Warna-Warni

#VMJSeries

Katakanlah ada semacam ujian bagi seseorang. Sebuah jenis ujian bisa menjadi beberapa bentuk sesuai dengan kapasitas seseorang yang diuji. Antara tingkat kesulitan dan kemampuan yang diuji akan menjadi sebuah fungsi linier, artinya berbanding lurus. Dalam hal ini yang hendak saya tulis adalah soal ujian virus merah jambu a.k.a VMJ. Ia-nya bisa ber-warna-warni, menyesuaikan dengan induk semangnya.

VMJ itu akan bermacam-macam bentuknya sesuai dengan siapa ia diujikan. Tergantung bagaimana pemahaman dan kemampuan induk semang. Jadi jangan dikira, yang bebas VMJ itu tanpa ujian VMJ. Ibarat dokter, akan tetap mengalami sakit di suatu saat.
Nah kali ini, seseorang yang sedang diuji VMJ adalah seorang dokter juga seperti saya. Hiyaaaa :p

Katakanlah dia berinisial S. Selama ini dia sudah paham dan mengerti tentang apa, bagaimana, dan seperti apa serangan VMJ itu. Pada suatu ketika ada yang bertanya padanya apakah boleh menikah dengan seseorang  yang disuka? Dalam arti ketika ada yang mengajak taaruf tapi hati tidak sreg, apakah boleh menolak? Jawabnya kurang lebih seperti yang sudah pernah saya posting di sini.

Kemarin-kemarin, kondisinya terbalik. S pada posisi pasiennya. Masalah yang S hadapi adalah ketika laki-laki penyebab VMJ itu tidak sesuai dengan visi-misi yang sedang diupayakan S. Suami yang diharapkan S adalah lelaki yang siap menjadi imam yang menjadi pengemudi kendaraan kehidupannya di jalur yang telah dia pilih. Jadi bukan mendambakan suami sebagai ‘ladang dakwah’ melainkan sama-sama untuk menggarap ‘ladang’. Ah panjang sekali. Intinya tidak se’visi-misi’ kan? :p

Di sisi lain, S paham betul bahwa jodoh itu sudah tertulis, tidak akan pernah salah dan tidak akan tertukar. Siapa pun itu orangnya, jika sudah datang, S yakin seyakin bumi tidak berbentuk bulat polos, akan dimudahkan hati dan jalannya. Namun dalam hal ini, S merasa begitu berat.

Dan di sisi lain lagi, ada usia. Usia S yang pada kisaran seperempat abad, membuatnya ‘agak terdesak’. Dan semakin pusing lah dia.

Padahal? Tahukah anda?

Lelaki itu tak pernah mengatakan apa pun pada S. Kecuali dia sering telpon untuk mengobrol dan pernah beberapa kali mengajak S keluar yang itu selalu S tolak. Tak lebih dari itu.

Tapi sebagai sesama wanita, saya paham bagaimana perasaan S. Hati wanita gitu lho! *eaa* Apa coba artinya kalau laki-laki suka menelpon? Pasti ada yang ‘lain’ kan?

Ohya ada lagi. Entah kenapa, si S ini yang biasanya begitu tegas, merasa tidak enak hati untuk berbuat tegas pada lelaki itu. Tak ingin menyakiti, katanya. Padahal apa yang dia lakukan sebetulnya justru malah membuatnya jadi p.h.p alias pemberi harapan palsu. Malah menggantung orang namanya.

Seeorang kawan S yang kebetulan juga kawan saya, pernah menyarankan S untuk bertanya pada lelaki itu apa maksud lelaki itu sering menelpon. Biar jelas masalah. Kalau memang dia ada rasa, segera ‘diputuskan’. S mau atau tidak.

Tapi S tidak berani. Dia takut kalau ternyata lelaki itu tidak punya rasa apa pun. Kan malu. Namun itulah resiko. Pasti ada. Toh dibiarkan (digantung) selama apa pun, S juga berat. Ujung-ujungnya tetep sakit kalau betul lelaki itu ada rasa. Dan kalau ternyata tidak, kan S cuma resiko menanggung malu.Jadi lebih baik cepat diputuskan.

Yang betul, dari awal ketika lelaki itu menelpon seharusnya langsung dijawab sibuk. Nanti lama-lama dia mikir. Sayangnya S agak terlambat untuk itu. Sehingga ketika akhir-akhir S mengatakan sedang sibuk, lelaki itu tetap tidak bergeming.

Itulah sebetulnya ‘warna VMJ’ yang menyerang S. Ketika imajinasi liarnya (jangan-jangan lelaki itu adalah … ) berkolaborasi dan berbenturan dengan sisi-sisi yang di atas itu tadi.

Dan pada akhirnya kisah S dan lelaki itu berakhir dengan sebuah sms dari S ketika lelaki itu entah karena apa ingin sekali telpon S yang katanya cuma pengin ngobrol. “Mas saya minta, kalau ngobrol/sms, dengan yang lain saja. Jangan denganku.”

Wow! Mungkin pedas dan sadis sekali sms itu. Tapi saya tahu betul, butuh perjuangan yang cukup sangat bagi S untuk melakukan itu. Dia bahkan ‘berobat’ pada beberapa ‘dokter’ meski dirinya sendiri adalah ‘dokter’. :p

Sekali lagi, itulah warna VMJ yang menyerang S. Jadi solusi dan penyikapannya berbeda dengan VMJ warna lain.

Dalam hal ini, saya menarik benang merah. Bahwa batas dari VMJ adalah ketegasan. Mungkin ada yang protes, “saya gak sampai berbuat sekasar itu pada orang.” Satu hal saja -dan sudah saya sebut- yaitu beda kasus beda kondisi beda warna maka beda penyikapan dan solusi. Wallahualam.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in VMJSeries and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Warna-Warni

  1. Nice.
    Sikap tegas itu harus.

  2. lazione budy says:

    laki-laki S itu Saya.
    Hiks, ga usah sekasar itu lah. Roda berputar..

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s