Bukan Review

Libur kemarin saya menghabiskan seharian untuk menyelesaikan membaca novel karangan Tere Liye. Judulnya : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Dan kali ini ada hal yang ingin saya tulis yang sedikit ada kaitannya dengan novel itu. Tapi ini memang bukan review. Saya akan menulis review novel tersebut di kesempatan lain jika memungkinkan. Karena memang ada banyak hal yang ingin saya tulis setelah membacanya. Semoga di waktu lain itu saya tidak lupa apa yang ingin saya tulis. Haha. Saat ini ada hal lain yang lebih mengusik hati saya jika tak segera saya tuliskan.

Novel itu menceritakan dua orang pengamen kecil kakak-beradik yang ‘ditemukan’ oleh seorang eksekutif muda di sebuah bus. Si pemuda (namanya Danar) tergerak untuk membiayai sekolah mereka. Dan siapa yang menyangka ternyata mereka brilian. Sampai di sini, saya cukup terusik ‘karena saya belum bisa seperti pemuda itu’. Saya belum mampu untuk itu. Saya saat ini masih hanya seorang pesuruh. Hiks.😥

Lalu tadi tak sengaja lihat iklan di televisi. Iklan yang menampilkan anak-anak jalanan, pengamen cilik, anak kecil yang mencuci gerbong kereta api, gadis kecil penjaja koran. Dan mereka semua punya mimpi. Ya itu benar. Di tangan mereka tergenggam janji kehidupan lebih baik (kata Tere Liye juga). Dan pertanyaan selanjutnya adalah di mana Danar?

Lalu saya mencoba memutar memori. Mencoba mengingat-ingat selama ini bagaimana saya pernah bertemu dengan anak-anak itu. Di kereta, di bus, di lampu merah, di dekat mesin ATM, di sekitar parkir mini/supermarket, di pasar, di parkiran sebuah perusahaan, di rumah makan, dan di rumah saya! Sejauh saya mampu mengingat, mereka berbentuk pengamen dan pengemis. Dan sejauh saya pernah bisa berinteraksi dengan mereka, saya hanya menyimpulkan satu hal : mereka BELUM punya mimpi. Mereka terlanjur nyaman dengan pekerjaannya, entah awalnya karena dipaksa atau karena faktor turunan. Huwaaa sampai di sini saya tak tahu harus menulis apa lagi.

Sejak saya memutuskan untuk tidak lagi melempar receh kepada anak-anak itu. Sebab saya yakin, receh itu sama sekali tidak membawa kebaikan bagi mereka. Saya memutuskan untuk memanfaatkan setiap ada kesempatan untuk sekedar memantik api mimpi di hati mereka. Sejak saat itu, baru ada satu pengalaman saya yang cukup melegakan hati saya. Saat itu di sekitar ATM di dekat supermarket. Seorang anak lelaki menengadahkan tangan saat saya menuruni tangga. Saya tersenyum menatapnya lalu saya raih pundaknya. Kami duduk bersisian di tangga sambil saya merangkul pundaknya.  Kebetulan dia sekolah di sebuah madrasah swasta dan ayahnya sudah meninggal. Akunya demikian. Kami lanjut berbincang. (kurang lebih di bawah ini. InsyaAllah tidak merubah makna)

Dy : siapa yang menyuruhmu kemari dek?

Bocah : Tidak ada Mbak.

Dy : lha terus kenapa kamu di sini?

Bocah : pengen bantu ibu Mbak.

Dy : Ibu ngapain sekarang?

Bocah : ibu di rumah jualan.

Dy : jualan apa?

Bocah : nasi Mbak.

Dy : kamu ingin membantu ibumu?

Bocah : iya mbak. *mengangguk

Dy : pulanglah. Bantu ibu berjualan. Bantu ibu belanja. Bantu ibu cuci piring. Bantu ibu membungkus nasi lalu berjualan keliling. Belajarlah yang tekun biar dapat rangking.

Setelah itu saya tak pernah lagi melihatnya. Semoga dia tidak berpindah tempat. Semoga dia benar berhenti dan mulai mengupayakan mimpinya.

Entahlah, karena saya belum sempat bertanya langsung pada Tere Liye, saya enggan menduga-duga. Apa tujuan sebenarnya dia menulis novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Apakah untuk memotivasi kita untuk seperti Danar yang peduli anak-anak kecil itu atau bagaimana. Karena bagaimana pun, ‘kesuksesan’ Danar dalam rangka kepeduliannya adalah karena pengamen kakak-beradik itu memiliki mimpi. Sementara yang ada di sekitar kita, sekitar saya sih, mereka entah punya mimpi atau tidak.

Bagaimana menurut Anda?

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Bukan Review

  1. quinque says:

    saya setuju… dengan menurut mbak

  2. ayanapunya says:

    bisa jadi begitu🙂

  3. sunarno2010 says:

    saya kagum pada para penulis novel yang begitu hebatnya tulisan-tulisan mempengaruhi para pembaca, mengusik hati, bahkan sangat menginspirasi

  4. lazione budy says:

    belum baca satu pun karya Tere.
    next time tak kandani nek wes moco..

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s