Nah Lho?!

Singkat cerita, biar saya tidak berpanjang lebar dengan sesuatu yang tidak penting, saya kemarin sore pulang ke rumah dan bukan kebetulan bertemu dengan teman lama. Lalu selama di bus sekitar 1,5 jam kami bertukar cerita tentang banyak hal. Di antara sekian hal yang kami bicarakan, setidaknya ada satu hal yang menarik untuk saya tulis di sini kali ini. Apakah ini prolog yang penting? Sepertinya tidak. Haha.

Oke, kita serius. Kawan saya itu seorang mahasiswa. Usai dia menceritakan beberapa cerita, kami terdiam beberapa saat. Senyap suasana. (senyap? Wong bis gedumbrangan -_-‘). Saya lalu melontarkan pertanyaan untuk mengganti kesenyapan.

“Dek, pacarmu itu kerja di mana?”

“Di pelayaran, Mbak.”

“Mantan teman sekolah atau bagaimana?”

“Bukan Mbak, kami beda lima tahun.”

“Kamu pacaran itu apakah bertujuan untuk menikah dalam arti setidaknya ada destinasi ke arah pernikahan  atau sekedar buat status karena jaman sekarang kan gimana gitu kalau nggak punya pacar?”

“Awalnya saya iseng Mbak. Tapi si mas yang serius. Keluarga kami juga sudah saling tahu. Delapan bulan Mbak saya baru bisa menyukai dia.”

“Jadi, intinya mau dibawa ke arah pernikahan?”

“Ya kalau bisa sih begitu Mbak.”

“Kenapa nggak nikah dulu aja baru bangun cinta?” tanya saya dengan nada dan ekspresi gokil.

“Ahaha! Saya belum bisa seperti itu Mbak.”

Pembicaraan terus berlanjut soal pacar-pacaran. Si Dek itu bercerita pada saya tentang temannya dan pacar masing-masing.

Ada si A yang kasihan karena selalu putus. Ada si B yang pernah berpacaran dengan cowok X lalu putus lantaran cowok X itu minjam motor B dan tidak mau mengembalikan. Ada si C yang ketika putus dengan pacarnya, pacarnya itu tidak terima lalu meminta ganti rugi lalu mereka berantem di samping warung kopi sambil saling tendang.😯

Ada si D, ada si E, ada siapa lagi gitu. Mahasiswa dan cerita pacar mereka masing-masing. Lalu gantian si Dek itu bertanya pada saya, “Kalau sampean gimana mbak? Pasti sudah punya pacar.”

“Iya sudah. Saya punyanya kekasih gelap.”

“Ah sampean ini selalu saja begitu.” *ekspresinya -_-‘

“Haha!” saya tertawa menyeringai. “Lho memang begitu.”

Saya lupa kalimat saya selanjutnya bagaimana. Intinya saya nggak mau pacaran kecuali setelah menikah. Jodoh itu sudah tertulis. Dan saya malah memberi contoh teman-teman saya yang dari ‘pertama kali kenal’ hingga ‘resmi menikah’ tak memakan waktu lebih dari tiga bulan. Ada  Pak Rifki (jampang) dan Mira. Teman bloger yang saya tahu dan ingat link-nya yang saya jadikan contoh, seolah-olah saya akan menunjukkan link itu kepadanya. Ahaha! Entah itu jadi relevan atau tidak dengan pertanyaan awal dia tadi.

Si Dek masih takzim menyimak.

Dia lalu berujar, “Iya mbak. Bener seperti itu. Biar tidak dosa!”

NAH LHO?!

Akhirnya tulisan seputar VMJ bisa muncul di antara ketidakmutuan tulisan-tulisan saya. Ahaha. Padahal isinya juga tidak se-begitu-VMJ-nya. Ya sudahlah.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in VMJSeries and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Nah Lho?!

  1. rinisyuk24 says:

    Yang tahu kalo pacaran itu dosa, mungkin lebih banyak dari yang kita kira mbak. Tapi, yang mengerti dan paham kalo pacaran itu dosa dan bersedia untuk tidak pacaran. Itu yang sedikit ,setahu saya ya mbak,🙂

  2. jampang says:

    nah lho…. padahal cerita saya kan belum lengkap😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s