11:11

“Hani! Tega banget, sih! Hani gak pernah kangen ya sama aku?! Hani jahat!!” kataku dengan bersungut-sungut saat Hani baru saja pulang memancing, kala ia baru saja memunculkan punggungnya dari balik gerbang. Hani, lelaki yang telah meminangku enam tahun yang lalu. Lalu dia hanya diam terpaku sebelum sedetik kemudian dia menurunkan ember besar berisi ikan hasil pancingannya. Shok dan tak mengerti apa maksudku.

-*-

“Mbak, lihat nih 09:09” gadis yang duduk di sampingku di pertemuan ini berujar sambil menunjukkan angka penanda waktu layar telepon genggamnya.

“Hi iya!” aku berseru senang. Entah apa menyenangkannya.

Satu jam satu menit kemudian, gadis itu kembali menyikut lenganku kala pembicara hampir menyelesaikan kalimatnya sebelum coffee break. Dia kembali menunjukkan jam digital di layar  handphonenya. 10:10. Dan aku kembali berbinar menyaksikannya.

“Yihaaa!” gadis itu tiba-tiba berseru pelan. Kembali memamerkan layar benda yang digenggamnya. Lebih menarik yaitu 11:11.

“Aaaahh! Iyaaa!” aku ikut berseru.

Selanjutnya, giliran aku lah yang harus melihat jam digital di layar ponselku menunjukkan angka yang sama. Aku hampir selalu fokus agar bisa menemuinya, namun sayang. Tak sekali pun berhasil. Lewat semenit saja. Atau kurang dua menit. Lalu aku memutuskan untuk berkonsentrasi sampai tiba waktunya. Tapi selalu ada yang menggagalkan. Ada saja. Uh sebal!

Kata gadis di sebelahku, kebetulan -sekali lagi kebetulan- melihat angka jam sama berarti sedang dirindukan. Apalagi jika keempat digit jam menunjukkan angka yang sama. 11:11 misalkan. Itu berarti seseorang di sana sedang amat sangat merindukan. Mungkin ibu, ayah, adik, suami atau istri, atau kakek, atau mungkin seorang kawan lama. Sebuah analogi paling alay sedunia yang sama sekali tak bisa dipastikan tingkat keakurasiannya. Analogi konyol yang tidak mungkin ada dalam ilmu perdukunan apapun. Siapa pula yang membutuhkan analogi semacam itu? Jelas-jelas ini hanya lelucon yang tidak teramat seru. Tapi tetap saja membuatku penasaran.

Selama dua hari yang lalu di pertemuan, dan lima jam hari ini sejak Hani berangkat memancing, tak sekalipun aku melihat angka yang sama.

Ketidak-berhasilanku ‘bertemu’ dengan angka sama kala melihat jam, membuatku menyimpulkan sesuatu. Hani tak pernah merindukanku!

———————————–

Request tokoh ‘aku’ yang berimajinasi liar bersama penulis:mrgreen:

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to 11:11

  1. jampang says:

    cie…. cie…. missil lagi merindu

  2. lazione budy says:

    oh melihat angka sama artinya rindu ya?
    11-11-11-11-11

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s