Perbedaan Penyikapan

VMJSeries

Pagi ini saya telah berada di atas batu cadas besar yang berjarak sekitar satu kilo meter dari bibir pantai yang terlihat di depan saya. Meski agak meleset dari rencana, tapi tak apa lah. Masih dalam batas tertolerir. Fila, seseorang yang pergi bersama saya, tidur kemalaman yang mengakibatkan bangun kesiangan (padahal matahari juga belum terbit sih) sehingga kami sedikit terlambat tiba di lokasi.

“Mbak, temanku itu baru saja pindah kost ke tempatku karena bermasalah dengan teman-teman di kostnya. Masalahnya karena teman-teman di kostnya pada resek ngomongin dia karena dia punya pacar.” Kata Fila tiba-tiba.

Saya santai melambaikan tangan menjawab, “Ah Fila, itu masalah lawas. Saya sudah bosan mengurusnya. Permasalahan itu terlalu remeh temeh. Masalah kecil yang dibesar-besarkan.”

“Lho kok gitu, Mbak?” Fila merasa jawaban saya seharusnya tidak seperti itu.

“Temanmu itu namanya kena virus merah jambu.” saya menjawab dengan santai lagi. Padahal mungkin, sebetulnya saya amat bersemangat membicarakan persoalan macam ini. Sebutan ‘dokter’ pada saya ternyata membuat saya sendiri kegirangan dan secara sadar atau pun tidak, memaksa saya untuk belajar banyak hal terkait.

Fila takzim menunggu kata-kata lanjutan yang akan keluar dari mulut saya -karena sepertinya dia memahami perasaan saya itu, haha.

“Orang itu bermacam-macam. Beda orang, akan berbeda pemahaman dan penyikapan. Begitu juga dalam urusan virus merah jambu ini. Virus merah jambu itu kata gaul dari zina. Kebanyakan orang berfikir bahwa yang namanya zina itu hanya sebatas pada hubungan seksual atau kontak fisik lainnya. Padahal, yang namanya zina itu meliputi banyak hal. Intinya adalah ‘keberduaan laki-laki dan perempuan bukan muhrim’ apa pun itu bentuknya. Dasarnya pun sudah jelas.”

Fila terlihat mendengarkan dengan takzim -lagi- dan semoga tidak ada kata saya yang korup terbawa angin di atas bukit cadas.

“Nah, temanmu itu kenapa merasa terganggu (bermasalah) dengan teman-teman kostnya? Jawabannya ya karena dia sedang terserang virus merah jambu itu. Seorang temanku pernah bilang kalau orang yang kena virus jenis ini hatinya jadi lemah dan pikirannya pun jadi kaku. Karenanya, meskipun teman kostnya temanmu itu biasa saja, temanmu sendiri yang merasa tidak enak.”

“Kalau begitu, berarti aku juga membantu orang maksiat donk, Mbak?” Fila bersuara.

“Kemungkinan sih iya.” kata saya datar.

“Terus saya harus gimana donk? Apakah kalau dia telpon-telponan harus saya beritahu?”

“Itu tadi Fila. Beda orang, beda pemahaman dan penyikapan. Biar saya sederhanakan. Ada dua jenis atau kelompok dalam hal ini. Yaitu yang ‘sudah paham’ dan ‘belum paham’. Yang sudah paham adalah yang sebetulnya sudah tahu bahwa apa pun ‘keberduaan’ itu adalah zina namun dia tidak mau meninggalkan. Orang jenis ini akan mengatakan ‘iya sih tahu, tapi kan… ‘. Sedangkan yang belum paham adalah mereka yang merupakan korban media dan menganggap bahwa pacaran itu ya pakai jadian dan atau ada kontak fisik. Orang jenis ini akan berkata ‘nggak papa lah pacaran, yang penting kan gak ngapa-ngapain. (red : hubungan seksual, ciuman, dll). Nah, temanmu itu yang mana?”

“Yang kedua Mbak.”

“Kalau begitu, pahamkan dulu padanya soal zina itu. Katamu dia anak pondok, seharusnya dia lebih mudah memahami. Dan satu hal, itu butuh proses. Kewajibanmu adalah menasihatinya dengan cara yang baik. Sambil ngobrol-ngobrol ringan.”

Kami diam sejenak. Fila menatap lurus, entah apa.

“Nah, nanti mungkin dia akan berubah jenis. Maksudku dia akan menjadi orang jenis pertama. Iya sih tahu, tapi bla bla bla.”

“Nah itu Mbak, kenapa coba?”

“Ya karena salah satunya kan pancaran enak. Mangkanya butuh proses itu tadi. Sebab beda tahapan orang berbeda penyikapannya. Selamat berjuang, Fila.” kata saya nyengir. Lalu kami pindah tempat karena melihat batu cadas yang lebih besar dan tinggi.

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in VMJSeries and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Perbedaan Penyikapan

  1. jampang says:

    dulu waktu sekolah SD dan SMP …. dijelaskan bahwa babi itu haram. karenanya hukum itu terus terekam.

    tp nggak ada yang ngebahas kalau tidak menutup aurat dan pacaran itu haram…. jadi ya… gitu deh

    • Dyah Sujiati says:

      Wah iya pak!
      Barangkali, urusan menutup aurat dan pacaran itu tidak semudah babi. Sama halnya dengan pokok. Padahal kalau pacaran atau aurat sudah jelas ya perintahnya? Atau mungkin media telah sukses merubah pola pikir, saya kira itu akan menjadi tulisan yang panjang karena terkait banyak hal. Hehe.
      Mendadak sy jadi terpikir : esok lusa atau kapan, bisa-bisa daging babi bisa dianggap tidak haram juga. Na’udzubillah

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s