Bangun Cinta

Gegara saya ngobrol tidak jelas arah, saya jadi menemukan sebuah istilah untuk suatu analogi yang baik. Bangun cinta. Eyaaa dengar kata cinta aja udah gimanaaa gituuu! *lebay

Frase bangun cinta pertama saya dapat dari ustad Salim A. Fillah, entah di buku beliau yang berjudul apa. Kemungkinan besar bukan di buku yang berjudul ‘Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah’. Yang jelas, buku itu telah sukses membuat saya memahami makna cinta yang kemudian terjawantah dalam keyakinan, pola pikir, dan sikap saya.

Dari pada jatuh cinta, saya pilih bangun cinta

Nah, ngomong-ngomong soal bangun cinta, yang saya maksud di sini adalah cinta di antara dua orang yang sebelumnya terpisah lalu bersatu guna membentuk kesatuan rumah tangga. Dari dulu, saya memang belum menemukan definisi yang paling mewakili kata cinta. Intinya sih, saya tidak sedang menulis tentang cinta antara ibu (orang tua) kepada anak, atau cinta kakak ke adik, cinta kepada sahabat, atau cinta kepada uang, barang, dan hewan piaraan. Karena memang makna cinta yang teramat luas itu. Saya merasa berdosa kalau memaknai cinta hanya seukuran frame dua orang semata.

Mudahnya, dua orang yang tadinya bukan siapa-siapa itu harus bersama untuk mengarungi hidup di sisa umurnya. Sebut saja, mereka berumah tangga. Dengan apa mereka bisa hidup bersama? Ya dengan cinta. Is not it?

Nah, membangun rumah tangga dengan cinta ibarat membangun sebuah bangunan atau rumah di atas sebuah tanah. Untuk bisa mulai membangunnya yang pasti kita harus punya izin untuk membangun. Harus ada kepastian bahwa tanah itu benar-benar milik kita. Tidak lucu kan kalau misal kita membangun sesuatu di atas tanah yang tidak jelas milik siapa? Resiko besar bakal digusur. Kalaupun nantinya tanah itu jadi milik sendiri, tanah itu tak lagi original. Ada puing-puing masa lalu.

Ukuran dan kestrategisan tanah adalah hal yang nampak jelas di mata. Sebelum kita mendapat surat membangun, kita berhak (bahkan wajib) mencari tanah terbaik. Tapi tidak berhak sama sekali melakukan apa pun sebelum dapat surat izin membangun.

Surat izin membangun itu adalah akad nikah. Begitu dapat  surat tersebut, kita resmi untuk mulai membangun di atas tanah itu. Memulai segalanya dari awal bersama-sama. Inilah sejatinya ‘bangun cinta’ itu. Dan saya pun pilih bangun cinta! Yihi!

Oh ya, sekedar tambahan. Kita tidak bisa menafikan bahwa orang jaman dahulu, memaknai cinta dengan begitu sederhana. Mereka mungkin belum mengenal istilah bangun cinta. Tapi mereka telah mempraktekkan hal itu. Dan nyatanya hal yang mampu memisahkan mereka adalah maut. Sebuah hal menarik baru saja terpikir oleh saya. Tidakkah Anda merasa kalau saat ini tren pacaran yang cenderung naik justru berbanding lurus dengan naiknya angka perceraian?

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Cinta and tagged , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Bangun Cinta

  1. rinisyuk24 says:

    Bukunya juga ada, jangan jatuh cinta tapi bangun cinta, penulisnya Setia Furqon Kholid. Sayangnya, aku belum baca buku itu. Demikian sekilas info🙂

  2. jampang says:

    kayanya saya pernah baca tentang bangun cinta… di sini apa bukan yah? terus saya kasih komentar kalau saya menyebutnya dengan istilah membangkitkan cinta dalam sebuah tulisan

    *binun*

  3. ayanapunya says:

    Setujuuu. Menurutku malah sebenarnya kita bisa mengontrol rasa cinta yang kita miliki. Entah itu mau ditumbuhkan atau dikurangi

  4. xrismantos says:

    Ngobrol ngga jelas jadi tulisan. Hebat!😀
    Kebanyakan orang pacaran filosofinya adalah mencari yang terbaik. Dengan begitu maka tanpa disadari, seterusnya dia akan terus mencari dan tak akan pernah puas, bahkan sampai menikah. Begitulah kira-kira penjelasan ilmiah (alias ngawur) mengapa banyak orang bercerai.

  5. lazione budy says:

    saya hanya bisa bilang: good luck!

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s