Konvensional

Sepertinya sudah cukup lama saya tidak curhat di diary ini. *diary? Cuih!* Jadi menurut saya tidak masalah kalau sesekali saya isi diary ini dengan sesuatu tentang saya.

Kadang kala dan dalam hal tertentu saya menyikapi sesuatu dengan cara yang berbeda. Contohnya begini, di jaman serba twitter dan facebook, saya adalah orang yang tidak memiliki keduanya. Banyak yang nyinyir dan kadang menyalahkan juga. Tapi saya justru merasa keren. (?)

Hal yang serupa, adalah tentang hp saya. Saya memiliki hp pertama kali saat kelas 3 SMA. Mereknya Siemens A50. Itu adalah hp bekas kakak saya yang dia hibahkan pada saya. Hp itu hanya melayani sms dan telpon. Selain ada game yang saya sukai yaitu stack-attack! Hp itu hanya dua warna. Latarnya berwarna orange dan tulisannya berwarna hitam. Sementara saat itu memang belum semua teman memiliki barang bernama hp. Tapi bagi yang sudah memiliki, sebagian besar lebih oke lah dari pada hp saya. Setidaknya bisa untuk radio atau mendengarkan musik.

Hp itu setia menemani saya sampai saya dipaksa membeli hp kakak saya yang dia sudah bosan. Alias memang sudah menyedihkan. Kalau ditelepon harus sambil dicharger. Karena kalau tidak, dia bisa langsung mati. Jadi ke manapun saya pergi, saya selalu membawa charger. Tragisnya. Hp kedua itu merknya Sony Ericsson.

Kondisi si Sony itu makin lama makin kritis. Akhirnya pada bulan Mei tahun 2010, menjelang wisuda, saya membeli hp baru. Samsung yang paling sederhana. Dia cukup melayani sms dan telpon. Baterainya awet dan kuat. Inilah hp yang saya butuhkan. Saya telah berniat dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjaganya dengan sepenuh hati dan sekuat jiwa raga. Saya benar-benar sangat mencintainya dan ingin bersamanya selamanya.

Makin lama, model hp makin beragam dan fitur yang disediakan pun makin beragam juga. Saya dan hp, kami sering mendapat cibiran. Hampir semua teman saya menyuruh saya mengganti hp. Beberapa teman yang telah memiliki wattsap sibuk bertanya dan promosi enaknya wattsapan. Lalu saya? Tetap tidak bergeming dan justru merasa keren dengan hp yang konvensional itu.

Namun apa daya, mungkin hp itu jengah dengan kritikan orang-orang. Atau mungkin dia malu bersanding dengan saya. Atau entahlah. Dia akhirnya pergi. Ikut orang dengan cara tidak wajar. Alias kecopetan saat di bis. Ini adalah penampakannya.

image

Berita kecopetan hp yang menyedihkan bagi saya, justru menjadi berita yang menyenangkan bagi teman-teman saya. Ya salam! Jahat sekali mereka. Akhirnya saya membeli hp baru merk Samsung untuk dua kartu. Dan secara umum, hp itu tetap hanya melayani sms dan telpon. Haha. Cuma ada tambahan kamera dan sudah bisa menerima MMS. Hp Sony sebetulnya sudah bisa MMS, tapi memang kondisinya sudah tragis sejak awal.

Jadi hp baru itu sebetulnya juga masih konvensional. Haha. Dan makin hari, yang menanyakan wattsap saya makin banyak. Saya tetap teguh pendirian. Saya mencintai yang konvensional. Sampai suatu hari, Mr. Edwin bertanya, “you got whatsapp?”

Saat itulah, kegalauan bagai badai yang menerpa tanpa permisi. Apakah sepenting itu? Apakah saya butuh? Apakah apakah apakah? O tidaaak!

Saya bimbang dan akhirnya saya putuskan untuk istikharah. *ya elah, sebegitunya?* Saya pun memohon doa restu pada ibu untuk keberkahan hp yang akan saya beli. Saya pasrah pada Yang Di Atas, kalau hp itu baik bagi saya dan rangkaian takdir yang terkait dengan saya, saya yakin akan diberi kemudahan.

Kenapa saya bisa segalau itu? Yang jelas, karena saya masih mencintai sesuatu yang konvensional. Haha.

Akhirnya, jalannya memang mudah. Saya dapat hp yang bisa untuk whatsappan. Begitu wattsap terpasang, beberapa pesan langsung masuk selama beberapa hari.

Sujiiii, akhirnya punya wattsap juga

Bu dokter… Akhirnya… *sujud syukur*

Cie cie

Wah Dyah Sujiati sudah beli whatsapp

Dan lain-lain yang saya lupa redaksionalnya.

Setelah itu, ada beberapa hal yang terjadi ternyata. Pertama saya pasang page Contact Me. Dari sana, hal yang sangat sederhana itu, Alhamdulillah menjadi bagian dari rangkaian takdir orang lain yang tidak sederhana. Dan itu beberapa orang.

Lalu setelah itu saya install WordPress. Manfaatnya jelas banyak. Saya bisa langsung menulis apa pun yang terpikir dan ingin ditulis. Nulisnya bisa sambil tiduran, sambil makan, sambil berdiri di bis, bahkan sambil mencuci! Jadi tak perlu repot pakai lepi.

Selain itu saya juga bisa membicarakan banyak hal melalui menu chatting. Baik whatsapp, yahoo messenger, maupun email.

Demikianlah curhat di diary ini tentang hp. Ada tiga hal yang saya yakini dan menjadi pembelajaran juga buat saya. Pertama tentang doa. Doa adalah senjata seorang mukmin dan dia bisa mengubah takdir. Jika waktu itu saya asal beli, tak melibatkan doa, bisa jadi saya tidak merasakan ‘keberkahan’ yang Allah berikan. Akan merasa biasa saja lah, sehingga belum tentu saya akan sebersyukur saat ini.

Kedua tentang rangkaian takdir. Selama ini saya dengan keteguhan hati mempertahankan kekonvensionalan benda yang saya miliki ternyata gugur hanya karena pertanyaan santai Mr. Edwin. Lalu setelahnya, ada banyak peristiwa yang terjadi. Itulah rangkaian takdir.

Ketiga adalah pelajaran tentang jodoh. Kemudahan saya untuk membeli hp yang tidak lagi konvensional, bisa menjadi analogi ketika seseorang dipertemukan dengan jodohnya. Akan ada ‘kemudahan’ di luar rasionalitas. Seolah ada ‘tangan’ yang bergerak dan membuat segala sesuatu menempati posisinya masing-masing dengan sendirinya. Wallahualam.

–**–

Cheers ^___^
Dyah Sujiati

About Dyah Sujiati

Tentang saya?! Seperti apa ya? Entahlah. Kalau saya yang nulis, pasti cuma yang baik-baik saja. Dan itu sulit dipercaya. ;) *Tapi harus percaya kalau saya seorang bloger yang tidak punya facebook*
This entry was posted in Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Konvensional

  1. ayanapunya says:

    Kalau aku memang dari dulu suka hape tipe smartphone. Banyak manfaatnya soalnya🙂

  2. jampang says:

    hp pertama saya nokia 2100😀

    eh sekarang nongol lagi iklan nokia di tipi

  3. Wkwk…hape jebot tuh mbak

  4. xrismantos says:

    Jadi intinya, udah ketemu sama jodohnya nih? Hehehehehe…

  5. Pingback: Diramal | Life Fire

Thanks For Read :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s