Bromo #Just For Fun

Anda mungkin pernah mengalami hal semacam (yang akan saya tulis) ini. Pada suatu saat, Anda merasa entah galau atau apa lah yang membuat hati Anda bertanya-tanya. Lalu seolah Anda adalah tokoh utama dalam sebuah film, segala yang Anda temui seperti ‘diatur’ untuk menjawab kegalauan Anda.

Misalnya Anda merasa sedang ditimpa begitu banyak cobaan. Lalu Anda memutuskan untuk pulang kampung. Di jalan Anda begitu tertarik mengamati seorang nenek tua penjual kacang goreng. Padahal biasanya Anda begitu tidak peduli. Muncullah keinginan Anda untuk membeli kacang gorengnya. Dan seolah alam bekerja dengan sendirinya, si nenek malah menceritakan kisah hidupnya yang sangat pilu, berkuadrat-kuadrat kali lipat dari yang sedang Anda rasakan. Dan seperti di dunia dongeng, sim-salabim, kegalauan Anda tadi lenyap seketika.

Atau lagi  begini. Anda sedang mengalami hal-hal entah itu menyenangkan atau sebaliknya yang menurut Anda tidak biasa. Lalu Anda menonton film lepas atau episode sinetron yang adegan-adegannya persis (atau hampir mirip) dengan rangkaian kejadian yang Anda alami. Jadilah Anda merasa, tayangan tadi sengaja dibuat untuk Anda.

Dan misal lagi begini. Anda sedang mempunyai sebuah misi tertentu. Dan seperti sebelumnya, alam seolah merestui Anda dengan caranya sehingga Anda dapat melaksanakan misi tersebut dengan lancar.

Nah, saya belum tahu istilah apa yang menggambarkan kondisi seperti yang sudah saya tulis. Dan sebagaimana saya tulis, acara saya ke Bromo (25-26/01/2014) kemarin seolah benar-benar didukung oleh alam semesta. Bagaimana tidak? Begini ceritanya.

Gunung Bromo, meski tetap sebuah gunung yang tinggi, dia sama sekali bukan gunung yang menantang dalam pendakian. Bukannya saya meremehkan, tapi itulah faktanya. Di sana sudah tertata dengan baik sehingga orang bisa dengan mudah berjelajah. Banyak kemudahan lah. Karena itulah, yang telah mendaki Bromo bisa orang biasa yang sama sekali tidak mencintai petualangan.

Jadi, bagi seorang petualang seperti saya *emang iya?* rasanya begitu memalukan belum pernah menginjakkan kaki di pasir Bromo. Saya, yang biasa suka melawan mainstream, susah sekali menyembunyikan perasaan minder karena belum naik Bromo. Maksud saya, kalau Bromo yang begitu biasa bisa didaki berbagai macam orang dianalogikan facebook atau twitter yang digandrungi jutaan orang. Bagi saya yang tidak memiliki akun-akun tersebut, saya  justru merasa keren. Saya akan dengan santai menjawab, “saya belum beli.” Tapi kalau saya belum ke Bromo, rasanya itu mengurangi kadar kepercayaan diri saya. *lebay* Pertanyaan ‘Dyah, sudah pernah ke Bromo?’ adalah pertanyaan yang paling mengerikan bagi saya.

Saya pergi berdua bersama teman. Teman saya rupanya juga memiliki pertanyaan mengerikan yang sama dengan saya. Karena itu, tujuan kami sedikit berbeda dengan wisatawan pada umumnya. Kami hanya ingin menggugurkan  pertanyaan itu agar tidak lagi mengerikan. Dan kami jelas ingin punya cerita yang berbeda dengan pewisata pada umumnya. Itulah tujuan kami sebenarnya. (?)

Jika kebanyakan orang ingin melihat sunrise dari puncak Bromo, itulah misi mereka. Sedangkan kami datang ke sana, sama sekali tidak untuk misi tersebut, melainkan hanya untuk bersenang-senang. We gone not for mission, but only for fun. :p

Karena itu, kami sangat santai. Sebelum berangkat, hujan turun dalam frekuensi tak tentu. Hujan mengiringi keberangkatan kami. Dan bagi kami, itu berarti perjalanan kami direstui. :p Ada bus Indonesia jurusan Bungurasih yang melintas saat kami kurang sedikit lagi sampai jalan raya. Jadi kami tertinggal. Dan sebagai gantinya, kami naik bus ber-AC yang bebas asap rokok. Segala sesuatu itu membawa hikmahnya. Kadang kita kurang sabar untuk mengerti.

Sampai di terminal, kami naik bus dan langsung berangkat. Lalu sampai di Terminal Probolinggo juga langsung ditawari elf yang menuju desa Ngadisari. Kami sempat ditawari penginapan dan hardtop, tapi kami tolak dengan halus. Kami santai saja, karena rencananya akan kami urus nanti setiba di atas.

Setiba di atas, ternyata kami tak perlu repot mencari penginapan. Kami langsung ‘disodorkan’ di homestay milik Pak Trisno oleh sopir elf. Kami langsung tinggal di sana bersama teman-teman yang naik elf bersama kami.

Teman-teman kami telah menyewa hardtop untuk keliling besok. Kami juga sempat ditawari (hardtop lain tidak bersama mereka). Tapi kami tidak ambil tawaran itu. Kenapa? Karena hardtop itu mengajak berangkat jam 3. Sementara kami, sejak awal tidak mengejar misi sunrise. Jadi lebih baik bangun semau kami. Ahaha.

Dan seolah alam mendukung, ternyata Pak Trisno bisa menjadi ojek bagi kami. Jadi kami tidak perlu repot. Kami baru berangkat jam 5 kurang dari rumah pak Trisno. Dan tahukah Anda? Itu adalah estimasi waktu paling baik untuk melihat sunrise (jika nampak). Jika berangkat jam 3, akan terlalu lama menunggunya keluar plus beku kedinginan.

Lalu kami pun berkeliling ditemani oleh Pak Trisno. Dijelaskan ini itu olehnya. Jadi kami malah dapat guide gratis. Ahaha.

Begitulah perjalanan kami yang berjalan ‘dengan sendirinya’ penuh dengan kemudahan-kemudahan. Alhamdulillah. Begitu juga dengan perjalanan pulang. Dari elf, langsung ada bus tujuan Surabaya. Lalu di Terminal Surabaya, kami langsung naik bus menuju Gresik. Tepat mendapat bangku yang terakhir. Penumpang yang naik setelah  kami berdiri. Begitulah, berasa mendapat dukungan sepenuhnya dari alam.

Hal penting yang tak ingin saya lewatkan untuk menulisnya adalah tentang salah satu impian saya. Yaitu mendaki Bromo. Saat menunggu mobil elf berangkat, saya sambil membaca kumpulan cerpen buatan Mas Tofik Pram ‘Filosofi Nasgor’. Dan itu, seolah alam menjawab. Saya acak membuka dan tepat pada bagian mimpi. Saya jadi berkeyakinan kalau Tuhan membimbing Mas Pram menulis rangkaian kalimat tersebut (salah satunya) adalah untuk saya saat itu. :p

Semoga. Selain direstui, semoga perjalanan pembolangan kami juga dibarokahi. Amin!

di kawasan pasir berbisik

di kawasan pasir berbisik

NB : foto yang benar ada di postingan selanjutnya.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in My Journey and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Bromo #Just For Fun

  1. Pingback: Bromo #Promo | Dyah Sujiati's Site

  2. jampang says:

    memang…. dalam hidup lebih banyak kemudahan dibanding kesulitan…. hanya dari sisi mana kita mampu melihatnya

    *sok bijak*

  3. Pingback: Bromo #Photo | Dyah Sujiati's Site

  4. aqied says:

    ouch bromooo masih dendam sama itu gunung.

  5. Pingback: Pesona Bromo | Dyah Sujiati's Site

  6. nats says:

    jadi pengen nasi goreng😀 ####

  7. Pingback: Pantai Indrayanti – Jogja | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s