minimal kalau dia punya malu dan harga diri, dia tidak akan mau ‘terjebak’ di sana.

Oke, very nice merasa kasihan pada mereka. Dan jika benar-benar merasa kasihan pada mereka, please bantu mereka keluar. Please, beri solusi yang nyata. Selamatkan mereka dari ranah yang ‘menyakitkan’ itu. Selamatkan mereka dan itu juga berarti menyelamatkan anak bangsa.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Kalau Kasihan

  1. Mereka kasihan pada segelintir penyanyi, tapi menutup mata terhadap jutaan anak-anak yang telah menjadi korban ‘binatang buas’. Penyanyi dangdut erotis itu sebenarnya tidak sedang mempertontonkan seni, tapi menjual sensualitas atas nama seni. Ini ada contoh masyarakat (mulai dari tokoh masyarakat, bapak, ibu sampai anak-anak) yang sudah permisif terhadap hal-hal yang berbau pornoaksi, yang seperti ini faktanya ada di berbagai pelosok-pelosok desa/kota di negeri ini. Tegakah kalau anakmu (seperti anak-anak mereka) berada di samping panggung pertunjukan yang mempertontonkan gerakan erotis dan vulgar ?

  2. Rini says:

    betul mba, Alhmadulillaah saya dari kecil ga suka dangdut, karena kakak tertua saya waktu itu ga suka dangdut. Sehingga di rumah dan sampai sekarang tidak pernah mendengarkan lagu2 dangdut, kecuali kalo denger di jalan atau tetangga yang memutar musik dangdut kencang sekali. Pernah suatu saat, tetangga saya ke rumah malam2 karena ada perlu, waktu itu sedang booming kontes kdi (kontes dangdut itu), di rumah memang tidak menontonnya. Si tetangga saya itu bilang ke istrinya kalo di rumah saya itu ga menonton dangdut, saya tahu karena istrinya itu cerita ke ibu saya. Nah efeknya saya rasa sekarang, males aja gitu denger lagu dangdut, apalagi lirik2 dangdut sekarang, sangat tidak pantas. Alhamdulillaah lagi, saya tinggal di bandung sekarang, ada radio MQ fm Bandung ( boleh nyebut merk kan hehe) selalu memutar lagu nasyid dan lagu2 berlirik positif. Program2 nya juga sangat bermanfaat.

  3. j4uharry says:

    Jadi inget beberapa malam lalu ada temen menyapa di WA dia disela obrolan dia bilang sedang menonton acara YKS ya sudah gak asing lagi pasti acara itu, saya bertanya alasan memilih acaran itu dia menjawab hanya “hiburan aja”. jadi inget juga lirik lagu Raihan
    “Berhibur tiada salahnya
    Kerna hiburan itu indah
    Hanya pabila salah memilihnya
    Membuat kita jadi bersalah”

    Ya jangan sampai salah memilihnya yang akan menciptakan kesalahan🙂

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s