Histrionik

Perkembangan teknologi dan produk sebagai output-nya, membawa banyak hal sebagai konsekuensi. Salah satunya adalah semakin banyak fitur jejaring sosial dengan spesifikasinya masing-masing. Menurut hemat saya, hal yang selalu ada pada setiap jejaring sosial adalah menu profil. Sebut saja facebook, twitter, google plus, yahoo messenger, blackberry messenger, whatsapp, instagram, bahkan fitur blog juga menyediakan tempat khusus untuk show up who are you. Di sana tak ketinggalan tempat untuk meletakkan foto. Nah, tempat foto inilah, yang merupakan salah satu pembawa konsekuensi dan efek samping cukup signifikan.

Salah satu fenomena akibat adanya tempat untuk penyaluran bakat terpendam itu adalah narsis yang semakin tragis. Tak heran kalau narsis itu dipahami sebagian orang dalam bentuk yang ditunjukkin melalui foto berbagai gaya dengan memonyongkan bibir, menembemkan pipi, gaya miring 45 derajat, dan kombinasi efek putih-belo. Padahal sebetulnya, kalau Anda kenal dengan Narcissus, orang yang dianggap paling bertanggungjawab dengan kata narsis, narsis lebih dramatis dari itu. Tapi dalam hal ini, visualisasi narsis seperti yang dipahami sebagain besar orang justru merupakan wujud dari salah satu jenis penyakit jiwa yang disebut histrionik. Itulah tragisnya.

Fenomena narsis yang akut (kalau saya tidak boleh menyebutnya tragis) terbukti dari makin ramainya foto-foto ‘selfie’ yang diunggah oleh subjek penderita. Subjek penderita adalah seseorang yang sulit mengendalikan hasratnya untuk berkali-kali memotret diri sendiri. Baik foto sendiri maupun minta tolong orang lain. Lalu ia segera mengunggah di jejaring sosial miliknya. Menurut dokter ahli spesialis penyakit jiwa yang mengisi acara Dr. OZ, kondisi narsis tragis seperti itu disebut Histrionic Personality Disorder.

Histrionik merupakan salah satu jenis penyakit jiwa atau gangguan kepribadian. Histrionik menurut kamus kesehatan berarti  gangguan di mana seseorang terlalu mencemaskan penampilan mereka, selalu mencari perhatian, dan sering berperilaku dramatis dalam situasi yang tidak diperlukan. Ekspresi emosional orang dengan gangguan kepribadian histrionik seringkali dinilai sebagai dangkal dan berlebihan.

Contoh hal yang muncul akibat dari histrionik, selain fenomena narsis ala selfie adalah :

1. Misal seseorang yang tertangkap polisi karena dia tidak memakai helm, dia akan berteriak-teriak, “Itu juga nggak pakai helm kok nggak ditangkap?!”

2. Ada beberapa orang cerdas dan penyayang lingkungan yang ingin hidup damai dan sentosa di negara Indonesia tercinta. Mereka berusaha menjaga ketertiban dari pengaruh buruk dan laten dari goyang oplosan. Nah? Orang yang menderita histrionik justru berkata, “Kalau goyang gergaji boleh kok goyang oplosan nggak boleh?”
Padahal mana ada orang cerdas dan peduli yang mengizinkan goyang gergaji?

3. Pada sebuah kasus VMJ. Saya curiga, VMJ menyebabkan histrionik. Penderita VMJ ini biasanya telah memasang tameng dengan sikap yang kurang bersahabat sehingga orang yang mau mengajaknya berdiskusi jadi merasa tidak enak hati. Sebetulnya dia tahu kalau sedang berada di trek yang tidak benar, tapi enak rasanya. Jadi dia enggan untuk dikembalikan ke trek yang seharusnya. Nah, karena dia tidak mau pindah itulah, dia melakukan hal yang tidak rasional.

4. Maling yang ketahuan lalu dia berteriak maling dengan menunjuk tuan rumah. Ini histrionik yang ekstrim. Tapi kenyataannya, hal ini banyak sekali lho. Orang-orang yang menderita phobia pada Islam melakukannya. Mereka mengatakan orang Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya dan memperjuangan kembali haknya, sebagai pemberontak. Mana ada pemberontak di tanah sendiri? Mereka, penderita histrionik yang lain mendengungkan kata kebebasan. Setiap orang bebas untuk melakukan apapun yang dia mau. Bebas untuk anarki, bebas memaki, bebas merusak tatanan, bebas mengganggu ketenangan orang lain. Orang melakukan apapun tidak boleh dikatakan salah. Lalu saat ada yang berbaik hati mencoba memperbaiki keadaan malah disalahkan dan dituduhnya melanggar HAM. Lho bukankah tadi katanya setiap orang boleh melakukan apa pun atas dasar kebebasan?

Begitulah, sebuah penyakit jiwa yang istilah medisnya histrionik. Perwujudannya seperti sesuatu yang nampak alami dan maklum. Dan itulah tragisnya. Jadi? Apakah kita mau menjadi bagian dari orang yang mengalami gangguan kejiwaan?

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Opini and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Histrionik

  1. jampang says:

    jawaban saya… tentu tidak😀

    <—— ini narsis juga yah?

  2. Mungkin tanpa kita sadari bahwa terkadang mengalami gangguan tersebut, tapi belum tingkat akut.. Hehe

  3. rinisyuk24 says:

    berarti mereka yg mengagungkan kebebasan yang kebablasan itu, sebenernya mengidap penyakit jiwa ya?

  4. pinkvnie says:

    Tentu saja tidak … tp narsis dikit tdk knp2 lah …

  5. lazione budy says:

    ya termasuk, kalau ga termasuk bukan di sini tempatnya,
    sana keluar negeri..

  6. Galuh Nindya says:

    Sujiiii.. aktif banget euy nulisnya. Super!

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s