Pertemuan Kedua

[flashfiction]

Gadis itu hanya perantara. Tapi bagaimanapun aku berhutang padanya. Bisa jadi, semua yang telah terjadi dan sekarang adalah pengabulan doa-doa yang dirapal oleh ibu dan ayah sepanjang siang malam selama itu. Sayang mereka tak berkesempatan menikmatinya, mereka keburu pergi meninggalkanku selamanya. Dan aku pun tak bisa menyalahkan orang-orang yang menyalahkan aku sebagai penyebab kepergian mereka. Aku maklum.

Gadis itu, hanya sekali waktu bertemu denganku. Di bus dan kala itu pun aku berbohong padanya soal asal dan tujuan kepergianku. Gadis itu, se-menyenangkan guruku semasa duduk di Taman Kanak-Kanak. Riang, ramah, tegas, dan kocak. Tapi kata-kata yang diucapkannya ‘terlalu jujur’ dan menyayat-nyayat hatiku.

Gadis itu, dia mungkin tak pernah tahu, begitu dia turun, aku tak kuasa lagi membendung air mataku. Dan apa-apa yang telah diucapkannya, seolah matahari terbit yang mengubah hitamnya malam menjadi siang yang berwarna-warni. Dan seolah generator yang mampu menghasilkan daya ratusan hp sehingga sejak saat itu aku mengubah tujuanku untuk selamanya dan meninggalkan tempat asalku semula. Dan aku pun berani pulang ke rumah setelah tiga tahun aku tinggalkan.

Di sebuah perempatan lampu merah ada sebuah bus mendekat dan hendak menurunkan seorang penumpang perempuan. Sementara satu meter di belakangnya ada sebuah motor yang dikendarai seorang gadis yang memakai pakaian super lengkap sehingga tak menyisakan semilipun kulitnya. Kecuali orang yang terbiasa melihatnya seperti itu yang bisa menebak siapa dia.

Bus yang hendak menurunkan penumpang tak bisa menepi ke kiri lantaran terlanjur ke tengah. Namun dia memaksakan menurunkan penumpang di sana. Motor yang dikendarai gadis itu kini telah berada di samping kirinya dan berjarak kurang dari dua meter dari pintu depan. Kernet bus membuka pintu akan mengeluarkan penumpang. Motor itu direm pengemudinya dan tepat berhenti ketika penumpang itu turun.

Penumpang yang turun itu sempat melihat si pengemudi motor dan ‘memintanya’ berhenti sebentar agar dia bisa menyeberang. Pengemudi motor itu membuka kaca helm. Mata mereka sempat bertemu sepersekian-ribu-detik. Itulah pertemuan kedua dua orang perempuan setelah pertemuan mereka di bus tiga tahun yang lalu. Pertemuan kedua antara aku yang turun dari bus dengan gadis itu yang mengendarai motor, yang tak kami sadari.

Gadis itu, aku jadi sering teringat padanya. Ingin sekali aku bertemu untuk sekedar berucap terima kasih. Sebetulnya kami berasal dari kabupaten yang sama. Tapi bagaimana? Satu kabupaten itu bukankah luas? Aku hanya samar teringat wajahnya. Sedang dia tak mungkin mengenaliku dengan baik kini. Sebab kini aku telah berhijab, mengenakan pakaian selayaknya muslimah yang bisa menghargai diri sendiri. Sementara dulu, aku mengenakan pakaian yang mencerminkan pekerjaanku, seorang pelacur.

–***–

“Dosa Pemikiran itu tidak ringan, karena menyebarkan pemikiran yang salah juga berat dosanya, apalagi jika kemudian diikuti oleh banyak orang” [Prof.Dr.KH Adian Husaini, MA]. Sebaliknya, sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat juga tak kalah banyak pahalanya. Kita tak pernah tau secara lengkap dan utuh apa-apa yang menjadi implikasi dari apa yang kita perbuat. Karena antara sesama manusia ada rangkaian proses dan takdir yang berjalan menurut skenario dan kehendak-Nya. Maka kesimpulannya adalah jangan ragu dan malu untuk berbuat baik, sekecil apa pun itu. *NTmS

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen, Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Pertemuan Kedua

  1. capung2 says:

    Jadi sang gadis dlunya seorg pelacur ya..

  2. jampang says:

    alhamdulillah…

  3. mumet maneh moco dyah..lagi ra iso konsen untuk berimajinasi…susenas ini menyita waktu dan pikirankuuuuu…😥

  4. lazione budy says:

    selalu ada waktu buat berubah.
    Ksatria baja hitam: berubah!

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s