Alasan Sebenarnya

Teknologi bagi saya adalah bagian dari rangkaian takdir yang Tuhan ciptakan sebagai kemudahan dan ujian bagi umat manusia. Membicarakan soal teknologi, saya sebagai seorang manusia sangat minim ilmu pastilah akan membuat pencitraan yang sangat tidak baik bagi saya sendiri. (?) Haha. Tapi saya memang sedang ingin menulis soal teknologi menurut pemahaman saya, agar tulisan ini tidak hanya dinilai dari satu sudut pandang saja. *kayak apa aja*

Pertama, tulis kata teknologi. Lalu buatlah dua cabang. Cabang pertama adalah asal usul lalu cabang kedua adalah tujuan. Asal-usul ini bercabang lagi menjadi motivasi, belajar, proses. Sedangkan tujuan juga bercabang menjadi manfaat, kerugian, belajar, dan proses. Manfaat dan kerugian akan bercabang-cabang sesuai dengan tema teknologi apa yang sedang dibicarakan.

Jadi membacanya begini : teknologi itu akan berkaitan dengan asal-usul dan tujuannya. Asal-usul teknologi berkaitan dengan motivasi seseorang sehingga dia tergerak, kemudian dia belajar, akhirnya muncul hasil teknologi itu sendiri. Lalu tujuan teknologi akan berkaitan dengan manfaat dan kerugian yang dikandungnya, kemudian mendorong orang belajar lagi untuk inovasi dan revolusi, dan diantara itu jelas ada proses dan proses belajar.

Nah, di antara semua itu ada pelakunya yaitu manusia. Yang dalam urusan teknologi ini akan terkait dan terikat oleh rangkaian takdir dan proses. Apakah Anda mulai bingung? Sepertinya saya juga. Atau begini saja, kita sepakat bahwa teknologi itu sesuatu yang luar biasa yang menjadi bagian dari ilmu pengetahuan. Semakin hari teknologi semakin canggih. Penemu atau pengembang atau siapa pun yang berjasa, pastilah bukan orang yang biasa-biasa saja.

Dan diantara mereka yang telah berhasil meramu atau menemukan sesuatu yang luar biasa itu, justru mengantarkan mereka pada ‘hidayah’. Siapakah Yang Mahakuasa yang telah mengizinkan hal ini terjadi? Atau setidaknya siapakah Yang Mahakreatif mengatur ide semacam ini? Ilmu pengetahuan dan tekhnologi mengantarkan mereka pada keberuntungan sejati. Kontradiksi sekali dengan mereka yang (ingin) terlihat wow dengan ide-idenya yang tidak elegan, yang kelihatan sekali sotoy-nya, padahal tidak banyak tahu. -_-‘

Salah satu hasil teknologi yang amat menarik untuk dibicarakan adalah twitter. Twitter, iya itu. Itulah alasan utama saya menulis kali ini. Gubrakks! Aduh kenapa akhir-akhir ini saya suka menulis dengan prolog yang begitu bertele-tele ya? Sudah begitu, tulisan saya juga tak bermutu lagi? Arrhh. Sampai kapan akan seperti ini? Entahlah. Maafkan saya kawan, karena saya terlalu banyak beralasan dan sok sibuk. Sungguh saya minta maaf. Semoga saya baik-baik saja. Doakan kawan! *cari-cari tisu, sok mellow

Nah kan? Tambah panjang tele-telenya? Oke, saya lanjut soal Twitter. Twitter (dan juga facebook) adalah dua jenis jejaring sosial yang banyak digandrungi orang, sepengetahuan saya. Apa pasal? Saya sendiri tidak paham. Dari mulai bocah yang masih ingusan sampai kakek yang telah memiliki puluhan cucu, dari manusia udik di sudut dunia hingga dia yang berada di puncak gedung tertinggi, dari dia yang berprofesi sebagai pengemis (sekaya apa pun tetaplah pengemis yang tak mampu menghasilkan nilai ekonomi apa pun) sampai (mungkin) orang terkaya di dunia ini, mereka bisa meng-operasi-kan Twitter (dan facebook). Bahkan dari seorang yang teramat pendiam yang tak dikenal orang kecuali ayah dan ibunya *lebay* hingga artis papan atas yang hampir dikenal seluruh dunia sama-sama punya dan bisa memakai twitter (terlebih facebook). Jadi apa keistimewaannya? Bagi saya tidak ada. Itu terlalu biasa, kawan. *sok jumawa*

Karena terlalu banyak pengguna itulah, meski bukan alasan sebenarnya, saya memutuskan untuk tidak ikut-ikut membuat lapak di sana. Dan dalam hal ini justru saya merasa terlihat keren! *?*

Kita sama-sama tahu bahwa facebook sempat mengalami pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat negeri yang latah.Saya malas sekali membahasnya. Dan saya memilih menghindari perdebatan yang tak berujung pada ‘penghormatan pilihan seseorang’ hanya gara-gara twitter (terutama facebook). Semoga Anda memahami kalimat saya barusan. Kalau tidak, akan saya jelaskan di lain waktu. Tapi saya nggak janji, sih.😀 Jadi, ketika orang bertanya tentang alamat keberadaan saya di alam twitter (atau pun facebook), saya selalu dengan enteng menjawab : saya belum beli.

Dalam hal menjawab itu saya sungguh-sungguh bercanda. Buat apa coba? Sampai suatu hari Pak Iwan menulis soal jual beli twitter. Betapa rasanya saya menyesal telah mengucapkan jawaban konyol seperti itu. Tapi sekaligus tiba-tiba saya juga merasa sangat kaya dan mampu membeli twitter seharga berapa pun. Kombinasi rasa yang aneh dan saya tetap merasa keren. *Sadarlah, nak!*

Bagi saya, tampilan facebook itu jelas dan lugas. Dalam arti mudah dipahami dan dimanfaatkan. Jadi tak heran kalau penggunanya mencapai angka entahlah berapa yang jelas banyak. Lain dengan twitter yang menurut saya tampilan dan penggunaannya amat-amat tak ramah pengguna. Saya heran kenapa pengguna twitter jumlahnya juga bejibun? Sedang bagi saya, twitter sangat rumit, misterius, dan tidak prosedural. Jujur, saya kesulitan memahami dan mengoperasikan serta bagaimana memanfaatkan twitter! Jadi itulah alasan sebenarnya (meski bukan yang utama) kenapa sampai saat ini saya belum membeli twitter. Ahaha!

image

Aaaa kenapa saya malah nulis twitter ya?! -_-‘

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Pengetahuan Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Alasan Sebenarnya

  1. Membeli akun social media itu sama dengan … n i p u.

  2. iya sih mbak, saya juga kurang suka space yang disediakan twitter itu terlalu sedikit, tapi herannya kita (kita ? aku aja kali hehe) sampe rela bikin twit sampe belasan puluhan bahkan ada yg sampe ratusan. Kalo facebook, satu status aja bisa menampung banyak sekali kalimat.

  3. lazione budy says:

    Gunakan teknologi dengan bijak, simple.
    folow dong: @lazione_budy haha…

  4. Rini says:

    sesama bukan pengguna twitter, ok deh,,,,

  5. jampang says:

    Twitter saya isinya adalah link tulisan-tulisan di wordpress saya.😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s