Ujian Cinta

Saya tak sedang mengeluh apalagi kecewa. Tak pantas, amat tak pantas. Kalau pun iya, tak lebih keluhan itu adalah kekecewaan pada diri saya sendiri. (nyampah lagi gue! Haha)

Di luar sana ada bermacam-macam orang. Dalam berbagai kondisi dan dalam berbagai tingkatan. Mengingat kita manusia, ada kewajiban selalu makhluk individu maupun sosial. Sehingga dari gabungan manusia, waktu, keadaan, dan proses menjadi rangkaian takdir kehidupan yang begitu kompleks dan saling terkait antarelemen tersebut dalam sebuah fungsi yang tentu memiliki invest.

Intinya, di luar sana ada banyak ‘PR’ yang harus kita selesaikan. Maka mungkin menjadi tak pantas, ketika saya masih berjibaku pada hal-hal kecil yang amatlah tidak perlu. Namun saya pikir, saya tidaklah sendirian seperti ini. Manusia itu terus diuji di titik terlemahnya hingga ia lulus ujian itu. Mungkin inilah salah satu ujian ukhuwah di titik lemah itu.

Ketika saya masih harus ‘tak nyaman’ oleh kawan yang di sana. Tidak. Dia bukan kawan lagi. Tapi kami sudah bilang bahwa kami saudara. Saling menyayangi karena Dia yang Maha Penyayang. Lalu apakah masih pantas kalimat itu diucapkan?

Ketika kita mungkin bisa menasihatinya bla-bla-bla untuk memperlakukan orang lain seperti apa. Namun ketika dia di posisi orang lain, kita ternyata belum bisa menjadi dia. Ketika kita bisa menyuruhnya menghargai orang lain, memahami posisi orang lain, atau mungkin menyemangati orang lain. Tetapi kita malah tak bisa menempatkan dia di posisinya. Kita malah menjadi antitesis baginya, menampar hatinya dalam-dalam.

Mungkin karena saking pandainya setan menyusup di hati kecil kita. Mengisi dengan perasaan paling benar, paling berhak untuk dipahami, paling berhak untuk dihargai. Bahkan terkadang, perbedaan kecil soal selera, meminta kita harus dipahami, harus dimaklumi. Padahal dia mengajak kita untuk belajar. Tapi setan kecil itu mengubahnya, menjadi permintaan pengertian dan terputuslah tali pembelajaran. Juga terkadang perasaan bahwa diri ini lebih tahu dan lebih paham daripadanya, menjadikan hikmah yang dibawakannya terlewat begitu saja. Salah siapa ini? Salah setan kah?

Karena itulah saya merasa kecewa, kecewa pada diri sendiri. Dan baiklah, biar itu menjadi sebuah pembelajaran bagi saya. Belajar untuk berlapang dada, tidak minta dipahami namun memahami apa pun posisi saya. Agar saya betul-betul bisa memposisikan saudara saya dengan baik, tak sampai menampar hatinya.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Ujian Cinta

  1. lazione budy says:

    Jadi saatnya memikirkan hal-hal besar! Ayoo…

  2. jampang says:

    ambillah yang baik-baik dan singkirkan yang jelek-jelek😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s