Horor Sinyal

Suatu hari, saya berada di kost seorang diri. Tak ada siapa pun. Senang sekali rasanya. Dan saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Saya kunci gerbang sehingga tidak akan ada yang dengan semangat 45-nya memencet bel guna membeli es batu. Ya ampun, saya sangat memaklumi diri saya dalam modus kejahatan macam ini. Bagaimana tidak, terkadang mereka amat tidak sabar untuk menunggu barang setengah menit saja. Memberi saya waktu untuk memakai jilbab, jaket, dan rok. Mereka sudah keburu memencet bel berpuluh-puluh kali seolah mainan baru. Sehingga membuat muka saya secara alami terlipat. Lagi pula ini musim hujan, jarang yang membutuhkan es. *alesan

Rumah kost yang saya tinggal tepat menghadap jalan raya yang menghubungkan Surabaya dengan berbagai kota di sebelah baratnya. Kebetulan lagi halamannya luas dan terdapat semacam teras sehingga sering dipergunakan orang-orang untuk berteduh jika mendadak hujan lebat dan mereka lupa membawa mantel.

Dalam hal lain, di kamar saya susah sekali tersedia sinyal. Sehingga saya harus ke ruang parkir untuk mendapatkan sinyal. *ngenes*. Di ruang yang difungsikan sebagai ruang parkir itu (yang menurut saya itu halaman dalam rumah) ada sebuah kursi goyang. Saya sering duduk di situ sambil membalas sms dan menunggu gerombolan pesan masuk.

Ketika saya sedang di rumah sendirian itu, menjelang kurang dari satu menit adzan ashar, tiba-tiba air turun dari langit tanpa ampun. Menyerang orang-orang yang berkuda besi di jalanan. Memaksa mereka berhenti dan berteduh. Dan pasti, halaman kost saya menjadi salah satu pilihannya.

Karena saya sedang di rumah sendirian, gorden jendela tidak saya buka. Ketika saya butuh sinyal, bagaimana pun saya harus ke ruang itu. Dan saya jelas duduk di kursi goyang.

Dari luar, jika ada yang kebetulan menengok ke arah dalam rumah, saya pastikan mereka sangat ketakutan. Karena melihat kursi bergoyang-goyang di balik gorden. Sementara gerbang jelas terkunci membuat orang berkesimpulan tak ada orang di rumah. Ditambah langit yang kelam, hujan turun lebat, dan petir bersahutan. Kombinasi suasana horor yang sempurna. Hahahaa! *ups

Mengenaskan : suasana horor yang tercipta karena tak ada sinyal.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged . Bookmark the permalink.

5 Responses to Horor Sinyal

  1. mae says:

    sukses buat bu dokter yg satu ni..
    sukses krnn membuat imaginasi pembaca ttg suasana horor yg tercipta.

  2. hehe mbak Dyah sendiri pernah merasa seram gak kalo lagi sendirian di rumah kostnya ? ah pertanyaan gak pas buat seorang dokter ya xixixi

  3. jampang says:

    saya bingung… kok orang2 itu bisa masuk teras… padahal pintu gerbang ditutup

  4. Whehhe udah dapet bayangan gimana jadinya nih ka😀

  5. lazione budy says:

    paragraf pembukanya saya banget.
    asyiknya bertapa.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s