Hujan-Hujan

Salah satu penyebab banjir yang disepakati adalah hujan. Tapi bagaimanapun, saya tidak akan mau mengakuinya. Karena hujan adalah mahluk yang sangat saya sayangi dan saya tak kan rela dia dijadikan kambing hitam atas tragedi banjir yang datang menimpa.

Hujan, ya hujan, banyak juga yang mencintainya dan telah menuliskannya dengan rangkaian kata-kata yang jauh melebihi nuansa indah. Dan kalian tahu? Membaca goresan mereka, saya secara mendadak terkadang benci pada mereka yang mem-prosa-kan hujan. Bukan karena apa, tapi saya cemburu pada para penulis itu. Hujan itu hanya untuk saya seorang! (sejenis patologi? Tonyor muka sendiri)

Maka saya, sepertinya telah kehabisan kata untuk saya rangkai yang mampu menggambarkan kecintaan pada hujan. (Halah? Ternyata alesan!) Kata-kata indah itu telah dicuri oleh mereka dan telah mereka rangkai. Maka kecintaan saya pada hujan akan tergambarkan oleh seluruh rangkaian puisi jiwa dari mereka-mereka yang (mengaku) mencintai hujan. *yaiks?

Jadi sebelum Anda mual dengan prolog saya yang begitu beralibi, maka saya sudahi saja. Saya akan menulis bahwa rumah kost saya banjir lantaran usai turun hujan yang cukup lebat. Haha. Begitu juga dengan jalan raya Gresik-Surabaya yang tepat di hadapan kost. Banyak kendaraan mogok dan terjadi kemacetan yang luar biasa. Luar biasa dalam arti di luar kebiasaan.

image

Hujan pun masih terus turun rintik rintik membuat nada yang begitu anggun di hati saya. Saya kebetulan punya tujuan ke tempat yang berjarak sekitar 400 meter dari kost. Dan Anda tahu? (tentu tidak) Itu menjadi sebuah alasan paling menarik yang terlihat rasional, sehingga saya bisa keluar rumah untuk hujan-hujan.

Saya dengan perasaan entah bagaimana berjalan kaki di trotoar jalan yang banjir menuju tempat itu sambil menikmati rintikan hujan yang jatuh ke sebagian aspal karena jalanan tentu lebih banjir daripada trotoar. Saya berjalan ditemani irama tetesan hujan yang menumbuk payung. Berasa cukup dramatis, berhujan-hujan (untuk manusia seumuran saya?) sambil melihat garis-garis aliran air yang terlihat di sekitar cahaya lampu separator jalan atau sorotan kendaraan yang berjalan. Syahdu sekali.

Saya sangat menikmati ekstasi yang tercipta secara alami di hati saya karena hujan. Entahlah, saya begitu bahagia. Persis seperti anak kecil yang tak bisa memberi alasan kenapa begitu suka hujan-hujan.  Sehingga saya tak kuat menahan hasrat untuk langsung menulisnya kali ini. Sambil kaki terendam banjir di rumah. Haha. *jadi ini hanya ‘update status’ yang tidak penting? Ampun dah

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Hujan-Hujan

  1. felis catus says:

    Sudah surut banjirnya Dyah? Mudah-mudahan tidak ada barang-barang yang rusak.

  2. kaprilyanto says:

    Seperti teman saya, dia suka hujan,

    Nice posting

  3. jampang says:

    saya suka mandi hujan… mungkinkah saya sayang dengan hujan?😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s