Apakah Urusan Selesai?

Minggu lalu. Di pertigaan lampu merah di antara kost dan kantor, sepulang kerja. Saya menjadi peserta nomer urut pertama di barisan antrian menanti lampu menjadi hijau tersebut. Seorang bocah laki-laki sekitar belasan tahun menghampiri saya sambil menadahkan tangan. Saya menarik nafas panjang. Sebelum saya menyandarkan siku pada stang motor lalu mengajaknya ngobrol.

“kamu ndak malu ta minta-minta kayak gini?” tanya saya setelah menanyakan nama, alamat, sekolah, dan orang tua kerja apa.

“Nggak mbak. Dari pada saya nyolong.” jawabnya dengan muka yang dibikin memelas.

“Lho?! Kok gitu?” saya seperti berteriak mengucapkannya karena agak kaget.

“Iya mbak.”

“Coba kalau kamu sekolah? Bisa jadi kamu bisa berprestasi! Lalu bisa jalan-jalan dan dapat beasiswa keluar negeri. Enak kan?”

Entah apa yang ada di pikirannya, saya tak bisa menebak dan tak perlu menebak. Lalu lampu berubah hijau dan saya pamit padanya yang masih menengadahkan tangan.

———————————–

Tadi sore. Di pertigaan lampu merah GKB. Seorang bocah perempuan mungkin usia 10 tahunan mendekati saya. Menengadahkan tangan. Tanpa kata-kata. Saya tanya namanya. Dia jawab dengan malu.

“Siapa yang menyuruhmu meminta-minta?” tanya saya setelah menanyakan beberapa pertanyaan pembuka.

Dia menggeleng sambil berkata lirih, “Tidak ada.”

“Tidak ada?” saya mengulangi jawabannya.

Dia mengangguk.

“Lha? Kalau ndak ada yang nyuruh, ngapain di sini? Nggak pengen main ta? Enak main lho dari pada di sini.”

Dia mundur dua langkah menepi. Entah apa yang dipikirkannya, saya juga tak paham. Lampu merah berubah hijau lalu saya lempar senyum termanis saya padanya. Pamit. Sayang saya pakai slayer. Haha.

———————————–

Berita tentang pengemis yang ditemukan uang 25 juta di gerobaknya, seharusnya bisa membuka mata hati untuk peduli. Sebut saja, mengemis adalah salah satu cara untuk cepat menjadi kaya. Bandingkan dengan seorang petani yang hampir tiap hari memeras keringat. Selama semusim belum tentu dia dapat untung bersih lebih besar dari pengemis itu. Kenapa untung bersih? Karena pengemis tak keluar modal serupiahpun.

Masalah pengemis adalah masalah umat yang menjadi tanggung jawab semua orang untuk mengentaskannya. Mungkin bagi sebagian besar orang akan memilih mengulurkan sekeping lima ratusan atau selembar seribuan. Bagi mereka yang penting si anak cepat berlalu dari hadapannya. Urusan selesai. Benarkah?

Tidak. Saya pastikan tidak demikian. Urusan tidak selesai hanya dengan kepingan receh atau lembaran dekil gambar seorang pahlawan. Memberi anak-anak kecil itu sama dengan menghancurkan masa depan mereka. Sama dengan menciptakan generasi pemalas yang akan merusak kehidupan. Sama dengan menunjukkan betapa apatisnya apa yang diperbuat si pemberi.

Lalu apakah jika ada yang berdalih “yang penting niat saya kan sedekah.”? Okey, jika itu niatnya, dia harus tahu dan paham bahwa sedekah itu ada ilmunya. Tidak sembarang asal niat. Ada baiknya membaca postingan terkait di blog ini dengan kata kunci ‘sedekah’, ‘peminta’, atau ‘pengemis’.

Lalu, ‘mengatakan : tidak’ ada kalanya juga perlu diminimalisir. Maksud saya begini, dalam kesempatan yang memungkinkan (seperti di lampu merah sebagaimana yang saya alami), alangkah baiknya jika kita tidak hanya mengatakan tidak pada bocah peminta-minta itu agar dia segera menghilang dari hadapan kita. Tidak hanya agar urusan selesai. Tapi kita juga melaksanakan upaya sebagai tanggung jawab mengentaskan kepengemisan (?) di negara kita. Minimal di tempat kita tinggal. Yaitu dengan mengajaknya mengobrol sambil memotivasi dia agar mau berhenti dari profesi yang memang cepat kaya itu.

Tidak mudah memang. Dan jangan menuntut sekali kita bicara lalu dia berhenti. Dia terdidik seperti itu. Maka perlu waktu dan proses baginya untuk berubah. Belum lagi jika anak itu benar-benar ‘pekerja’. Dia akan membutuhkan banyak dorongan untuk berubah. Jika bukan kita, lalu siapa lagi?

Barang kali Anda cukup ‘logistik’, culik saja mereka dan berdayakan! Itu akan menjadi sesuatu yang sangat fenomenal.

Ketika bertemu dengan bocah peminta-minta dan kondisi memungkinkan -misal di pemberhentian lampu merah-, saya mohon kepada pembaca yang budiman untuk mengajak anak itu mengobrol. Untuk memotivasinya. Untuk mengajaknya berubah. Berhenti dari apa yang dikerjakannya. Agar dia juga sempat menikmati indahnya masa kanak-kanak.

Sebagai pembuka, tanyakan siapa namanya dan tinggal di mana. Percakapan dengan bocah-bocah terlatih ini tidaklah mudah. Jawaban darinya akan bermacam-macam dan dia cukup pandai berkelit. Begitulah yang saya alami beberapa kali bertemu mereka. Harus sabar memang. Pertemuan singkat dengannya harus efektif dan meninggalkan ‘bekas’ yang mengarah pada perbaikan kehidupan. Saya meyakini bahwa segala sesuatu itu tidak semata-mata terletak pada besar atau kecilnya saja. Baik dari ukuran perbuatan, manfaat, energi yang diperlukan, atau sudut pandang yang lain.

Sebagaimana urusan pribadi, urusan masyarakat juga memiliki cara yang sama untuk mengupayakan perubahannya. Hak kita adalah berusaha yang sekaligus merupakan kewajiban. Lalu hasil, semata-mata adalah menjadi hak Pengatur Kehidupan. Kita sangat berhak (kalau tidak boleh disebut wajib) untuk mengupayakan kehidupan yang baik dan nyaman. Dalam hal pengentasan kepengemisan (?) ini, kita hanya perlu berusaha semampu kita. Tidak peduli seberapa kecil apa yang kita lakukan, tapi itu sungguh berarti.

Sebab urusan pertemuan dengan bocah peminta-minta, tak selesai dengan sekeping logam atau selembar kertas atau -bahkan- ucapan tidak.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Apakah Urusan Selesai?

  1. lazione budy says:

    endonesah yang makiin kacau.
    harus ada kepedualian dari semua pihak.
    stop beri uang pada pengemis!

  2. Betul, berikan motovasi, bukan uang

  3. jampang says:

    saya nggak pernah ngajak ngobrol kalau diminta2…. paling nyuekin😀

  4. Rini says:

    Di kota Bandung ada himbauan dari pemkot, ada spanduknya juga, untuk tidak memberikan uang kepada pengemis. Sebelumnya ramai juga ketika bapak walikota menawarkan pekerjaan menjadi penyapu jalan untuk pengemis, mereka menolak karena menuntut gaji 10 jt/bulan. Bahkan teman saya bilang, ada anak jalanan, nabung di bank lho, dia mengetahuinya karena melihat penampilan si anak itu, warna rambut dan bau tubuh yang terkena sinar matahari dalam waktu yang lama kan beda. Hmm memang seharusnya stop memberi uang pada pengemis, itu sudah profesi dan mental meminta.

  5. Pingback: Bukan Review | Dyah Sujiati's Site

  6. Pingback: Loe Punya Otak Kagak? [1] | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s