Tulisan Sampah

Perhatian!!! Buanglah sampah pada tempat yang disediakan!!! Maka, perlakukanlah ‘tulisan sampah’ ini dengan se-benar-nya!

image

picture source

Tulisan ini banar-benar tulisan yang masuk katagori sampah. Yang bisa jadi merupakan perwujudan ke-tidak-beres-an pada penulisnya. Ketidakberesan itu bisa terjadi karena dua faktor, internal dan eksternal. Masing-masing faktor bisa jadi terdiri dari beberapa poin. Namun saya minta dengan sangat untuk melepaskan faktor internal maupun eksternal. Sehingga tulisan sampah ini benar independen dan tidak tersangkut-saut dengan apa pun. Ini tidak berlebihan, bukan?

Saya sungguh tidak sedang beranalogi maupun berapologi. Tidak juga sedang meminta pemakluman. Apalagi harus menyatakan sedang terserang VPN a.k.a virus penyebab narsis. Tapi bisa jadi yang terakhir benar. Berarti kalau begitu yang kedua juga ikut menjadi benar? Entahlah. Lalu yang pertama, bisa Anda simpulkan sendiri.

Saya jadi tidak enak hati. Tapi tekad saya sudah bulat. Baiklah, akan saya lanjut tulisan sampah ini. Semoga tak ada yang membaca (?) :p.

Begini, saya sering menulis soal rangkaian takdir. Tapi mungkin saat ini kurang tepat menulisnya. Apalagi jika itu menjadi alasan legalitas kejadian konyol yang telah terjadi. Tapi apa boleh buat. Memang begitulah, siapa yang tahu bagaimana rangkaian takdir bekerja?

Akhir tahun kemarin, terjadi lagi hal konyol yang saya alami. Ceritanya, saya sedang mengurus perpanjangan SIM saya. Ketika di loket pendaftaran, bapak petugas ‘memahami’ bahwa saya sedang akan membuat SIM baru, bukan sedang memperpanjang.

Jika orang memperpanjang, maka si bapak petugas akan meminta SIM atau fotokopi SIM lama. Lalu memberi formulir dan menyuruh pemohon untuk mengisinya. Lalu pemohon menyerahkan formulir itu kepada petugas lainnya sekaligus membayar biaya administrasi. Lalu foto, lalu tinggal menunggu barang sejenak, SIM yang baru sudah jadi.

Masalahnya adalah miskomunikasi antara saya dengan petugas di loket pendaftaran itu tadi. Saya sudah mengatakan dengan jelas bahwa saya memperpanjang SIM. Suasana di sana memang sangat ramai. Barangkali si bapak petugas kurang jelas mendengar ucapan saya. Namun si bapak, menurut saya, secara sepihak memutuskan bahwa saya adalah pemohon SIM baru. Jadi bukannya SIM lama saya yang diminta -sebagaimana orang-orang yang memperpanjang-, melainkan beliau malah menyuruh saya ke ruang ujian teori! Anehnya saya menurut dan bapak petugas di ruang ujian juga tidak memastikan! Arhh

Akhirnya saya ikut ujian teori dan seolah-olah jadi kehilangan atau menyia-nyiakan waktu hampir dua jam. Di sini lah yang saya maksud dengan rangkaian takdir itu. Baru setelah ujian, ketahuan kalau saya salah prosedur. Ah memalukan sekali. Apalagi pada saat latihan memencet bel pretes saya sempat telat memencet. Lantaran saya sambil browsing ying dan yang. Arhh. Petugas itu jadi semakin punya alasan untuk mengolok-olok saya dan diaminkan dengan tawa oleh peserta lain. >,<‘

Nah, itulah prolog (what?!) guna mengantar ide utama tulisan sampah ini diturunkan. Haha.

Baru saja, saya menyadari alasan yang paling masuk akal terjadinya miskomunikasi antara saya dengan petugas di loket pendaftaran. Yang menjadi asal-muasal terjadinya tragedi salah prosedur waktu itu.

Begini, usia minimal seseorang memiliki SIM adalah 17 tahun. Usia SIM itu sendiri secara normal adalah 5 tahun. Jadi orang termuda yang akan mengurus perpanjangan SIM adalah berusia 22 tahun. Nah, saya sekarang berkeyakinan bahwa polisi di loket pendaftaran itu berkeyakinan (?) kalau usia saya pastilah beberapa angka di bawah 22 tahun! Jadilah beliau menyimpulkan kalau saya adalah pemohon SIM baru! Ahaha!

Sampai di sini, semoga Anda betul-betul mematuhi Perhatian! di atas.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Intermezzo and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Tulisan Sampah

  1. chuin5 says:

    Jadi korban gagal paham nih😀

  2. kaprilyanto says:

    Sampah kalo berada di tangan yang bisa mengolahnya maka akan jadi sesuatu yg bernilai loh🙂

  3. jampang says:

    nyampahnya di bagian akhir aja kayanya😀

  4. saya suka baca tulisannya, seger he he he

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s