Di Balik Batu

Seorang kawan bercerita. Katanya, ada kawannya yang membuatnya kurang nyaman dalam berinteraksi. Dalam hal ini adalah dalam pekerjaan. Sebab kawannya kawan saya itu adalah tipe orang yang menuntut.

Suatu hari, kawan saya ditelpon oleh kawannya. Dia diberitahu bahwa ada bingkisan di meja kerjanya. Kawannya kawan itu baru saja dari luar kota lalu mampir kantor dan meninggalkan bingkisan tersebut untuknya. Diberi bingkisan itu, perasaan kawan saya bukan senang tapi malah tak enak hati. Dia malah berimajinasi liar khawatir bingkisan itu bersyarat. Dia justru merasa bagaimana gitu khawatir ada udang di balik batu.

“Dasar kau itu, Mbak! Bukannya berterima kasih malah ketakutan. Hahaha!” Jawab saya dan disusul gelak tawa kawan.

“Memang sih Mbak tergantung orang yang kasih. Coba kalau aku yang ngasih? Sampean pasti gak akan berfikir macam-macam.” Lanjut saya.

Kawan saya ber-ho’oh mantab.

“Padahal,” saya lanjutkan, “jelas-jelas ada kakap di balik batu!”

:mrgreen:

Cheers ^__^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Di Balik Batu

  1. jampang says:

    bukan cuma udang yah… atau bakwan😀

  2. Masih berlaku ungkapan: “Tidak ada makan siang gratis”

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s