Dilema Metamorfosa

[flashfiction]

Namaku Ari. Beberapa bulan yang lalu aku masuk Taman Kanak-Kanak. Hampir setiap hari aku pergi ke sekolah. Setiap pulang, ibu yang selalu menjemputku. Menurutku, ibuku itu sangat luar biasa. Tepatnya, luar biasa suka ceramah. Memberi tahu ini itu. Menyuruhku menghafal ini itu -bersamanya-. Kadang dia bercerita apa lah, yang aku tak mengerti. Katanya, nanti setelah dewasa aku akan mengerti dengan sendirinya. Ah tapi, ibu kalian juga begitu kan?

Sebelum menjemputku, ibu mampir membeli sayur di sebuah warung dan membelikanku kue lemper. Aku melihatnya di dalam kresek semitransparan yang dipegangnya lalu aku memintanya. Aku memakan lemper itu di boncengan ibu. Lemper itu habis dan wusss aku melempar bungkusnya sesukaku!

Ada perasaan yang entah bagaimana aku menceritakannya pada kalian, yang langsung muncul seketika di hatiku seusai melempar bungkus lemper itu. Sensasi sebuah pelanggaran untuk pertama kali. Kalian pernah merasakannya bukan? Ada bahagia dan ada ketakutan serta rasa bersalah. Aku curiga, sensasi inilah yang terpelihara dan mempengaruhi sikap orang ketika dewasa jika tidak segera diantisipasi.

Selama ini, sejak aku bisa mengingat, aku tak pernah membuang sampah sembarangan. Ibu dan ayahku selalu membuang sampah pada tempatnya. Jika mereka bepergian selalu membawa kantong plastik yang digunakan untuk menampung sampah kami. Lalu nanti dibuang di tong sampah atau jika tidak ketemu, mereka buang di rumah. Walaupun di tempat itu tersedia tukang bersih-bersih, mereka bilang bahwa membuang sampah pada tempatnya adalah pertanda kecerdasan. Dan mereka tak mau dibilang tidak cerdas. Jadi mereka tetap mengumpulkan sampah itu.

Begitu juga dengan kakek nenek. Mereka telah berhasil mendidik (dengan teladan) anak-anaknya dalam rangka berdisiplin soal sampah. Kakek pernah bilang, dulu waktu ibu masih SMA dan tak sengaja kakek melihat tas ibu yang terbuka di ruang tengah, yang kakek lihat isinya sepertiga adalah sampah. Sampah pribadi ibu selama seminggu yang belum ia pindahkan. Oh ibuku?!

Aku pernah protes pada ibu bahwa temanku membuang sampah mereka sembarangan. Berulang-ulang. Dan ibuku menjawab dengan jawaban yang sama. Berulang-ulang juga. “Dek, membuang sampah sembarangan itu bukan perbuatan yang baik. Merugikan. Kenapa Adik mau meniru perbuatan seperti itu?”

Ibu memang pernah menjelaskan padaku. Efek membuang sampah sembarangan itu semacam sifat zat karsinogen berkombinasi dengan sifat laten. Efeknya tidak langsung muncul saat ini tapi nanti. Dan efek yang tercipta itu adalah sesuatu yang besar, merugikan, tahan lama, dan akan menghabiskan banyak tenaga waktu juga biaya. Serta pasti meninggalkan luka.

Lihatlah beberapa stasiun televisi akhir-akhir ini sibuk membicarakan banjir yang mewarnai ibu kota. Ibu memperlihatkan itu kepadaku dan mengatakan bahwa itu adalah salah satu akibat dari membuang sampah sembarangan. Dan lihatlah efek lainnya. Orang-orang sibuk meratap dan saling menyalahkan. Dan ada yang tak habis pikir. Yaitu #mereka yang malah tertawa puas seolah menemukan kesalahan Pencipta Hujan sebagai penyebab banjir. Media-media justru membawa berita yang destruktif mental, makin memperkelam keadaan. Seharusnya mereka mendengar wejangan pak Rhenald Kasali.

Dan yang sungguh tragis adalah cerita soal ibu negara yang malah sibuk dengan akun jejaring sosialnya. Yang malah isinya lebih soal pribadi daripada soal negara. Its okelah, tapi seharusnya tidak di saat kondisi negara dalam musibah. (tapi kapan ya?). Nanti, sepuluh tahun kemudian, saat aku belajar sejarah di SMA, aku dan teman-temanku akan tertawa getir membaca sejarah ini setelah tertulis.

Mungkin jika ibuku yang menjadi ibu negara, dia pasti akan mengomel. Maksudku, karena memang gayanya seperti itu. Dia akan mengomel menyemangati para korban untuk tetap tegar sambil berhitung apa yang harus  dipersiapkan setelah banjir minggat. Setidaknya agar musibah itu tidak berulang di kemudian hari. Dia pasti juga akan mengomel pada rakyatnya yang lain agar belajar dari musibah ini sehingga tidak datang menimpa. Dan tak lupa akan mengomeli media atau siapa pun yang justru menghadirkan berita-berita tak bermutu yang hanya memperkeruh keadaan. Setidaknya, itulah hal minimal yang bisa dilakukan ibuku jika saat ini dia menjadi ibu negara.

Perasaan atau sensasi bahagia yang kurasa diawal melempar bungkus tadi, lama-lama berubah menjadi sebuah dilema. Rasa itu berubah menjadi aneh, tidak biasanya. Aku merasa bagai seorang penghianat. Aku merasa bersalah sekarang. Dan semakin mendekati rumah, rasa itu berubah lagi, menjadi rasa takut. Aku masih kanak-kanak TK yang belum mengerti apa itu dosa, tapi mungkin itu lah yang aku takuti. Selain aku juga takut mengecewakan ibuku, bagaimana harus kujelaskan padanya? Dari bahagia, rasa itu berubah dilema, lalu berubah lagi menjadi takut, dan kini tepat memasuki gerbang rumahku, rasa itu sempurna bermetamorfosa menjadi sedih.

Ibu mengangkatku turun dari boncengan motor (padahal biasanya aku turun sendiri) sambil mencium pipiku. Ibu memandangku dengan pandangan disertai senyuman khas miliknya sambil mengulurkan tangan tanda meminta, “Dek, mana bungkus lempernya?”

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Dilema Metamorfosa

  1. nats says:

    love it much…🙂

  2. lambangsarib says:

    suwer ewer ewer… kereeen. Cara nulis dan tentu saja pesan yang hendak disampaikan. Crirpstory nya pun udah di retwit…, hehehe….

    Ada yang harus saya sampaiakan. Kebetulan saya tinggal di bantaran kali ciliwung.
    1. Tulisan ini sudah di share di twitter yang udah kebeli lama. Eh… ini gak nyambung ya ?
    2. Setiap hari aku dapati anak anak di sekitar rumah selalu membuang sampah di kali. Saat kutanya mengapa melakukan hal itu ? Umumnya tak menjawab, hanya tersenyum dan berlalu begitu saja.
    3. Setiap hari aku melihat lelaki (dan juga perempuan) membuang puntung rokok semaunya. Itu dilakukan dihadapan anak anak mereka. Aku berkeyakinan bahwa anak anak akan memaknai bahwa, “merokok itu boleh, karena diajarkan kedua orang tuanya” serta membuang sampah sembarangan itu “legal, karena dicontohkan orang yang dicintainya”.
    4. Pernah saya tanya ke orang orang yang membuang sampah di kali. Kenapa mereka melakukan hal itu ? Mereka umumnya menjawab, “boro boro untuk membuang sampah di tempat sampah. Untuk makan aja susah”. Saat kukonfirmasikan hal itu pada petugas kebersihan, mereka menjawab, “yah mas…., lha ketika sampah diambil pakai truk kan kita juga bayar. Padahal seharusnya gratis. Biasa lah…, pejabat mata duitan.”
    5. Ntar bersambung…. kalau dah dapat ide lagi…..

  3. Kebiasaan buruk yang diulang-ulang …
    Kelak di akherat nanti kita akan dimintai pertanggungjawabannya bila kebiasan buruk itu mengakibatkan bencana terhadap orang lain.

  4. xrismantos says:

    Nicely written!! Good job.
    Pasti di pertanyaan terakhir dari ibu itu si Ari jawab “Bungkusnya udah kumakan ma…” sambil mewek😀😀

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s