Aku Ingin

[flashfiction]

Perkenalkan, namaku Susanti. Usiaku 15 tahun, seorang siswa SMP, dan tinggal di Kendal, Jawa Tengah. Keluargaku tergolong tidak mampu yang itu mengindikasikan aku tidak lagi bisa melanjutkan studiku. Padahal aku sungguh-sungguh ingin melanjutkan pendidikan lalu bisa meningkatkan derajat ekonomi keluargaku. Tapi kalau keadaannya seperti ini, aku mulai ragu.

Sebagai seorang berprestasi di sekolah, meski baru di bangku SMP, aku telah mengenal rencana hidup. Dan saat ini aku sedang membuat rencana untuk masa depanku. Paling tidak, ini masuk rencana jangka pendek. Jika terpaksa aku tak bisa langsung melanjutkan ke bangku SLTA, aku telah punya rencana.

Aku melihat orang-orang di sekelilingku yang terlihat hidup cukup sejahtera yang tergambar melalui rumahnya yang nampak cukup nyaman, pakaian yang indah dipandang, juga tak pernah terdengar bermasalah dengan makanan. Aku mengingat satu per satu rumah di jalan desa ini. Mereka yang nampak sejahtera -sebagaimana kriteria yang tadi kusebut- adalah seorang guru, bidan, karyawan, pegawai, dan pedagang. Tapi untuk jadi seperti mereka tentu dibutuhkan waktu, biaya, dan proses. Dan itu justru kendala utama yang menghadangku.

Oh ya ampun! Bukankah yang tinggal di ujung jalan itu Mbak Lea? Orangnya cantik karena sering ke salon. Rumahnya bagus, pakaiannya mewah, sering diantar mobil keren, dan pastinya banyak uang. Hanya saja, dia bekerja di sebuah lokalisasi.

Setahuku, dia bukan lulusan universitas. Ah apalah artinya lulusan sekolah tinggi kalau hanya dilegalkan dengan selembar ijazah? Bukan dengan sikap, perilaku, dan pemikiran mereka yang seharusnya mencerminkan tingkat pendidikannya. Kadang betapa sulit membedakan para pejabat yang berijazah SMA dengan S3. Ya sudah, aku tidak ingin memikirkan mereka. Aku masih harus membuat rencana masa depanku.

Hey, bukankah pekerjaan Mbak Lea itu bisa dipertimbangkan? Peduli setan dengan gunjingan tetangga. Yang penting kan bisa hidup enak. Toh nyatanya Mbak Lea tak ambil pusing. Bukankah dengan kekayaan itu aku bisa membahagiakan keluargaku yang miskin? Hmmm bukankah itu sama artinya dengan menjadi pahlawan keluarga? Sepertinya menarik.

Eh tapi aku jadi teringat walikota Surabaya yang berjuang keras untuk menutup lokalisasi di sana. Bagaimana jika itu terjadi di Kendal sini? Kurasa masih aman. Kepala daerahku, bahkan tidak setuju kalau daerah itu ditutup. Katanya kalau daerah itu ditutup, pekerjanya bisa ada di jalan-jalan dan itu akan meningkatkan penyebaran HIV. Katanya juga, jika daerah itu ditutup, pekerjanya harus diberi pekerjaan pengganti yang mendatangkan omset sama. Karena kalau omsetnya kecil, mereka bisa kembali lagi ke daerah itu.

Bukankah itu artinya kepala daerahku mendukung pekerjaan seperti Mbak Lea? Aku gadis 15 tahun yang berprestasi di sekolah. Setidaknya aku harus membuat sedikit analisis untuk rencanaku ini agar nampak sedikit elegan.

Pertama, yang terlihat menarik adalah kata yang terdengar ilmiah, HIV. Aku telah belajar di sekolah bahwa itu adalah sejenis virus yang mematikan yang penyebarannya paling mudah dan dominan melalui seks bebas. Bekerja seperti Mbak Lea jelas resiko tertular dan menularkan virus tersebut. Itu berarti lokalisasi adalah salah satu tempat potensi penyebarannya.

Kekhawatiran orang-orang seperti Mbak Lea akan berada di jalan-jalan jika lokalisasinya ditutup, kelihatan sangat logis. Padahal sejatinya itu adalah pelegalan tempat penyebaran virus. Ibaratnya, dari pada jajan sembarangan mending di tempat yang disediakan. Kalau ‘biar tidak jajan sembarangan bertujuan menghindari HIV’ itu dianalogikan membuang sampah, sama halnya dengan membuang sampah di halaman rumah. Bukan di tempat yang semestinya. Jadi apakah itu masih logis?

Kedua soal pekerjaan. Katanya ada yang jadi penjahit lalu karena order sepi jadi kembali ke lokalisasi. Jadi setidaknya, pekerjaan pengganti harus mendatangkan omset yang sama. Oh ibu! Mungkin inilah penyakit dasar itu. Orang-orang maunya instan dan alergi dengan proses. Segala cara ditempuh, tak peduli dengan resikonya.

Kedua masalah itu bukankah seharusnya menjadi tanggung jawab kepala daerah untuk memberikan solusi jitunya? Setidaknya melalui pendidikan dan pembinaan mental. Oh mungkin, menemukan orang yang bisa mendidik dan membina itu yang sulit didapat.

Terakhir soal perasaan. Kadang aku mencoba menempatkan diri seolah orang lain. Cara ini cukup membantu melatih kecerdasan otak dan hati sekaligus. Bagaimana jika aku adalah seorang istri yang suaminya tidur bersama orang seperti Mbak Lea? Bagaimana jika aku seorang ibu yang anak lelakinya ‘bermain-main’ dengan orang seperti Mbak Lea? Dan bagaimana jika aku anak dari seorang ayah yang menghabiskan waktunya bersama orang seperti Mbak Lea? Jadi siapakah yang lebih humanis, yang mendukung pekerjaan Mbak Lea atau yang melarangnya? Siapa di antara mereka yang tidak berperi kemanusiaan?

Aku pernah mendengar orang mengatakan kalau bekerja seperti Mbak Lea jauh lebih terhormat daripada menjadi koruptor. Ya ampun, dengan rendah hati kukatakan, logika mereka telah keseleo. Yang tadinya di dengkul telah pindah ke telapak kaki.

Tapi, peduli setan dengan semua itu. Bukankah di negara ini maunya segala sesuatu dianggap relatif? Bukankah menurut orang-orang seperti kepala daerahku, menjadi pelacur itu demi keluarga? Lagipula nyatanya orang-orang yang bekerja seperti Mbak Lea juga tak ambil pusing. Mereka tetap hidup di masyarakat seperti orang pada umumnya.

Baiklah, malam ini sudah larut. Aku sudah membuat keputusan. Pelegalan dari orang nomer satu itu kurasa lebih dari cukup. Dan aku memutuskan setelah lulus akan bekerja seperti Mbak Lea. Menjadi pahlawan keluarga. Tinggal bilang pada ibu, kalau aku ingin menjadi pelacur. Semoga ibu merestui.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Aku Ingin

  1. lazione budy says:

    Salah kaparah dunia gila!

  2. rinisyuk24 says:

    hmmmm saya semakin kagum sama Bu Risma dan Pak Ridwan Kamil (walikota Bandung), bahkan istri Pak walikota ini, menjadi ketua PKK yang salah satu program dalam menangani penyebaran virus HIV ini dengan program ketahanan keluarga. Bahwa solusinya bukan hanya menutup lokalisasi, tapi jauh sebelum itu, pembinaan terhadap akhlak keuarga. Sehingga, ketika akhlak keluarga sudah terbina dengan baik, setiap anggota keluarga tidak akan tertarik pada lokalisasi itu. Jika sudah tidak ada demand, maka supply ‘orang-orang’ yang hidup dari lokalisasi tidak akan banyak, karena demandnya semakin sedikit. Kata bapak walikota ini juga, rumah adalah home sweet home, dimana tempat cinta kita dilabuhkan. Ketika setiap orang sudah nyaman berada di rumahnya masing-masing, mereka tidak akan mencari kenyamanan di luar. Terlepas dari kondisi sesulit apapun yang menerpa keluarga, dari segi ekonomi misalnya. Ketika rumah sudah menjadi tempat terbaik untuk menjalani kehidupan, tidak akan ada Susanti lain yang berpikir seperti itu. Mereka akan membersihkan rumah dengan baik, dan sampahnya dibuang pada tempatnya, bukan dibuang ke halaman. Maka rumah bersih, halaman pun bersih. Panjang banget ya, maaf maaf🙂

  3. jampang says:

    yang pinter malah keblinger

  4. Imajinasimu keren Dyah. Apalagi pola tulisannya. Istilah jawanya: “temoto”. Nulis dong di VS. Siapa tau dimuat🙂

  5. Omg sudah rusak kan moral anak bangsa sekarang🙂 Pendidikan agama wajib di tanamkan sejak kecil

  6. nats says:

    hihihi… i love so much !!😀

  7. My brother suggested I might like this web site. He was totally right. This put up truly made my day. You can not imagine simply how a lot time I had spent for this information! Thank you!

  8. So, you can understand well that an old book is nothing more than one published several decades or may be a century ago and antique books are those which people rpp kurikulum 2013 would like to spend their money for.

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s