Retweet Status

Kenyataan bahwa begitu banyak akun mature di Twitter, membuat saya sedikit khawatir. Jangan-jangan di antara akun-akun sinting yang memiliki puluhan ribu follower itu, salah satu followernya adalah keponakan saya?! Alamak! Itu tidak menutup kemungkinan sama sekali! Ditambah kenyataan bahwa (meski saya malu mengakuinya) kedua kakak saya adalah orang yang gaptek! Maka tidak ada pilihan lain, kecuali saya yang harus bertindak. Hitung-hitung latihan jadi emak nanti kalau sudah punya anak. Haha!

Sambil mencuci pakaian, saya meminta keponakan saya (Citra/Icha, 14) untuk membuka akun twitter miliknya. Saya katakan padanya bahwa saya memang ingin tahu apa saja isi twitter miliknya. Dan ia mengizinkan sepenuhnya. Kesimpulan awal : tidak ada ‘hal’ aneh yang ia sembunyikan dari saya, sehingga dia mengizinkan saya melihat.

Layaknya petugas BPK yang sedang mengaudit, saya cermati secara umum penampakan akun twitter milik Citra. Sejauh saya perhatikan, masih dalam tataran ‘normal’ untuk anak seusianya. Kalimat-kalimat yang menurutnya baik atau sekedar informasi umum yang dia kicaukan. Dan sedikit norak yaitu acara ‘hangout’ dengan temannya melalui gratisan twitter. Bisa dikatakan twitter keponakan saya masih aman.

image

Ada yang menarik pupil mata saya melihat salah satu statusnya yang ternyata merupakan hasil retweet dari orang lain. Bunyi tulisan itu adalah hal apakah yang paling menyakitkan selain ketika sahabatmu jadian sama orang yang kamu suka?

Ow ow ow! Masih bocah banget, nadanya. Hehehe. Saya pun bertanya pada Citra, “maksud status ini apa mbak?”

“Maksud apanya?” Citra malah balik tanya! Ish ish -_-‘

“Ya status itu membicarakan soal apa?” jawab saya mencoba tetap kalem.

“Tentang suka.” jawabnya setelah agak lama berfikir.

“Suka pada apa?”

“Suka pada orang.”

“Orang yang bagaimana?”

Actually, Citra bingung. Haha. Lalu saya mengalihkan pertanyaan. “Kalau Mbak Icha tidak mengerti, kenapa Mbak Icha me-retweet status itu?”

“Karena timbal balik. Orangnya me-retweet status saya jadi saya juga ada perasaan untuk me-retweetnya sebagai timbal balik.”

“Hanya itu?” tanya saya dengan nada sedikit menyelidiki.

“Kalau saya me-retweet orang kan nanti tweet saya juga di-retweet orang.”

Oh baiklah, seperti itu rupanya. Dan saya pikir kebanyakan orang juga mungkin punya pemikiran yang tak jauh dari pemikiran keponakan kecil saya. Dan kini saatnya saya berceramah padanya. Saya katakan pada tentang pemaknaan status yang ia retweet itu tak jauh dari jadian-pacaran-galau-dan kawan-kawan.

“Kalau memang Mbak Icha ingin tulisannya di-retweet orang, maka tulislah tulisan yang bagus. Kalau memang bagus otomatis akan banyak yang me-retweet. Coba lihat akun orang yang tulisannya banyak di-retweet. Apakah dia hobi me-retweet status orang? Tidak kan?” Saya sampaikan padanya dengan bahasa yang saya upayakan sediplomatis mungkin. Dan saya lihat wajahnya menemukan sedikit pencerahan. Lalu Citra pun memutuskan untuk menghapus retweet status yang telah ia lakukan. Syukurlah.

Pandangan saya selanjutnya tertuju pada header/profil akunnya. Ada tulisan ‘#realmadrid’ di sana. Dan saya pun menanyakan maksud penulisan tersebut.

“Ya biar nanti kalau ada yang search realmadrid, muncul twitterku. Terus jadi ada yang mem-followku!”

Jawaban yang cukup visioner menurutku. Haha.

“Lalu, kalau followernya sudah banyak, apa manfaatnya buat Mbak Icha?”

“Ya kan seneng aja banyak followernya.”

“Apakah manfaat itu menjadi berarti dan bisa jadi bekal hidup Mbak Icha ke depan? Menambah prestasi Mbak Icha mungkin?” tanya saya lagi dan Citra nampak sedikit berfikir.

“Tidak ada kan? Kalau memang tulisan mbak Icha bagus, pasti akan banyak yang follow. Cuma follower saja tidak ada gunanya kalau mbak Icha tak memberi manfaat bagi mereka. Apalagi niatnya cuma buat ‘gaya’?” lanjut saya dan Citra nampak berfikir lagi.

“Oke, apakah Mbak Icha tak ingin menghapusnya? Mbak Ta (panggilan keponakan pada saya) hanya memberi saran dan tadi juga sudah menjelaskan. Selanjutnya terserah Mbak Icha mau menghapusnya atau tidak. Mbak Icha bisa memutuskannya sendiri.”

Dan dia pun memutuskan untuk menggantinya! Yihi! Keponakan yang pintar.😀

image

Dan sebagai penutup diskusi kami, saya katakan padanya bahwa saya tidak mungkin mengecek setiap status di Twitternya dan saya percaya bahwa dia bisa menjadi great muslimah seperti yang ia tulis. Maka dia harus berfikir dahulu jika akan menulis status ataupun me-retweet status orang lain. Dia harus memastikan apakah kalimat yang akan dia tweet-kan itu benar-benar membawa manfaat atau tidak. Dan saya tegaskan padanya bahwa setiap perbuatan sekecil apa pun itu, akan dimintai pertanggungjawaban. Meski hanya sekadar menulis atau me-retweet status orang di Twitter.

Setelah itu saya pun meminta izin padanya untuk share diskusi kami.

Ya, may you will call me as a wicked aunty. But, i just try help her to be a great muslimah! There is a price to pay and sacrifice to became success! Thats right, isn’t it?

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Menu Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Retweet Status

  1. jampang says:

    saya ngetweet buat ngehsare tulisan saya sendiri😀

  2. Sungguh kakak yang baik untuk dicontoh.
    Pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah bahwa GAPTEK ITU BERBAHAYA bagi lingkungan terdekat. Ayo, para orangtua jangan jadi pribadi yang cuek dan malas belajar teknologi terkini!
    Contoh nyata tetanggaku, gara-gara ortunya gaptek, anaknya yang sekolah SMU terjebak cinta sejenis, dan itu terlambat diketahui ortunya. Padahal itu bisa dideteksi dari status-status yang dibuatnya di dunia socmed.

  3. amymustaq says:

    alhamdulillah
    kalau saja semua remaja punya kakak sprti kakaknya mbak citra..🙂 hhee

  4. lazione budy says:

    follow ya: @lazione_budy ntar folback deh.😀
    Hehe…, biar follower-nya banyak.

    Saya juga kadang re-tweet kalau isinya sreg dengan hati. Normal.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s