Masih Pantaskah?

Siang tadi, saya sedang di rumah kakak berdua dengan keponakan. Tiba-tiba ada salam terdengar. Ternyata adalah seorang ibu paruh baya yang meminta derma. Dia masih terlihat sehat dan kuat. Dan seperti biasa, kami tidak akan sedekah pada si ibu. Kami lalu melihat si ibu berjalan dari pagar rumah. Dia masih berjalan dengan baik.

Tak sampai lima menit berselang. Terdengar suara benturan yang keras. Rupanya tumbukan ember dengan ember yang dijual. Merupakan cara penjual menjajakan dagangannya sekaligus mengiklankan kuatnya produk ember yang ditawarkan. Suara itu makin keras karena penjualnya semakin dekat. Tampaklah beliau. Seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun. Kurus meski tidak terlalu kering. Wajah kelelahan terpancar. Beliau menggendong dan menyunggi ember berbagai ukuran. Saya taksir berat seluruh bawaannya lebih dari 10 kg.

Dan taraaaa! Kami hampir menangis! Lho kok?

Ibu pengemis masih di gang sebelah dan pak penjual ember tepat di depan rumah kakak. Dua orang itu adalah komparasi yang baik tentang kehidupan, cara pandang, dan cara menjalani hidup. Hanya satu pertanyaan yang kemudian muncul di pikiran saya, masih pantaskah kita mendermakan receh kepada si ibu itu? Sekedar ‘mencari posisi aman untuk diri sendiri’?

Baiklah, mungkin di antara kita masih ada yang berprinsip ‘yang penting sedekah’, ‘yang penting niat saya baik, mau apa itu urusan orangnya’, dan dan seabrek prinsip serupa. Maaf ya sebelumnya, saya katakan bahwa itu adalah representasi sikap egois dan apatis. Bagaimana tidak? Wong yang dipikirkan yang penting diri sendiri kan?

Padahal, kalau kita mau sedikit saja membuka ruang empati di hati kita, akan banyak alasan untuk tidak sembarang sedekah. Oh ya. Sedekah itu bukan sekedar yang penting sedekah. Sedekah itu ada ilmunya. Tenang saja, kita tidak akan kekurangan tempat untuk sasaran sedekah kita. Ada banyak sekolah dan lembaga pendidikan yang kritis. Ada banyak anak-anak berprestasi yang telah ditinggal pulang ayah mereka  dan terpaksa putus sekolah. Ada banyak lelaki tua renta yang masih keliling menjahit sandal guna menghidupi anak-anaknya yang masih belum dewasa. Dan masih banyak pilihan lain yang lebih realistis. Atau kalau Anda merasa kesulitan, bisa dititipkan ke lembaga amil zakat. Insyaallah mereka bisa dipercaya.

Kembali soal pengemis dan prinsip ‘yang penting niat saya sedekah!’. Oke lah, ada baiknya kita perhatikan dua hal berikut ini.

1. Himbauan dari dinas sosial. Bahwa memberi pengemis sama saja dengan membuat mereka semakin malas dan tergantung. Jika kasihan, berdayakan mereka!

2. Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Hibban yang berbunyi “Siapa yang meminta-minta padahal ia mampu maka sesungguhnya ia hanya memperbanyak untuk dirinya bara api jahanam.”

Nah lho? Apakah kita mau sedekah kita jadi bara api buat orang lain? Kalau iya sih berarti namanya jahat.😦

Berikut adalah sedikit tips untuk memperlakukan pengemis.

1. Jika pengemis masih muda dan sehat wal afiat.

Saya cukup mengatakan ‘tidak’ tanpa maaf. Biar dia sadar kalau perbuatan dia bukan perbuatan baik. Kalau kebetulan dia datang ke rumah, bisa beri dia minum. Lalu sempatkan ngobrol sebentar. Obralkan kalimat motivasi sebanyak-banyaknya agar dia mau berubah. Ini cocok sekali bagi Anda yang punya prinsip ‘tidak mau memulangkan pengemis dengan tangan kosong’. Atau juga bagi Anda yang berprinsip ‘harus bersedekah kepada siapa pun pengemis’. Nah ini lah bentuk sedekah yang cocok dan baik buatnya.

2. Jika pengemis itu adalah nenek-nenek atau kakek kakek yang tua renta:

Saya akan ajak makan atau saya beri makanan. Jika ia menerima berarti dia memang butuh untuk makan. Tapi jika dia menolak apalagi mengomel berarti memang sudah menjadi pekerjaannya sejak muda.

3. Jika pengemis itu anak-anak.
* Keadaannya memungkinkan :

Saya akan duduk di sampingnya. Mengajaknya ngobrol dan sedikit men-training dan memotivasinya agar dia mau berubah. Soal dia nantinya berubah atau tidak, itu sudah urusan dia dan Dia. Saya hanya berusaha ‘menggunakan lisan’ ini mengubah keadaan. Karena sejauh ini saya belum bisa ‘menggunakan tangan’. Mungkin saja melalui pertemuannya dengan kita, Allah memberinya semangat,😉

*Keadaannya tidak memungkinkan : Saya cukup mengatakan ‘tidak!’.

Jadi, kalau kita mengaku (atau setidaknya ingin) peduli pada lingkungan, masih pantaskah melempar lembaran ataupun recehan rupiah pada peminta-minta jenis 1 dan 3?

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Kontemplasi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Masih Pantaskah?

  1. Ridwan says:

    Bagaimana dengan pengemis cinta?

  2. Bagus!
    Jangan kuatir kehabisan ladang tempat beramal.

  3. Haya Najma says:

    keren, mbak. kalo aku sih udah tak tinggal, hehehe

  4. lazione budy says:

    kamu dari dulu seneng banget bahas pengemis.
    perhatian bangeeeeet, sampai saya dicuekin coba?
    Hufh…

  5. Pingback: Loe Punya Otak Kagak? [1] | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s