Sepertinya Sama

Mungkin karena kemarin di bus kepala saya kesikut orang yang mau turun hingga menyebabkan mata saya berkunang-kunang, hal itu turut memperjelas gejala kesenewenan saya. Jadi daripada tanda-tanda itu semakin menghantui, saya rasa lebih bijak jika saya muntahkan saja. Saya tak enak hati kalau lagi-lagi siaran pada teman. Dan jangan tanya pada tembok kamar kost, dia juga sudah sangat bosan menjadi tempat penampungan sampah dari mulut saya. *kasihan amat hidup saya*

Kemarin waktu saya naik ojek menuju rumah, si bapak tukang ojek cerita. Katanya, di jembatan sebelah jembatan rumah orang tua saya yang sekaligus tikungan, usai ada dua anak kelas 5 SD yang jatuh tercemplung. Kedalaman jembatan sekitar 4 meter dan bagian bawahnya sengaja dibeton. Kondisi mereka parah. Motor ringsek. Kemungkinan mereka mengendarai pada kecepatan di luar kemampuan mengendalikan. Sepanjang jembatan itu telah dibangun permanen dan baik, kali kemarin adalah musibah yang pertama. Dan semoga itu yang terakhir. Kepala saya makin berat terasa seusai mendengar berita tersebut.😦

Kejadian itu membuat pikiran saya mengembara lagi. Entahlah, kadang hal itu seolah menjadi default otomatis. Meski ritual itu sejujurnya tidak menghasilkan nilai ekonomi apa pun. Atau untuk sekedar menawarkan solusi-sekedarnya, saya juga tidak seberapa yakin. Tapi setidaknya saya menikmati hal itu. *?*

Kembali soal kecelakaan itu. Ada pertanyaan dari seseorang yang membuat imajinasi saya semakin liar. Demi menjaga nama baiknya, saya rahasiakan saja identitas orang tersebut. (penting?) Dalam kasus ini yang menjadi korban adalah anak-anak SD yang baru kelas 5. Yang bisa jadi, mereka masih ingusan. Orang itu berkomentar dengan pertanyaan,”Ini salah siapa?”

Whatt?

Meski tak bisa dipungkiri bahwa kenyataan selanjutnya adalah saya memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Dan apa jawaban yang temukan? Abstrak! Saya justru teringat pada hal lain. Saya belum menemukan analogi yang tepat untuk menggambarkan penemuan saya itu. Intinya (kalau saya sederhanakan) hampir di setiap sektor di setiap levelnya, ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang menyebabkan ketidakseimbangan kehidupan.

Setidaknya saya punya lima hal untuk dimuntahkan (baca : diperbandingkan).

1. Banyaknya hasil bumi negara kita yang dinikmati tangan asing karena tanda tangan wakil rakyat. Yang bisa jadi para wakil yang mau tanda tangan itu berada di bawah tekanan dan ancaman atau di bawah godaan.

2. Banyaknya kasus pelecehan seksual yang dialami perempuan di bawah tekanan dan intimidasi.

3. Tidak harus perusahaan besar/instansi resmi yang tidak transparan dalam pengelolaan harta umat, namun banyak juga ditemui pedagang/pengusaha kecil yang sudah tidak sportif. Misal penjual gorengan pinggir jalan yang mencampur plastik pada minyak gorengnya agar renyah. Penjual pentol yang menggunakan daging berformalin.

4. Seorang janda agak tua penjual sayur keliling yang ekonominya pas-pasan, beliau baik hati, taat beribadah, memiliki seorang anak gadis sedang kuliah. Siapa yang menyangka kalau anak gadisnya begitu modis dan konsumtif? Padahal untuk makan saja, seharusnya dia tahu diri. Atau ada lagi, lelaki paruh baya dengan istrinya sedang kepanasan di sawah. Sementara anak lelaki mereka sedang ongkang-ongkang kaki di warung kopi sambil mengisap racun.

5. Orang yang masih mampu bekerja namun pilih mengemis saya pikir analog dengan orang kaya bermobil SUV yang membuang sampah rumah tangganya di jalan raya.

Bukankah dari kelima hal itu ada sesuatu yang bisa dikatakan menjadi kesamaan? Maaf jika saya soktoy. Kelima hal itu didasari satu hal : mental dan akhlak yang lemah.

Itu baru lima hal. Sedang di kehidupan itu ada sekian banyak hal yang bisa berjilid-jilid jika dibukukan. Setidaknya, itu bisa menjadi sampel random yang mewakili gambaran kehidupan kenegaraan di sini. Permasalahan-permasalahan yang sepertinya sama ujung pangkalnya. Mental dan akhlak yang lemah.

Lalu apa solusinya? Barangkali saya terlalu naif dan teramat menyederhanakan masalah. Toh nyatanya saya juga masih seperti ini saja hingga saat (menulis) ini. Lihatlah, kitab paling fenomenal sejak ratusan tahun silam telah menuliskan garis besarnya.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(Al-‘A`rāf):96

T,T

Dia cuma menyuruh kita beriman dan bertaqwa. Selanjutnya urusan-Nya menyelesaikan runyamnya kehidupan ini.

Apa yang terjadi atau lebih tepatnya apa yang kita lakukan seolah menantang Tuhan. ‘mana siksa-Mu?’. Padahal sudah jelas di depan mata, musibah itu datang silih berganti menimpa kita baik secara individu maupun secara sosial. Tapi masih banyak di antara kita yang tidak juga mau mengerti.

Namun saya optimis, masih ada orang-orang yang dengan tulus dan sabar dengan kerja nyata mereka untuk membawa kembali penduduk negeri ini ke jalan iman dan taqwa. Yang mungkin dengan itu, Tuhan masih berbaik hati mengulur siksa-Nya. Ya Allah, sekali lagi, ampunilah saya..

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi. Bookmark the permalink.

4 Responses to Sepertinya Sama

  1. jampang says:

    pernah baca quote, kehancuran bukan karena banyaknya orang bodoh yang tampil bicara, tetapi karena banyaknya orang pintar yang diam saja

  2. Relevan sekali ayatnya. Cerdas!

  3. dan Allah menganjurkan kita untuk terus memperbaharui iman…🙂

  4. lazione budy says:

    kesamaannya kita para blogger: optimis
    betul tidak?

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s